Setiap hari, kita membuka keran dan air mengalir begitu saja. Sesederhana itu, sampai kita lupa bahwa bagi miliaran orang lain di dunia, hal sesederhana itu adalah perjuangan harian yang panjang dan melelahkan.
Menurut laporan gabungan WHO dan UNICEF yang dirilis pada World Water Week 2025, sekitar satu dari empat orang di dunia, atau sekitar 2,1 miliar jiwa, masih belum memiliki akses terhadap air minum yang dikelola secara aman.
Angka ini termasuk 106 juta orang yang bahkan masih meminum langsung dari sumber air permukaan yang belum diolah sama sekali.
Bukan hanya soal air minum, sekitar 3,4 miliar orang di dunia juga masih belum memiliki akses sanitasi yang dikelola secara aman, dengan 354 juta orang di antaranya masih harus buang air besar sembarangan karena tidak memiliki fasilitas yang layak.
Laporan World Water Development Report 2026 dari UN-Water bahkan menyoroti satu fakta yang sering luput dari perhatian: setiap harinya, perempuan dan anak perempuan di berbagai belahan dunia menghabiskan waktu setara 250 juta jam hanya untuk mengumpulkan air.
Bayangkan berapa banyak waktu belajar, bekerja, atau beristirahat yang hilang begitu saja, hanya karena air bersih tidak tersedia di dekat rumah mereka.
Skala krisis kelangkaan air bahkan jauh lebih luas dari sekadar soal akses air minum yang aman. Data dari UN-Water mencatat bahwa hampir empat miliar orang, atau sekitar dua pertiga populasi dunia, mengalami kelangkaan air yang parah setidaknya selama satu bulan dalam setahun.
Sekitar 1,42 miliar orang, termasuk 450 juta anak-anak, tinggal di wilayah dengan kerentanan air yang tinggi hingga sangat tinggi.
Dampaknya pun tidak main-main. Kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang layak menjadi penyebab ratusan ribu kematian setiap tahunnya akibat penyakit diare, sebagian besar menimpa anak-anak di bawah usia lima tahun.
Krisis air juga berkontribusi terhadap masalah gizi buruk pada anak, terutama di wilayah-wilayah yang paling rentan seperti Afrika Sub-Sahara.
Mengapa Krisis Air Ini Menyangkut Hampir Semua Aspek Kehidupan?
Air memang sering disebut sebagai "penghubung super" (superconnector) dalam isu-isu pembangunan global, karena hampir semua sektor kehidupan bergantung padanya.
Ketiadaan air bersih memengaruhi kesehatan masyarakat secara langsung, menghambat anak-anak untuk bersekolah karena harus membantu mencari air atau justru sakit akibat air yang tidak higienis, membatasi produktivitas ekonomi keluarga, hingga memicu ketegangan sosial dalam perebutan sumber daya air yang semakin menipis.
Krisis iklim turut memperparah keadaan ini. Perubahan pola curah hujan, kekeringan yang makin sering terjadi, dan menyusutnya cadangan air tanah yang terbentuk selama ribuan tahun membuat krisis air semakin sulit diatasi tanpa intervensi serius.
Bahkan, proyeksi jangka panjang memperkirakan bahwa jika pengelolaan air tidak diperbaiki secara lebih adil, sebagian besar populasi dunia berisiko menghadapi kelangkaan air yang parah dalam beberapa dekade mendatang.
Setiap Tetes Perubahan Dimulai dari Aksi Nyata
Membaca deretan angka di atas mungkin membuat kita merasa krisis ini terlalu besar untuk bisa disentuh oleh individu biasa. Namun, kenyataannya, banyak solusi terhadap krisis air justru dimulai dari intervensi berskala komunitas: edukasi mengenai kebersihan dan sanitasi, pendampingan pengelolaan sumber air lokal, hingga kampanye kesadaran tentang pentingnya menjaga sumber daya air yang tersisa.
Inilah salah satu ruang kontribusi yang dibuka oleh AIESEC in USU lewat program Global Volunteer. Program ini mengirimkan mahasiswa untuk terlibat langsung dalam proyek-proyek pemberdayaan komunitas di berbagai negara, termasuk proyek-proyek yang menyentuh isu air bersih, sanitasi, dan kesehatan masyarakat, sejalan dengan semangat SDGs yang menjadi basis dari setiap proyeknya.
Sebagai volunteer, Kawan GNFI bisa terlibat dalam edukasi kebersihan dan sanitasi kepada anak-anak dan keluarga di komunitas yang membutuhkan, mendampingi program-program kesehatan masyarakat setempat, dan melihat langsung bagaimana intervensi kecil. Namun, konsisten bisa mengubah kualitas hidup banyak orang. Sebuah pengalaman yang jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar membaca statistik dari layar ponsel.
Air adalah hal paling dasar yang seharusnya menjadi hak semua orang, bukan kemewahan segelintir orang saja. Yuk, jadi bagian dari mereka yang memperjuangkan hak dasar itu, bersama Global Volunteer AIESEC in USU.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


