Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 104 UIN Walisongo Semarang sukses menyelenggarakan workshop pengolahan sampah bertajuk “ECOCREATE: From Waste to Wonder” di Balai Desa Lempuyang, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak.
Kegiatan yang digelar pada Selasa (25/8/2026) ini diikuti dengan penuh antusias oleh anak dari desa setempat, sebagai langkah nyata untuk menanamkan kesadaran pelestarian lingkungan sejak usia dini.
Mengusung makna "Dari sampah menjadi barang bermakna", program Ecocreate ini dirancang sebagai sarana edukasi yang interaktif. Anak-anak tidak sekadar diajak mendengarkan teori, melainkan didorong untuk langsung mempraktikkan proses daur ulang sampah organik dan anorganik.
Edukasi ini dinilai sangat relevan dengan permasalahan lingkungan saat ini, di mana kebiasaan membuang sampah sembarangan masih sering ditemui.

Caption
Untuk memaksimalkan penyampaian materi, kegiatan ini menghadirkan tiga dosen ahli dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Walisongo, yakni Ana Mardliyah, M.Si., Ulfa Lutfianasari, M.Pd., dan Kholidah, M.Sc. Kehadiran para akademisi ini didampingi secara langsung oleh para mahasiswa KKN, guna memastikan anak-anak dapat menyerap ilmu dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
Pada sesi pembuka, Ana Mardliyah memberikan pemahaman dasar mengenai perbedaan sampah organik dan anorganik serta penerapan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya peran anak-anak dalam menjaga kelestarian bumi dari lingkungan terkecil.
“Sampah yang biasanya langsung dibuang sebenarnya bisa kita olah menjadi barang yang bermanfaat. Melalui pemahaman yang benar terkait pemilahan sampah, kita sudah membantu bumi agar lebih bersih dan terhindar dari pencemaran. Langkah kecil dari adik- adik ini sangat berarti,” ungkap Ana Mardliyah.
Setelah pemaparan teori, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan produk kreatif berbahan dasar sampah anorganik. Anggota KKN divisi Kesehatan Lingkungan, Annisa Nila Ulfina dan Ismatul Maula, mendemonstrasikan cara mengubah tutup botol plastik bekas menjadi gantungan kunci yang unik dan bernilai estetika. Dengan pengawasan ketat dan bantuan dari anggota KKN lainnya, anak-anak diajarkan melelehkan potongan tutup botol menggunakan setrika yang dilapisi kertas anti lengket (baking paper), lalu mencetaknya ke dalam berbagai bentuk menarik.
Selain mengasah kreativitas, inovasi gantungan kunci ini juga disisipkan dengan edukasi wirausaha sederhana. Annisa menjelaskan bahwa barang bekas yang kerap diremehkan ternyata memiliki nilai ekonomi jika diolah dengan cermat.
“Sampah plastik tidak harus berakhir di tempat sampah. Dengan sedikit sentuhan kreativitas dan modal yang sangat minim, tutup botol bekas ini bisa memiliki nilai jual. Adik-adik bisa belajar mandiri sejak dini sekaligus mendapatkan uang saku tambahan dari hasil karya sendiri,” jelas Annisa di hadapan anak-anak yang tampak antusias.
Untuk menjaga fokus dan semangat peserta, acara diselingi dengan kegiatan ice breaking yang dipandu oleh Master of Ceremony (MC) dan moderator. Melalui permainan gerak dan lagu yang riang, suasana balai desa menjadi semakin meriah sebelum beranjak pada sesi praktik berikutnya yang membagi anak-anak ke dalam dua kelompok kerja.
Pada kelompok pertama, Khalidah, M.Sc. memandu pembuatan eco enzyme menggunakan sisa kulit buah dan sayuran yang dipadukan dengan gula dan air melalui perbandingan 1:3:10. Cairan hasil fermentasi selama tiga bulan ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair yang menyuburkan tanaman sekaligus mengurangi limbah rumah tangga.
Khalidah mengajak anak-anak agar kelak bersedia membantu orang tua mereka di rumah dalam mengelola sisa dapur menjadi cairan yang kaya manfaat tersebut.

pembuatan eco enzyme menggunakan sisa kulit buah dan sayuran
Sementara itu, kelompok kedua dibimbing oleh Ulfa Lutfianasari, M.Pd. untuk mengolah minyak goreng bekas (jelantah) menjadi lilin aromaterapi. Anak-anak diajarkan cara menjernihkan minyak jelantah menggunakan arang atau larutan maizena untuk menghilangkan bau tengik. Setelah itu, minyak yang telah jernih dicampur dengan pengeras seperti stearin, pewarna dari krayon bekas, serta minyak esensial. Hasil akhirnya adalah lilin cantik yang harum dan ramah lingkungan.
Respons positif dan keceriaan terlihat jelas pada raut wajah anak-anak. Salah satu peserta, mengungkapkan kegembiraannya karena berhasil membuat barang baru dari sampah. Ia pun bertekad untuk menerapkan ilmu tersebut di rumah dan melarang ibunya membuang minyak jelantah secara sembarangan.

Sebagai bentuk apresiasi atas keaktifan peserta, panitia membagikan doorprize dan mempersilakan anak-anak untuk membawa pulang karya gantungan kunci serta lilin aromaterapi yang telah mereka buat sendiri. Acara yang mendapat dukungan penuh dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Lis Setiyo Ningrum, M.Pd., ini ditutup dengan sesi foto bersama.
Ketua KKN Posko 104, Muh Fadhlur Rohman, menegaskan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang bagi perilaku masyarakat setempat. Mahasiswa yang akrab disapa Mamad tersebut berharap kesadaran lingkungan dapat terus berakar kuat.
“Harapan kami, edukasi ini tidak hanya berhenti di ruangan ini saja, melainkan adik-adik bisa terus mempraktikkannya di kehidupan sehari-hari. Lewat Ecocreate, kita belajar bersama bahwa menjaga bumi agar tetap bersih, sehat, dan bebas dari pencemaran adalah tanggung jawab kita semua, dan itu harus dimulai sedini mungkin,” tutupnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


