Hallo Kawan, GNFI! Pernah membayangkan galon air mineral bekas bisa berubah menjadi tempat sampah yang menarik? Hal sederhana itu dilakukan mahasiswa KKN MIT Ke-22 UIN Walisongo Semarang bersama siswa SDN 1 Wonokerto, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak.
Melalui kegiatan sosialisasi pemilahan sampah, mahasiswa KKN Posko 69 tidak hanya mengajak siswa memahami jenis-jenis sampah, tetapi juga mengajak mereka memanfaatkan barang bekas menjadi sesuatu yang berguna. Galon air mineral yang sudah tidak terpakai disulap menjadi tong sampah sekaligus media untuk menyalurkan kreativitas anak-anak.
Kegiatan ini menjadi cara mahasiswa KKN mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan dunia anak. Alih-alih hanya mendengarkan penjelasan, siswa diajak belajar, bermain, berdiskusi, hingga menghasilkan karya yang bisa digunakan kembali di lingkungan sekolah.
Mengenal Sampah dari Benda di Sekitar
Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pemilahan sampah. Mahasiswa KKN menjelaskan kepada siswa mengenai perbedaan sampah organik dan anorganik menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami.
Sampah organik dikenalkan melalui contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti daun kering, sisa buah, dan sisa makanan. Sementara itu, sampah anorganik diperkenalkan melalui benda-benda yang sering ditemukan di sekitar sekolah, seperti botol plastik, bungkus makanan, kantong plastik, dan kaleng.
Agar tidak terasa seperti pembelajaran di dalam kelas, mahasiswa KKN mengajak siswa berinteraksi secara langsung. Beberapa benda diperlihatkan kepada siswa, kemudian mereka diminta menentukan apakah benda tersebut termasuk sampah organik atau anorganik.
Suasana pun berlangsung cukup ramai. Siswa terlihat aktif menjawab dan sesekali tertawa ketika ada jawaban yang berbeda dari teman-temannya.
Dari kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mengetahui jenis sampah, tetapi juga mulai memahami bahwa setiap jenis sampah perlu diperlakukan dengan cara yang berbeda.
Dari Galon Bekas Menjadi Tempat Sampah
Setelah mendapatkan pemahaman mengenai pemilahan sampah, kegiatan dilanjutkan dengan sesi yang paling ditunggu siswa, yakni menghias tempat sampah dari galon bekas.
Galon air mineral yang sudah tidak digunakan sebelumnya telah disiapkan oleh tim KKN. Barang yang biasanya berakhir menjadi limbah tersebut kemudian dibersihkan dan diolah agar dapat digunakan sebagai tempat sampah.
Para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Mereka kemudian mendapatkan kuas dan cat dengan berbagai warna untuk menghias permukaan galon.
Satu per satu siswa mulai mencoba menghias tempat sampah. Ada siswa yang memilih menggambar pemandangan, pepohonan, hingga karakter yang mereka sukai. Ada pula yang menulis nama mereka sendiri.
Bagi anak-anak, kegiatan tersebut bukan sekedar mengecat sebuah galon. Mereka bisa bebas memilih warna dan gambar sesuai imajinasi masing-masing. Sementara bagi mahasiswa KKN, aktivitas tersebut menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan konsep reuse atau menggunakan kembali barang yang masih memiliki nilai guna.
Bukan Cuma Tempat Sampah Saja
Ada hal lain yang ingin ditanamkan melalui kegiatan tersebut, yaitu rasa memiliki.
Ketika siswa ikut membuat dan menghias tempat sampah yang nantinya digunakan di sekolah, mereka tidak hanya melihatnya sebagai benda biasa. Namun, ada hasil kerja mereka di sana.
Tempat sampah hasil kreasi siswa kemudian ditempatkan di sejumlah area sekolah yang mudah dijangkau. Beberapa di antaranya berada di sekitar ruang kelas dan area yang sering digunakan siswa.
Pembagian tempat sampah berdasarkan jenisnya juga menjadi pengingat bagi siswa untuk membuang sampah sesuai kategorinya.
Dengan begitu, pesan mengenai menjaga kebersihan tidak berhenti ketika kegiatan sosialisasi selesai. Hasil karya yang mereka buat tetap berada di lingkungan sekolah dan dapat digunakan dengan baik.
Kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa edukasi lingkungan bisa dilakukan dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Anak-anak tidak harus selalu mendapatkan materi melalui penjelasan panjang. Mereka bisa belajar dari benda yang ada di sekitar, kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Bagi mahasiswa KKN, kegiatan di SDN 1 Wonokerto menjadi salah satu bentuk keterlibatan mereka dalam mengenalkan kebiasaan baik kepada anak-anak di lingkungan desa.
Sementara bagi para siswa, galon bekas yang sebelumnya mungkin hanya dianggap sebagai barang tidak terpakai kini memiliki fungsi baru. Ia berubah menjadi tempat sampah yang penuh warna dan membawa pesan sederhana tentang menjaga kebersihan.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan memang tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Bisa saja bermula dari sebuah galon bekas, kuas, cat warna-warni, dan sekelompok anak yang mau belajar membuang sampah pada tempatnya.
Dari SDN 1 Wonokerto, langkah kecil itu menjadi pengingat bahwa ketika kepedulian terhadap lingkungan dikenalkan dengan cara yang menyenangkan, menjaga bumi pun bisa menjadi kegiatan yang dekat dengan keseharian anak-anak.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


