tak harus sama untuk bisa bersama mahasiswa kkn t inovasi ipb ajak siswa smpn 1 pulung kenali perbedaan - News | Good News From Indonesia 2026

Tak Harus Sama untuk Bisa Bersama, Mahasiswa KKN-T Inovasi IPB Ajak Siswa SMPN 1 Pulung Kenali Perbedaan

Tak Harus Sama untuk Bisa Bersama, Mahasiswa KKN-T Inovasi IPB Ajak Siswa SMPN 1 Pulung Kenali Perbedaan
images info

Kegiatan Pengenalan Perbedaan Karakter Siswa SMPN 1 Pulung


Dalam satu kelompok, tidak semua orang bekerja dengan cara yang sama. Ada yang langsung menyampaikan ide, ada yang lebih nyaman mendengarkan terlebih dahulu, ada yang senang menyusun rencana, dan ada pula yang lebih spontan dalam mengambil keputusan. Perbedaan seperti ini sering ditemui dalam keseharian, tetapi tidak selalu disadari.

Hal-hal sederhana tersebut menjadi pembuka kegiatan CAKRAWALA (Ciptakan Anak Kreatif melalui Wawasan, Eksplorasi, dan Aksi) yang mengusung tema “Kenali Dirimu, Hargai Perbedaan”. Kegiatan ini merupakan program pengenalan perbedaan karakter melalui pendekatan Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) bersama siswa SMPN 1 Pulung. CAKRAWALA menjadi bagian dari program AKSARA (Aktualisasi Kreativitas Sains Anak untuk Raih Asa) yang dijalankan mahasiswa KKN-T Inovasi IPB 2026 di Desa Pulung.

Alih-alih langsung masuk ke materi, siswa terlebih dahulu diajak mengamati kebiasaan mereka sendiri. Beberapa pertanyaan sederhana diberikan, mulai dari cara berkomunikasi hingga kebiasaan ketika mengerjakan tugas dan bekerja dalam kelompok.

Keaktifan siswa SMPN 1 Pulung | Dokumentasi KKN-T IPB Desa Pulung 2026
info gambar

Keaktifan siswa SMPN 1 Pulung | Dokumentasi KKN-T IPB Desa Pulung 2026


Ada siswa yang lebih nyaman berbicara dan menyampaikan ide sejak awal. Sebagian lainnya memilih mendengarkan sebelum memberikan pendapat. Ketika membahas kebiasaan mengerjakan tugas, ada yang terbiasa menyelesaikannya jauh sebelum tenggat waktu, sementara yang lain baru mulai ketika waktunya sudah mendekat.

Dari jawaban tersebut, siswa diajak melihat bahwa setiap individu memiliki kecenderungan masing-masing dalam berpikir, menerima informasi, mengambil keputusan, maupun menjalani aktivitas sehari-hari.

baca juga

Mengenal Karakter dari Hal-hal yang Dekat

Pembahasan kemudian diarahkan pada MBTI sebagai salah satu pendekatan untuk mengenali kecenderungan karakter. Siswa diperkenalkan dengan empat dimensi MBTI, yaitu Extraversion–Introversion, Sensing–Intuition, Thinking–Feeling, serta Judging–Perceiving.

Materi disampaikan melalui contoh yang dekat dengan kehidupan siswa. Sehingga karakter tidak dibahas sebagai teori yang jauh dari keseharian, tetapi sebagai sesuatu yang dapat diamati dalam kehidupan mereka sendiri. Pengenalan MBTI tidak diarahkan untuk menentukan siapa yang lebih baik, lebih pintar, atau lebih cocok dengan profesi tertentu. Siswa diberikan pemahaman bahwa MBTI bukan penentu kemampuan, bakat, maupun masa depan seseorang.

Hasil MBTI juga tidak dimaksudkan sebagai label yang melekat. Empat huruf yang diperoleh dari pengisian formulir tidak dapat menggambarkan seseorang secara keseluruhan. Pendekatan ini digunakan sebagai media untuk membantu siswa memulai proses mengenali diri dan memahami perbedaan di lingkungan sekitar.

Setelah mendapatkan pemahaman dasar, siswa mengisi formulir untuk mengetahui kecenderungan karakter masing-masing yang kemudian menjadi bahan refleksi sebelum pembahasan berlanjut pada satu pertanyaan: bagaimana perbedaan karakter memengaruhi cara seseorang berkomunikasi dan bekerja sama?

Ketika Perbedaan Mulai Terlihat dalam Diskusi

CAKRAWALA dilaksanakan secara bertahap berdasarkan jenjang kelas. Siswa kelas 7 mengikuti kegiatan pada Sabtu, 31 Juli 2026, kemudian kelas 8 pada Senin, 3 Agustus 2026, dan kelas 9 pada Selasa, 4 Agustus 2026.

Meskipun memiliki alur serupa, setiap jenjang mendapatkan topik Focus Group Discussion (FGD) yang berbeda agar pembahasan lebih dekat dengan pengalaman mereka.

Setelah mengetahui kecenderungan karakter, siswa berdiskusi dalam kelompok, bertukar pendapat, dan menyusun hasil pembahasan dalam bentuk power point.

Pada tahap ini, perbedaan karakter yang sebelumnya dibahas secara teori mulai terlihat secara langsung. Ada siswa yang lebih cepat mengambil inisiatif untuk menyampaikan pendapat, ada yang memilih mendengarkan terlebih dahulu, dan ada yang mengambil peran dalam mengatur pembagian tugas. Sementara itu, siswa lain membantu mengembangkan ide atau menyusun hasil diskusi. Peran yang muncul tidak selalu sama, tetapi setiap peran tetap memberikan kontribusi terhadap proses kerja kelompok.

Setelah diskusi selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil pembahasan di hadapan teman-teman. Sesi tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk menyampaikan gagasan sekaligus mendengarkan sudut pandang kelompok lain.

Dari proses ini, siswa belajar bahwa perbedaan pendapat tidak selalu berarti pertentangan. Memberikan ruang kepada teman untuk berbicara dan menghargai kontribusi masing-masing anggota menjadi bagian dari pembelajaran yang mereka alami secara langsung.

Tidak Semua Perbedaan Harus Diseragamkan

Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan karakter dapat menjadi tantangan ketika seseorang harus bekerja bersama orang lain.

Orang yang terbiasa mengambil keputusan dengan cepat mungkin memiliki cara yang berbeda dengan orang yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mempertimbangkan sesuatu.
Sebaliknya, pemahaman terhadap karakter dapat membantu seseorang menemukan cara yang lebih baik untuk berkomunikasi dan bekerja sama.

Ketika memahami bahwa seorang teman membutuhkan waktu lebih lama untuk menyampaikan pendapat, misalnya, memberikan kesempatan untuk berbicara dapat menjadi bentuk sederhana dari menghargai perbedaan.
Begitu pula ketika anggota kelompok memiliki cara kerja yang berbeda, pembagian tugas dapat disesuaikan agar setiap orang memiliki ruang untuk berkontribusi.

Mengenal Diri Tanpa Membatasi Diri

Salah satu hal yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah pentingnya tidak menjadikan hasil MBTI sebagai batasan terhadap diri sendiri.

Mengetahui suatu kecenderungan tidak berarti seseorang harus selalu bertindak dengan cara yang sama. Seseorang tetap dapat belajar berbicara di depan umum, mencoba hal baru, bekerja dengan orang yang berbeda, maupun mengembangkan kemampuan yang sebelumnya belum dimiliki.

Karakter juga bukan satu-satunya hal yang membentuk seseorang. Lingkungan, pengalaman, kebiasaan, dan proses belajar turut memengaruhi perkembangan seseorang. Karena itu, hasil MBTI dalam CAKRAWALA lebih tepat dipandang sebagai bahan refleksi, bukan jawaban akhir mengenai siapa diri seseorang.

Siswa kemudian diajak mengenali diri melalui pertanyaan sederhana: Bagaimana cara saya berkomunikasi? Bagaimana saya mengambil keputusan? Apa yang membuat saya nyaman ketika bekerja dalam kelompok? Bagaimana saya dapat memahami teman yang memiliki cara berbeda dengan saya?

baca juga

Dari Mengenal Diri Menuju Memahami Orang Lain

CAKRAWALA pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang MBTI. Mulai dari pertanyaan sederhana, pengisian formulir, hingga diskusi dan presentasi kelompok, siswa tidak hanya mendengar bahwa setiap orang berbeda, tetapi juga mengalaminya ketika harus bertukar pendapat dan menyelesaikan tugas bersama.

Bagi mahasiswa KKN-T Inovasi IPB, pendekatan tersebut menjadi cara untuk menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa. Pengenalan karakter tidak ditempatkan sebagai materi yang harus dihafalkan, melainkan sebagai ruang untuk mengamati diri sekaligus memahami orang-orang di sekitar.

CAKRAWALA mengajak siswa melihat bahwa setiap orang tidak harus memiliki karakter yang sama untuk dapat bekerja sama. Dengan saling memahami adanya perbedaan justru dapat menjadi bagian dari proses membangun kerja sama yang lebih baik.

Sebab, mengenal diri bukan hanya tentang mengetahui seperti apa diri kita, tetapi juga memahami bagaimana diri kita hadir di tengah orang lain. Dari sanalah, menghargai perbedaan dapat menjadi langkah sederhana untuk belajar tumbuh bersama.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

JR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.