Kawan GNFI, selama ini preeklampsia pada ibu hamil kerap dikaitkan erat dengan risiko bayi mengalami asfiksia atau kesulitan bernapas saat lahir. Namun sebuah penelitian dari Akademi Kebidanan Singkawang justru mengungkap temuan yang mematahkan asumsi umum tersebut.
Penelitian yang dilakukan di RS St. Vincentius Singkawang dengan judul "Hubungan Preeklampsia dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum pada Bayi Baru Lahir di RS St. Vincentius Singkawang" menemukan bahwa preeklampsia ternyata tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir.
Asfiksia, Ancaman Serius bagi Bayi Baru Lahir
Asfiksia neonatorum adalah kondisi di mana bayi baru lahir gagal bernapas secara spontan dan teratur segera setelah proses persalinan, sehingga menyebabkan penurunan kadar oksigen dan peningkatan kadar karbon dioksida dalam darah.
Kondisi ini bukan perkara sepele, karena data Kementerian Kesehatan RI mencatat asfiksia sebagai salah satu penyebab utama kematian bayi sekaligus berisiko menimbulkan gangguan pada berbagai sistem organ, mulai dari saraf pusat hingga kardiovaskular.
Di Kota Singkawang sendiri, pada tahun 2018 tercatat 32 kasus kematian bayi, dengan hampir 30 persen di antaranya disebabkan oleh asfiksia.
Menguji Asumsi Lama Lewat Riset yang Cermat
Kawan, penelitian ini menggunakan desain case control dengan melibatkan 114 responden yang terdiri dari kelompok kasus dan kontrol berimbang 1:1, diambil dari total 524 bayi yang lahir di RS St. Vincentius Singkawang.
Hasilnya cukup mengejutkan: dari 8 responden atau 7 persen yang mengalami preeklampsia, hanya 4 responden saja yang bayinya benar-benar mengalami asfiksia. Sebaliknya, dari kelompok ibu yang tidak mengalami preeklampsia, justru ditemukan 53 responden yang bayinya mengalami asfiksia neonatorum.
Setelah diuji secara statistik menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95 persen, diperoleh nilai ρ value sebesar 1,000, jauh di atas ambang batas 0,05. Artinya secara ilmiah, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara preeklampsia dengan kejadian asfiksia neonatorum di rumah sakit tersebut.
Bukan Berarti Preeklampsia Tidak Berbahaya
Penting untuk digarisbawahi, Kawan, temuan ini bukan berarti preeklampsia bisa disepelekan. Preeklampsia tetap merupakan kondisi patologis serius pada kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah, gangguan fungsi organ terutama ginjal dan hati, serta berisiko menimbulkan komplikasi berat baik bagi ibu maupun janin, termasuk persalinan prematur hingga hambatan pertumbuhan intrauterin akibat penurunan suplai oksigen ke janin.
Yang menarik dari penelitian ini justru terletak pada penjelasan mengapa hubungan tersebut tidak terlihat signifikan. Peneliti menduga hal ini disebabkan oleh rendahnya jumlah kasus preeklampsia dalam sampel penelitian, sekaligus adanya faktor lain yang justru lebih dominan memengaruhi kejadian asfiksia, yaitu berat badan lahir rendah atau BBLR yang ditemukan pada 57 responden, serta persalinan lama yang dialami 24 responden.
Konsisten dengan Temuan Penelitian Lain
Kawan GNFI, temuan ini sejalan dengan penelitian serupa yang dilakukan Lestari dan Putri pada 2019 di RS Aura Syifa Kabupaten Kediri, yang juga menyimpulkan tidak terdapat hubungan signifikan antara preeklampsia dengan kejadian asfiksia neonatorum, dengan nilai p-value sebesar 0,204.
Ini mengindikasikan bahwa asfiksia pada bayi baru lahir memang merupakan kondisi multifaktorial, dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti kelahiran prematur, kondisi air ketuban, lilitan tali pusat, hingga usia kehamilan saat persalinan, bukan semata-mata akibat satu kondisi tunggal seperti preeklampsia.
Mendorong Deteksi Dini yang Lebih Komprehensif
Temuan ini menjadi masukan berharga bagi dunia kebidanan dan tenaga kesehatan di lapangan. Alih-alih hanya berfokus pada satu faktor risiko, tenaga medis didorong untuk memperhatikan kombinasi faktor secara lebih menyeluruh dalam upaya deteksi dini dan pencegahan asfiksia neonatorum.
Peneliti pun merekomendasikan agar penelitian lanjutan dilakukan dengan desain yang lebih kuat, jumlah sampel lebih besar, serta variabel yang lebih beragam, agar gambaran faktor risiko asfiksia neonatorum bisa dipetakan secara lebih komprehensif.
Kawan GNFI, penelitian sederhana namun cermat dari Singkawang ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan terus bergerak menantang asumsi lama, demi memberikan penanganan kesehatan ibu dan bayi yang lebih tepat sasaran di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


