sdg 5 176 tahun lagi baru kita bisa bicara setara - News | Good News From Indonesia 2026

SDG 5: 176 Tahun Lagi Baru Kita Bisa Bicara Setara?

SDG 5: 176 Tahun Lagi Baru Kita Bisa Bicara Setara?
images info

Dok. Pribadi


Coba tebak, butuh berapa lama lagi dunia untuk mencapai kesetaraan gender di posisi-posisi kepemimpinan, kalau kecepatan progres yang ada sekarang ini terus dipertahankan tanpa percepatan apa pun? Jawabannya: 176 tahun.

Bukan 17 tahun, bukan 76 tahun. Seratus tujuh puluh enam tahun. Artinya, anak cicit dari cicit kita mungkin baru akan hidup di dunia dengan keterwakilan perempuan yang benar-benar setara di posisi manajerial.

Angka ini datang dari laporan resmi PBB soal SDG 5, dan ini adalah salah satu pengingat paling keras bahwa kesetaraan gender bukan isu yang "sudah selesai" seperti yang sering diasumsikan banyak orang.

Sekilas Tentang SDG 5

SDG 5 adalah salah satu dari 17 tujuan dalam Sustainable Development Goals yang berfokus pada pencapaian kesetaraan gender serta pemberdayaan seluruh perempuan dan anak perempuan di dunia. Cakupannya luas, mulai dari penghapusan segala bentuk diskriminasi dan kekerasan berbasis gender, penghapusan praktik berbahaya seperti pernikahan anak, pengakuan dan pembagian yang adil atas kerja domestik dan pengasuhan, partisipasi penuh perempuan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan, hingga akses yang setara terhadap sumber daya ekonomi, kepemilikan lahan, dan teknologi.

Ini bukan isu "khusus perempuan". Ini isu tentang bagaimana separuh populasi dunia diperlakukan dan diberi kesempatan yang setara, dan ketika separuh populasi ini tertinggal, seluruh masyarakat ikut menanggung kerugiannya.

baca juga

Data yang Bikin Kita Sadar: Ini Masih Jauh dari Selesai

Mari kita lihat beberapa fakta terbaru. Berdasarkan laporan PBB, per awal 2026, perempuan hanya menduduki sekitar 27,4% kursi di parlemen nasional di seluruh dunia, memang naik dari 22,3% pada 2015, tapi kenaikannya melambat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Di tingkat pemerintahan lokal, representasi perempuan bahkan stagnan di angka 35,6%.

Di dunia kerja, perempuan usia produktif memang mengalami kenaikan partisipasi angkatan kerja dari 62,8% pada 2015 menjadi 64,5% pada 2024, tapi kesenjangan gender di sektor ini masih besar, sekitar 27,8 poin persentase, akibat kesenjangan upah, keterbatasan kesempatan memimpin, segregasi pekerjaan, dan beban pengasuhan yang tidak proporsional.

Bahkan di sektor kesehatan, di mana perempuan mengisi 67% dari total tenaga kerja global, mereka masih menghadapi kesenjangan upah sebesar 24% dan sering tersingkir dari posisi kepemimpinan.

Yang tidak kalah memprihatinkan, laporan Gender Snapshot 2025 dari UN Women mencatat bahwa hampir satu dari tiga perempuan di dunia, sekitar 840 juta orang, pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual dalam hidupnya, angka yang nyaris tidak bergeser sejak tahun 2000. Dalam 12 bulan terakhir saja, sekitar 316 juta perempuan mengalami kekerasan fisik atau seksual dari pasangan intim mereka.

Dan jika tren ini terus berlanjut tanpa percepatan berarti, laporan yang sama memproyeksikan bahwa pada 2030 nanti, akan ada 351 juta perempuan dan anak perempuan yang masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, sebuah kegagalan besar dari salah satu janji utama SDGs.

Kenapa Ini Bukan "Cuma Isu Perempuan"

Ketimpangan gender memiliki efek domino yang jauh lebih luas dari yang sering kita sadari. Ketika perempuan tidak punya akses setara terhadap pendidikan, pekerjaan, dan posisi pengambilan keputusan, potensi ekonomi dan sosial yang hilang itu berdampak pada seluruh masyarakat, bukan hanya perempuan itu sendiri. Riset menunjukkan bahwa investasi pada penutupan kesenjangan digital gender saja berpotensi mengangkat puluhan juta perempuan dari kemiskinan dan menyumbang triliunan dolar bagi PDB global pada 2030. Bayangkan potensi yang jauh lebih besar jika kita bicara soal kesetaraan yang lebih menyeluruh: di pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan ruang publik.

Kesetaraan gender, dengan kata lain, bukan soal "membela satu kelompok", tapi soal membuka penuh potensi manusia yang selama ini terkunci oleh sistem yang timpang.

baca juga

Saatnya Gerakan Nyata, Bukan Sekadar Kesadaran

Membaca data-data di atas mungkin membuatmu geram, atau justru merasa topik ini terlalu besar untuk bisa diubah oleh individu seperti kita. Tapi justru di sinilah pentingnya kolaborasi lintas komunitas dan aksi nyata di level akar rumput, karena perubahan besar sering kali dimulai dari program-program kecil yang menyentuh langsung kehidupan komunitas.

AIESEC in USU, melalui program Global Volunteer, membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam proyek-proyek pemberdayaan yang berbasis pada SDG 5, mulai dari program edukasi kesetaraan gender di komunitas, pendampingan perempuan dan anak perempuan agar memiliki akses lebih luas terhadap pendidikan dan keterampilan ekonomi, hingga kampanye kesadaran untuk menghapus stigma dan praktik berbahaya yang masih membelenggu banyak perempuan di berbagai negara.

Sebagai volunteer, kamu tidak hanya belajar teori kesetaraan gender dari buku atau kelas kuliah, tapi benar-benar berinteraksi dengan komunitas nyata, mendengar cerita perjuangan mereka secara langsung, dan menjadi bagian dari solusi yang mereka butuhkan, sembari mengasah kepekaan sosial, kepemimpinan, dan wawasan lintas budaya yang akan membentukmu menjadi individu yang jauh lebih matang.

176 tahun terdengar sangat lama, tapi angka itu bukan takdir yang tidak bisa diubah, ia hanya proyeksi dari kecepatan perubahan hari ini. Kalau lebih banyak individu, komunitas, dan generasi muda mau ambil bagian secara aktif, kecepatan itu bisa dipercepat jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.

Jadi, mau menunggu 176 tahun sebagai penonton, atau mulai bergerak dari sekarang bersama Global Volunteer AIESEC in USU?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.