Masa depan WKP Gunung Pandan barangkali bukan sekadar soal seberapa ukuran panas bumi. Namun untuk siapa panas itu bekerja: untuk tenaga besar berskala industri, atau penyembuh tubuh berskala manusiawi.
Ada gunung yang tidak lagi meletus, tapi belum benar-benar diam. Gunung Pandan berdiri tenang di perbatasan Bojonegoro, Nganjuk, dan Madiun — puncak tertinggi Pegunungan Kendeng Jawa, 897 meter di atas permukaan laut, tempat kabut pagi sering berbaring seperti negeri di atas awan.
Ia lahir jutaan tahun silam, di masa ambang Pleistosen ketika magma masih aktif. Kini gunung itu dorman, tetapi panas belum sepenuhnya hilang. Di sanalah mata air panas dan endapan travertine muncul. Sebuah jejak dari sistem hidrotermal yang pernah dan masih bekerja di tubuh gunung.
Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya tidak: seberapa panas sebenarnya bisikan itu, dan untuk apa ia pantas dipakai? Ilmu pengetahuan, ternyata, juga bisa ragu-ragu. Para peneliti yang turun ke Gunung Pandan membawa pulang angka berbeda-beda, tergantung dari mana mereka mengukurnya.
Tim Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Jogyakarta, dalam kajian yang terbit 2018 di Jurnal Geosains dan Teknologi terbitan UNDIP, memakai geotermometer silika, mentaksir suhu reservoir Gunung Pandan sebesar 153 hingga 222 derajat celsius.
Baca Selengkapnya

