Gereja Blenduk atau Gereja GPIB Immanuel di kawasan Kota Lama Semarang kembali menjadi perhatian. Bangunan bersejarah yang telah berdiri sejak 1753 ini ditinjau langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam rangkaian kunjungan kerjanya ke Semarang, Jawa Tengah.
Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi salah satu bangunan cagar budaya yang memiliki nilai penting dari sisi sejarah maupun arsitektur. Gereja Blenduk menjadi salah satu ikon utama Kota Lama Semarang dan hingga kini masih digunakan sebagai tempat ibadah.
Bangunan ini pertama kali dibangun pada 1753 dan kemudian mengalami renovasi pada 1895. Meski telah melewati perjalanan sejarah selama ratusan tahun, karakter arsitektur kolonialnya masih dipertahankan. Salah satu bagian yang paling mudah dikenali adalah kubahnya yang berbentuk khas dan kemudian membuat bangunan tersebut populer dengan sebutan “Blenduk”.
Fadli Zon menilai Gereja Blenduk merupakan bagian penting dari warisan budaya Kota Lama Semarang yang harus terus dijaga keberadaan dan kelestariannya. Menurutnya, pelestarian cagar budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk fisik bangunan.
Bangunan bersejarah juga harus tetap memiliki fungsi dan hadir dalam kehidupan masyarakat.
“Kita berada di Gereja Blenduk atau Gereja GPIB Immanuel di Kota Lama Semarang yang dibangun pada tahun 1753, kemudian direnovasi pada tahun 1895. Gereja ini juga merupakan salah satu cagar budaya nasional yang pertama di Kota Lama Semarang,” ungkap Menbud.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa nilai sebuah bangunan cagar budaya bukan hanya terletak pada usianya. Keberadaan masyarakat yang terus memanfaatkan bangunan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan sejarah agar tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu.
Orgel Tua dan Harapan Hibah dari Belanda
Dalam kunjungannya, Fadli Zon juga menyoroti keberadaan orgel tua yang menjadi salah satu bagian dari sejarah Gereja Blenduk. Instrumen tersebut saat ini disebut sudah berusia cukup tua dan kondisinya kurang berfungsi.
Pemerintah pun berharap rencana hibah dari Belanda dapat segera ditindaklanjuti. Kementerian Kebudayaan akan berupaya memfasilitasi proses tersebut bersama instansi terkait agar orgel tua itu nantinya dapat kembali digunakan.
“Kami menerima informasi bahwa orgel yang ada di gereja ini kondisinya sudah cukup tua dan kurang berfungsi. Kita berharap nanti akan ada hibah dari Belanda dan tentu kita coba fasilitasi dengan instansi terkait agar orgel tersebut bisa segera difungsikan disini,” katanya.
Jika rencana tersebut terealisasi, orgel bukan hanya menjadi benda bersejarah yang dipajang, tetapi dapat kembali menjadi bagian dari aktivitas di Gereja Blenduk. Hal ini sejalan dengan konsep pelestarian warisan budaya yang ingin menjaga hubungan antara bangunan, sejarah, dan kehidupan masyarakat.
Fadli Zon juga berharap Gereja Blenduk tetap dirawat dengan baik dan terus digunakan oleh jemaat. Baginya, pemanfaatan bangunan sebagai tempat ibadah justru menjadi salah satu cara agar warisan budaya tetap hidup.
“Dan mudah-mudahan gedung ini juga terawat dengan baik dan menjadi living heritage, juga digunakan setiap minggu oleh para jemaat di Gereja Blenduk ini,” tambah Menbud.
Konsep living heritage tersebut menunjukkan bahwa pelestarian tidak berarti menjadikan bangunan bersejarah sebagai benda mati. Sebaliknya, bangunan tetap dirawat sembari mempertahankan fungsi sosial dan nilai sejarahnya.
Dalam peninjauan itu, Fadli Zon turut didampingi Staf Khusus Menteri bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda, Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah Riris Purbasari.
Kementerian Kebudayaan terus mendorong pelestarian cagar budaya melalui pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dengan tetap memperhatikan nilai sejarah serta karakter asli bangunan.
Gereja Blenduk pun diharapkan tidak hanya bertahan sebagai saksi perjalanan panjang Kota Lama Semarang, tetapi juga terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sebab, ketika bangunan berusia ratusan tahun masih digunakan, dirawat, dan memiliki fungsi sosial, sejarah tidak hanya dikenang—tetapi benar-benar tetap hidup.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


