cegah dampak perubahan iklim kkn mit posko 66 tanam 2000 mangrove di wonoagung - News | Good News From Indonesia 2026

Cegah Dampak Perubahan Iklim, KKN MIT Posko 66 Tanam 2.000 Mangrove di Wonoagung

Cegah Dampak Perubahan Iklim, KKN MIT Posko 66 Tanam 2.000 Mangrove di Wonoagung
images info

Mahasiswa KKN MIT Ke-22 Posko 66 bersama peserta memegang propagul mangrove sebelum proses penanaman di Dukuh Karangtarub, Desa Wonoagung.


Upaya menjaga kawasan pesisir dari ancaman perubahan iklim dilakukan mahasiswa KKN MIT Ke-22 Posko 66 UIN Walisongo Semarang melalui penanaman 2.000 propagul mangrove di kawasan perairan tambak Dukuh Karangtarub, Desa Wonoagung, Kabupaten Demak.

Kegiatan tersebut melibatkan puluhan peserta dari berbagai elemen masyarakat yakni Komunitas LUMUT, SD Negeri Wonoagung 1, dan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

Penanaman mangrove menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan Desa Wonoagung yang berada di kawasan pesisir.

Wilayah tersebut memiliki karakteristik geografis yang rentan terhadap berbagai dampak perubahan iklim seperti abrasi, rob, serta peningkatan permukaan air laut. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian besar aktivitas ekonomi masyarakat setempat berkaitan dengan kawasan tambak.

Mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Keberadaan vegetasi mangrove dapat membantu meredam gelombang, menahan sedimen, serta memperlambat laju abrasi di wilayah pesisir. Selain itu, ekosistem mangrove juga menjadi habitat bagi berbagai organisme yang mendukung keberlangsungan lingkungan perairan.

baca juga

Atas kondisi tersebut mahasiswa KKN MIT Ke-22 Posko 66 menjadikan penanaman mangrove sebagai salah satu program lingkungan selama melaksanakan pengabdian di Desa Wonoagung.

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan penanaman secara kuantitatif melainkan juga mendorong tumbuhnya kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga lingkungan pesisir.

Dalam pelaksanaannya penanaman mangrove ini menggunakan metode propagul. Propagul merupakan bagian dari tanaman mangrove berupa buah atau biji yang telah mengalami perkecambahan dan dapat tumbuh menjadi tanaman baru. Propagul umumnya masih melekat pada pohon induknya sebelum akhirnya jatuh dan berkembang di lingkungan yang sesuai.

Metode tersebut dipilih karena relatif sederhana untuk diterapkan dalam kegiatan penanaman dalam jumlah besar.

Dengan karakter propagul yang telah mengalami proses perkecambahan, peserta dapat langsung menancapkannya pada media tanam yang telah ditentukan. Cara ini juga memungkinkan proses penanaman dilakukan secara lebih praktis dan serentak.

Sebelum penanaman dimulai panitia bersama mahasiswa KKN memberikan pengarahan singkat kepada seluruh peserta. Pengarahan tersebut mencakup teknik memegang propagul, cara menancapkannya ke dalam tanah, hingga pengaturan jarak antartanaman.

Peserta juga diarahkan untuk memperhatikan kondisi lokasi agar propagul dapat tumbuh dengan baik dan tidak mudah terbawa arus.

Setelah pengarahan selesai dilanjutkan dengan pembagian propagul kepada para peserta. Masing-masing peserta kemudian bergerak menuju sejumlah titik yang telah ditentukan di kawasan tambak Dukuh Karangtarub. Penanaman dilakukan secara bersama-sama sehingga 2.000 propagul dapat ditanam secara efektif dalam satu rangkaian kegiatan.

Syafi’I selaku bagian dari Komunitas LUMUT menilai bahwa hasil dari penanaman mangrove tidak dapat diukur hanya dari manfaat yang terlihat dalam waktu dekat. Menurutnya, tanaman yang ditanam saat ini merupakan investasi lingkungan yang manfaatnya baru dapat dirasakan secara maksimal oleh generasi mendatang.

“Mangrove ini tidak akan dirasakan manfaatnya sekarang, tapi anak cucu kita yang akan merasakannya nanti karena tanaman ini butuh waktu bertahun-tahun untuk benar-benar tumbuh besar dan berfungsi maksimal menahan abrasi serta menjaga ekosistem kita,” ucapnya.

baca juga

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pelestarian mangrove membutuhkan pandangan jangka panjang. Penanaman ribuan propagul bukan menjadi akhir dari upaya menjaga kawasan pesisir melainkan langkah awal yang perlu dilanjutkan melalui pemeliharaan dan pemantauan secara berkala.

Mahasiswa KKN MIT Ke-22 Posko 66 berharap propagul yang telah ditanam dapat tumbuh dan berkembang meskipun masa pengabdian mereka di Desa Wonoagung telah berakhir. Keberlanjutan program diharapkan dapat dilakukan secara swadaya oleh Komunitas LUMUT bersama masyarakat setempat melalui perawatan, pemantauan pertumbuhan, serta penggantian tanaman apabila terdapat propagul yang tidak berhasil tumbuh.

Program tersebut juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penanaman semata. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kawasan sekitar menjadi faktor penting agar keberadaan mangrove dapat memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.

Dengan demikian, kawasan pesisir tidak hanya memiliki fungsi ekonomi melalui aktivitas tambak, tetapi juga tetap memiliki perlindungan alami yang mampu mendukung keseimbangan ekosistem.

Melalui penanaman 2.000 propagul mangrove, KKN MIT Ke-22 Posko 66 berupaya meninggalkan jejak pengabdian yang tidak hanya bersifat sementara. Kolaborasi bersama masyarakat, komunitas, sekolah, dan organisasi kepemudaan diharapkan dapat menjadi awal dari gerakan pelestarian lingkungan yang terus berlanjut di Desa Wonoagung.

Ribuan propagul yang ditanam hari itu bukan sekadar sebuah bibit yang ditanam di kawasan tambak. Setiap propagul menjadi bagian dari ikhtiar jangka panjang untuk menjaga pesisir, mengurangi risiko abrasi, serta mewariskan lingkungan yang lebih terlindungi kepada generasi yang akan datang.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.