Tidak semua perjalanan menembus batas negara dimulai dari bandara besar dan agenda formal. Bagi Putri Agustin Florian, mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Lampung, perjalanannya justru dimulai dari ruang kelas sederhana di Nang Mai Kindergarten, Hanoi, Vietnam.
Tempat di mana ia menghabiskan waktu selama satu bulan penuh, sebagai bagian dari program Global Volunteer yang digagas AIESEC in Vietnam.
Di ruang kelas itu, tidak ada meja rapat, tidak ada dokumen kerja sama bilateral. Yang ada hanyalah puluhan anak usia dini, sekitar lebih dari 50 anak, yang setiap hari menatap seorang relawan asing dengan rasa penasaran khas anak-anak.
Namun, dari interaksi sederhana itulah, sebuah bentuk diplomasi yang jauh lebih tulus justru terjadi, diplomasi lewat pendidikan dan kedekatan personal.
Tantangan pertama yang dihadapi Putri sebenarnya sangat mendasar tentang bagaimana mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak yang bahkan belum sepenuhnya lancar berbicara dalam bahasa ibu mereka sendiri.
Putri pun tidak mengandalkan metode pengajaran konvensional, melainkan pendekatan yang lebih hidup seperti storytelling untuk membangun imajinasi, lagu-lagu sederhana untuk melatih pengucapan, permainan kosakata agar belajar terasa seperti bermain, serta aktivitas sensorik yang melibatkan gerak dan sentuhan langsung.
Kombinasi metode ini terbukti efektif menjembatani perbedaan bahasa. Anak-anak yang awalnya hanya menatap dan tersenyum malu, perlahan mulai berani mengikuti nyanyian dan menirukan kosakata baru.
Dari sinilah terlihat bahwa kedekatan emosional mampu mempercepat proses belajar melebihi metode pengajaran satu arah.
Menariknya, dampak dari program ini tidak berjalan satu arah. Selagi anak-anak Nang Mai Kindergarten mendapatkan fondasi dasar bahasa Inggris sekaligus pengalaman pertama berinteraksi dengan budaya asing, Putri sendiri mengalami transformasi personal yang tidak kalah signifikan.
Ia belajar tetap sabar ketika instruksi sederhana harus diulang berkali-kali, belajar membaca situasi tanpa selalu bergantung pada kata-kata, dan menyadari bahwa genuine connection ternyata bisa terbentuk tanpa kesamaan bahasa maupun latar belakang budaya.
"Empat minggu di Hanoi menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Mengajar toddlers di lingkungan dan budaya yang baru mengajarkan saya bahwa kesabaran, kepedulian, dan genuine connection dapat melewati batas bahasa dan budaya," tutur Putri.
Ia menambahkan bahwa pengalaman ini juga memperkaya pemahamannya soal leadership dalam skala personal, bagaimana memimpin sebuah kelas kecil dengan penuh empati, sekaligus memaknai secara langsung konsep global citizenship yang selama ini mungkin hanya ia pelajari secara teoritis di bangku kuliah.
Jika dilihat dari kacamata yang lebih luas, kegiatan ini sesungguhnya menjadi kontribusi nyata terhadap agenda global Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas.
Namun, lebih dari sekadar pencapaian target global, program ini juga menunjukkan bahwa cross-cultural exchange yang efektif tidak selalu membutuhkan skala besar atau anggaran fantastis, cukup kehadiran yang konsisten, metode yang kreatif, dan ketulusan dalam berinteraksi.
Pengalaman Putri turut menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia, termasuk dari kampus-kampus di luar pulau Jawa seperti Universitas Lampung, memiliki kapasitas dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi pada isu-isu global.
Program semacam Global Volunteer AIESEC membuka jalan bagi generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton dari perkembangan dunia internasional, tetapi juga menjadi pelaku aktif di dalamnya.
Dari sebuah ruang kelas di Hanoi, sebuah benih perubahan kecil telah ditanam, bukan hanya bagi puluhan anak Nang Mai Kindergarten yang kini mengenal beberapa kosakata baru dalam bahasa Inggris. Namun, juga bagi seorang mahasiswi yang pulang dengan pemahaman baru tentang arti kontribusi, kepedulian, dan keberanian melintasi batas.
Meski program berdurasi satu bulan telah usai, dampaknya diyakini tidak berhenti begitu saja ketika Putri kembali ke Indonesia. Kebiasaan berbahasa Inggris yang mulai terbentuk pada anak-anak Nang Mai Kindergarten berpotensi menjadi fondasi yang terus berkembang. Terlebih jika pihak sekolah melanjutkan pendekatan pembelajaran interaktif yang telah diperkenalkan selama program berlangsung.
Bagi Putri sendiri, pengalaman ini membuka wawasan baru tentang jejaring internasional yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya.
Interaksi dengan AIESEC in Vietnam, sesama relawan lintas negara, hingga staf pengajar lokal memperluas perspektifnya bahwa kerja sama lintas negara dapat terjalin bukan hanya di level pemerintahan atau korporasi besar. Namun, juga melalui inisiatif akar rumput yang digerakkan individu-individu muda.
Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kontribusi terhadap isu global tidak selalu harus menunggu posisi strategis atau sumber daya besar. Satu mahasiswi, satu ruang kelas, dan satu bulan waktu ternyata cukup untuk menciptakan riak perubahan yang, meski kecil, tetap nyata dan bermakna.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


