Kenapa, duduk sejenak, bertanya kabar, dan menepuk pundak, sangat sulit dilakukan?
"Semua orang itu capek!"
Benar. Semua orang punya lelahnya masing-masing. Namun, ini bukan perkara lomba siapa yang paling lelah, melainkan kesempatan untuk saling meraih tangan dan menghempas lelah. Kita memang tidak bisa menjanjikan bahwa hari esok akan jauh lebih baik dari hari ini. Namun, kita juga tidak pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita memberi uluran tangan, sekali lagi, untuk menyambut hari esok.
Mereka yang sedang lelah bukan berarti mendadak acuh terhadap dunia di sekitarnya. Bisa jadi, di tengah lelahnya, mereka hanya sedang mencari alasan untuk mampu menjalani satu hari lagi.
Keterhubungan yang Memeluk Pelik
Keterhubungan merupakan hubungan dengan orang-orang di sekitar yang ditandai dengan adanya ikatan emosional, kepercayaan, dan kelekatan (Nurdiyanto, 2020). Bagi seseorang yang sedang berada dalam masa sulit, tidak akan mudah untuk menyampaikan perasaannya kepada orang terdekat.
Di sinilah kepekaan kita sebagai orang yang mengenal mereka menjadi berarti. Satu kalimat sederhana–"kamu baik-baik saja?"–memang tidak langsung menyelesaikan masalah. Namun, pertanyaan itu dapat menjadi tanda bahwa masih ada seseorang yang melihat dan peduli pada mereka.
Dukungan tersebut dapat memberikan rasa aman dan nyaman, sekaligus membuat seseorang merasa bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya seorang diri.
Nurdiyanto (2020) juga menemukan bahwa keterhubungan dengan orang-orang sekitar memiliki peran penting dalam perjalanan hidup para pemuda melewati masa yang sulit. Artinya, dukungan dari orang sekitar tidak dapat dianggap sebagai hal sepele.
Dukungan dari lingkungan dapat membantu seseorang untuk melewati masa sulitnya. Bentuk kepedulian kita tidak harus dalam bentuk ceramah panjang atau solusi untuk setiap masalah. Kita bisa memilih untuk tetap di sisi mereka dan tidak membiarkan mereka membawa kesulitannya seorang diri.
Harapan Bagai Pelangi Setelah Badai
Dalam penelitian Nurdiyanto (2020), harapan menjadi salah satu hal yang berkaitan dengan keputusan seseorang untuk bertahan. Hal ini menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa lelah dengan hidupnya, ia masih memegang kepercayaan bahwa akan datang sebuah alasan yang dapat menjadi harapan baginya untuk menanti hari esok.
Mungkin harapan itu berupa seseorang yang masih ingin merasakan makanan kesukaannya. Seseorang yang masih ingin menyelesaikan satu film favoritnya. Seseorang yang masih ingin bertemu dengan temannya. Atau bahkan seseorang yang hanya ingin melihat bagaimana hidupnya dalam beberapa bulan ke depan.
Walau terasa kecil bagi kita, satu harapan terasa bagai kesempatan bagi mereka untuk sekali lagi berusaha menjalani hidupnya. Kita tidak perlu terlalu sibuk untuk menentukan langkah hidup seseorang. Kita hanya bisa memberi ruang untuk mereka kembali menyadari apa yang sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, masih ingin dicapainya.
Mungkin karena itu, kita perlu berhenti menganggap bahwa alasan untuk bertahan harus selalu hal yang besar. Alasan itu bisa berbeda bagi setiap orang. Bisa berupa keinginan untuk dicintai, mimpi yang belum tercapai, makanan yang masih ingin dinikmati, cerita yang belum tersampaikan, atau pertemuan yang masih ingin dilakukan.
Sesungguhnya, alasan mereka bertahan tidaklah besar, tetapi cukup untuk mereka pegang.
Maka, lihatlah sekitar. Lihatlah lebih dekat.
Siapa tahu, ada seseorang di sekitarmu yang butuh untuk kamu ajak duduk sejenak, mendengarkan bagaimana harinya berlalu, menyisipkan secangkir kopi, menertawakan hal-hal receh, atau sekadar tepukan hangat di pundaknya.
Walau kita tidak bisa mengubah seluruh hidup seseorang atau menjanjikan hari esok akan lebih baik, setidaknya kita bisa hadir. Kita bisa memberi mereka waktu untuk mencari alasan mengapa hari esok adalah kesempatan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

