menjemput kedamaian di sarugo harmoni seribu gonjong dan wangi jeruk gunuang omeh - News | Good News From Indonesia 2026

Menjemput Kedamaian di Sarugo: Harmoni Seribu Gonjong dan Wangi Jeruk Gunuang Omeh

Menjemput Kedamaian di Sarugo: Harmoni Seribu Gonjong dan Wangi Jeruk Gunuang Omeh
images info

Seribu Gonjong. Foto: Repro AI


Kawan GNFI, bayangkan sebuah pagi ketika kabut tipis masih menggantung di antara perbukitan Bukit Barisan. Udara dingin menyelimuti perjalanan, sementara hamparan hijau perlahan terbuka di sepanjang jalan. Dari Kota Payakumbuh, perjalanan sejauh sekitar 43 kilometer membawa kami menuju Jorong Sungai Dadok, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota. Di tempat inilah berdiri Desa Wisata Sarugo atau Saribu Gonjong, sebuah kampung adat yang menawarkan ketenangan sekaligus kekayaan budaya Minangkabau.

Jalan menuju Sarugo menjadi pengalaman tersendiri. Aspal berkelok membelah perbukitan, menghadirkan panorama tebing dan pepohonan hijau. Begitu memasuki kawasan desa, suasana kota seolah tertinggal jauh. Deru kendaraan berganti dengan gemerisik daun, gemercik air, serta sapaan hangat warga yang memulai aktivitasnya.

Pesona Sarugo segera terasa melalui deretan Rumah Gadang yang berdiri rapi. Bangunan-bangunan kayu itu tidak tersebar sembarangan, melainkan tersusun membentuk lanskap kampung yang khas. Atap gonjong menjulang di antara pepohonan dan langit dataran tinggi. Keberadaannya menghadirkan pemandangan yang seolah membawa pengunjung memasuki halaman sejarah Minangkabau.

Setiap sudut Rumah Gadang menyimpan cerita. Dinding kayu berwarna alami dihiasi ukiran tradisional bermotif flora. Rumah-rumah tersebut tidak hanya menjadi bangunan bersejarah, tetapi juga ruang kehidupan masyarakat. Di tengah perkembangan zaman, upaya pelestarian berjalan bersama inovasi. Digitalisasi pariwisata pun mulai membantu pengunjung mengenal lebih jauh sejarah dan nilai budaya yang tersimpan di Sarugo.

baca juga

Kampung ini membuktikan bahwa tradisi tidak harus berhadapan dengan modernitas. Beberapa Rumah Gadang kini dimanfaatkan sebagai homestay. Wisatawan dapat merasakan pengalaman tinggal bersama masyarakat tanpa kehilangan suasana autentik kampung adat. Kebersihan, kenyamanan, dan pelayanan menjadi perhatian, sementara bentuk serta karakter bangunan tradisional tetap dijaga.

Pengakuan terhadap kualitas pengelolaan homestay Sarugo juga datang dari tingkat internasional. Desa Wisata Saribu Gonjong menerima penghargaan ASEAN Tourism Award 2025 dalam kategori The 5th ASEAN Homestay Award. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa kampung kecil di Limapuluh Kota mampu menghadirkan standar pelayanan yang diapresiasi kawasan Asia Tenggara.

Namun, pengalaman terbaik Sarugo bukan hanya soal tempat menginap. Wisatawan diajak terlibat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Dapur tradisional menjadi salah satu ruang perjumpaan yang paling berkesan. Aroma bumbu rendang, gulai pucuk ubi, dan masakan khas Minang lainnya menguar dari tungku. Kehangatan itu membuat pengunjung tidak sekadar datang sebagai tamu.

Keesokan harinya, perjalanan dapat berlanjut menuju kawasan agrowisata. Di sekitar permukiman terbentang perkebunan jeruk Siam Gunuang Omeh. Pohon-pohon jeruk tumbuh subur, dengan buah-buah ranum menggantung di antara dedaunan. Komoditas ini menjadi salah satu kebanggaan masyarakat setempat sekaligus bagian penting dari kehidupan ekonomi warga.

 

Memetik jeruk langsung dari pohonnya menghadirkan pengalaman sederhana, tetapi menyenangkan. Saat kulit buah dikupas, aroma segar langsung menyeruak. Rasanya manis dan segar, dengan kandungan air yang melimpah. Di balik kesederhanaannya, jeruk Gunuang Omeh memperlihatkan bagaimana potensi alam dapat menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.

Menjelang senja, Sarugo kembali menghadirkan sisi budaya yang memikat. Pelataran kampung berubah menjadi panggung bagi generasi muda. Kesenian Randai dimainkan dengan penuh semangat. Hentakan kaki para pemain berpadu dengan musik Talempong Pacik dan alunan saluang. Pertunjukan itu menunjukkan bahwa tradisi tidak sekadar disimpan sebagai kenangan masa lalu.

Di Sarugo, kebudayaan terus bergerak bersama kehidupan masyarakatnya. Anak-anak muda mengambil peran dalam menjaga warisan leluhur. Mereka tidak hanya mewarisi bentuk kesenian, tetapi juga semangat kebersamaan yang terkandung di dalamnya. Inilah kekuatan yang membuat sebuah tradisi tetap hidup.

baca juga

Demikianlah, masa depan tidak selalu harus dibangun dengan meninggalkan masa lalu. Justru, akar budaya yang kuat dapat menjadi modal untuk berkembang. Rumah Gadang, homestay, kebun jeruk, dan kesenian tradisional saling melengkapi dalam membangun wajah pariwisata yang berkelanjutan.

Kawan GNFI, Sarugo bukan sekadar tempat untuk dikunjungi dan dipotret. Kampung ini adalah ruang untuk memperlambat langkah, menghirup udara pegunungan, dan merasakan hangatnya kehidupan masyarakat. Kami mungkin datang sebagai wisatawan, tetapi pulang dengan membawa kesan seperti meninggalkan sebuah rumah. Di antara seribu gonjong dan wangi jeruk Gunuang Omeh, kedamaian seolah selalu menemukan jalannya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.