menjemput surga kisah ritno kurniawan penebang kayu menjadi penjaga hutan nyarai - News | Good News From Indonesia 2026

Menjemput "Surga": Kisah Ritno Kurniawan Penebang Kayu Menjadi Penjaga Hutan Nyarai

Menjemput "Surga": Kisah Ritno Kurniawan Penebang Kayu Menjadi Penjaga Hutan Nyarai
images info

Kisah Ritno Kurniawan Penebang Kayu Menjadi Penjaga Hutan Nyarai. Foto: Repro AI


Denting suara gergaji mesin yang menderu membelah keheningan Hutan Gamaran di Bukit Barisan, Padang Pariaman, Sumatra Barat, sempat menjadi pemandangan biasa belasan tahun lalu.

Warga lokal, termasuk seorang pemuda bernama Ritno Kurniawan, kala itu menggantungkan hidup dari kayu-kayu hutan yang tumbang. Untuk sekali angkut, mereka hanya mengantongi sekitar Rp100 ribu demi menantang bahaya dan merusak alam yang menjadi benteng pertahanan desa mereka.

Namun, garis takdir bergerak ke arah lain saat Ritno memutuskan merantau dan menempuh studi di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Di kota pelajar tersebut, ia kerap mengamati bagaimana kawasan wisata alam yang sebenarnya biasa saja—seperti Gua Pindul dan Desa Wisata Nglanggeran—bisa dikelola dengan begitu profesional dan mendatangkan dampak ekonomi luar biasa bagi masyarakat sekitar.

Pemuda kelahiran Padang Pariaman ini mulai berpikir kritis. Mengapa kampung halamannya yang menyimpan kekayaan alam jauh lebih megah justru tertinggal dan perlahan rusak oleh tangan-tangan warganya sendiri?

Akhir tahun 2012, berbekal ijazah dan ilmu Komunikasi dan Penyuluhan Pertanian, Ritno membulatkan tekad untuk pulang kampung.

Petualangannya menembus rimbunnya Hutan Gamaran membawanya pada sebuah penemuan menakjubkan: sebuah lubuk berair jernih kehijauan dengan formasi batuan purba yang eksotis, tersembunyi di balik ancaman pembalakan liar. Tempat itu bernama Lubuk Nyarai.

baca juga

Melihat potensi tersebut, Ritno tidak tinggal diam. Perjuangan pertamanya bukan menghadapi alam, melainkan mengubah pola pikir warga. Rencana mengubah hutan menjadi kawasan wisata sempat ditolak mentah-mentah.

Bagi masyarakat setempat yang terbiasa memegang kapak dan gergaji, pariwisata adalah konsep asing yang abstrak dan tidak menjanjikan uang cepat.

Ritno tidak menyerah. Melalui pendekatan kultural kepada para Datuk (tokoh adat setempat), ia berhasil meyakinkan para tetua bahwa hutan bisa menghasilkan uang tanpa harus ditebang.

Dengan restu para tokoh adat dan tiga syarat ketat termasuk menutup wisata pada hari Jumat dan memprioritaskan keselamatan pintu ekowisata berbasis komunitas (Community Based Tourism) resmi dibuka pada April 2013.

Secara swadaya dan bertahap, Ritno mengedukasi para mantan penebang liar. Tangan-tangan yang dulunya memotong pohon dilatih memegang tongkat pemandu, mempelajari navigasi hutan, manajemen keselamatan, hingga layanan keramahan (hospitality). Langkah kecil ini perlahan bergulir menjadi bola salju perubahan yang masif.

Keberhasilan program ini terbukti nyata secara ekonomi dan ekologis. Melalui pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), lebih dari 165 warga lokal kini terserap langsung sebagai pemandu wisata profesional yang tersertifikasi.

Kaum ibu mengelola homestay dan warung makan, sementara pemuda desa aktif memimpin jalur trekking, arung jeram, hingga area glamping.

Hutan Gamaran kembali lestari karena warganya menyadari bahwa pohon yang berdiri tegak jauh lebih bernilai dibanding pohon yang tumbang.

baca juga

Transformasi hebat ini menarik perhatian nasional. Berkat konsistensinya, Ritno Kurniawan dianugerahi penghargaan bergengsi SATU Indonesia Awards pada tahun 2017 oleh Astra.

Dukungan berkelanjutan dari program Desa Sejahtera Astra (DSA) kemudian mendorong Ekowisata Nyarai naik kelas, memperluas dampaknya dari skala desa ke skala kecamatan, hingga membawa kawasan ini menyabet penghargaan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).

Kini, Nyarai bukan lagi sekadar tempat wisata, melainkan simbol kemenangan sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang pemuda visioner.

Dari seorang anak muda yang miris melihat kerusakan hutan, Ritno Kurniawan membuktikan bahwa pariwisata yang berkelanjutan mampu menjadi jembatan kokoh yang menyatukan pelestarian lingkungan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.