panglimaja salam ui mengabdi ajak warga tegalmaja menemukan kekuatan dari potensi desanya - News | Good News From Indonesia 2026

PANGLIMAJA Salam UI Mengabdi Ajak Warga Tegalmaja Temukan Kekuatan dari Potensi Desanya

PANGLIMAJA Salam UI Mengabdi Ajak Warga Tegalmaja Temukan Kekuatan dari Potensi Desanya
images info

Seluruh panitia & volunteer bersama perwakilan dari perpustakaan keliling kab. serang | Foto : PPK Ormawa Panglimaja Salam UI


Pengabdian kepada masyarakat menjadi salah satu bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA) Kemdiktisaintek 2026, Lembaga Dakwah Nuansa Islam Mahasiswa Universitas Indonesia (SALAM UI) menghadirkan program PANGLIMAJA (Panggung Literasi Masyarakat Berkelanjutan) di Desa Tegalmaja, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, Banten. 

Mengusung tema “PANGLIMAJA (Panggung Literasi Masyarakat Berkelanjutan) Berbasis Communal Sustainability dalam Membangun Masyarakat Cerdas yang Berkelanjutan di Desa Tegalmaja”, program ini dirancang sebagai upaya meningkatkan literasi, kecakapan hidup, dan kemandirian masyarakat dengan mengoptimalkan potensi lokal desa.

Pendekatan communalsustainability menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam membangun keberlanjutan melalui penguatan komunitas, keseimbangan ekologi, ketahanan sosial, serta pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

baca juga

Di Tengah Kawasan Industri, Tegalmaja Menjaga Potensi Lokal

Desa Tegalmaja memiliki karakteristik yang unik. Berada di Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, desa ini terdiri atas enam kampung dengan jumlah penduduk mencapai 3.782 jiwa. Sebanyak 3.099 penduduk merupakan pekerja aktif yang sebagian besar bekerja sebagai pemulung, petani, pedagang, dan buruh tani.

Di tengah dinamika kawasan industri, masyarakat Tegalmaja tetap berupaya mempertahankan identitas dan keberadaan desa melalui aktivitas produktif berbasis potensi lokal. Salah satu potensi yang menonjol adalah kerajinan anyaman berbahan bambu dan limbah kertas karton.

Sebanyak 30 pengrajin tercatat mampu menghasilkan sekitar 500 produk anyaman dan 100 produk rajutan setiap bulan.

Namun, rata-rata pendapatan masyarakat yang masih berada di bawah Rp2 juta per bulan menunjukkan bahwa potensi ekonomi tersebut masih membutuhkan penguatan kapasitas dan pengembangan nilai tambah.

 Bersama ibu-ibu desa tegalmaja | Foto: Dokumen Pribadi
info gambar

 Bersama ibu-ibu desa tegalmaja | Foto: Dokumen Pribadi


Persoalan yang dihadapi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan ekonomi. Hasil survei dan wawancara tim PPK ORMAWA SALAM UI menemukan sejumlah tantangan lain, mulai dari rendahnya kapasitas dan partisipasi masyarakat, keterbatasan inovasi serta standardisasi produk anyaman, minimnya literasi digital dan pemasaran, rendahnya literasi serta minat belajar anak, hingga persoalan pengelolaan sampah di lingkungan desa.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi desa membutuhkan ekosistem pembelajaran yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mempraktikkan keterampilan secara langsung dan mengembangkannya secara berkelanjutan.

5 Pojok Literasi untuk 5 Tantangan Desa

Menjawab berbagai persoalan tersebut, PANGLIMAJA dikembangkan melalui lima Pojok Literasi yang saling terintegrasi.

Pertama, Pojok Kriya Maja atau Sanggar Anyam Kreatif. Program ini ditujukan bagi pengrajin, ibu-ibu PKK, dan lansia melalui pelatihan inovasi desain kontemporer serta manajemen konsistensi produksi. Tujuannya adalah membantu masyarakat menghasilkan produk anyaman yang lebih inovatif dengan ukuran, kerapian, dan kualitas yang lebih seragam.

Kedua, Pojok Media Maja sebagai Pusat Konten dan Pemasaran. Program ini menyasar remaja dan komunitas pengembang literasi digital desa melalui pelatihan fotografi produk, penyusunan katalog, strategi pemasaran digital, serta green storytelling. Melalui program ini, produk lokal diharapkan tidak hanya memiliki kualitas yang baik, tetapi juga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Ketiga, Pojok Mutu Maja, yaitu Klinik Kurasi dan Standardisasi. Masyarakat dilatih memahami quality control, kurasi produk, perhitungan harga pokok produksi, hingga strategi penentuan harga. Dengan demikian, pengrajin dan pengelola produk desa diharapkan mampu membangun tata kelola usaha yang lebih profesional.

Keempat, Pojok Tunas Maja atau Markas Literasi dan Mimpi. Program ini menyasar anak-anak usia sekolah melalui kegiatan literasi, seminar motivasi, penulisan kreatif, dan pengenalan potensi lokal. Anak-anak didorong untuk mengenal identitas desanya, memiliki cita-cita, serta memandang pendidikan sebagai bagian penting dari masa depan mereka.

Foto Bersama anak-anak desa di sesi pertama pojok tunas maja | Foto: Dokumen Pribadi
info gambar

Foto Bersama anak-anak desa di sesi pertama pojok tunas maja | Foto: Dokumen Pribadi


Kelima, Pojok Asri Maja atau Aksi Sampah Resik dan Inovatif. Program ini mengajak masyarakat memahami pemilahan sampah rumah tangga sekaligus memanfaatkan limbah melalui kegiatan upcycling.

Limbah tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai bahan yang dapat dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai guna dan bernilai jual.

Kelima program tersebut dirancang bukan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Masing-masing pojok memiliki fungsi yang saling mendukung dalam membangun ekosistem literasi sosial, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan di Desa Tegalmaja.

baca juga

Belajar Tidak Berhenti di Ruang Kelas

PANGLIMAJA membawa gagasan bahwa literasi tidak terbatas pada kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, literasi juga mencakup kemampuan mengelola usaha, memanfaatkan teknologi, menjaga lingkungan, mengembangkan kreativitas, serta memahami potensi diri dan lingkungan sekitar.

Karena itu, metode pelaksanaan program tidak hanya berupa sosialisasi. Tim melakukan identifikasi masalah, survei lapangan, Focus Group Discussion (FGD), pemetaan program bersama masyarakat, pembentukan kelompok binaan, pelaksanaan edukasi dan pelatihan, hingga monitoring dan evaluasi.

Sesi diskusi bersama warga | Foto: Dokumen Pribadi
info gambar

Sesi diskusi bersama warga | Foto: Dokumen Pribadi


Program dirancang melalui 12 kali pertemuan partisipatif di lima Pojok Literasi. Menyentuh partisipasi 581 warga menjadi sasaran program yang terdiri atas kelompok pengrajin, pemuda dan pengembang literasi digital desa, perempuan dan laki-laki produktif, pengurus lingkungan, ibu rumah tangga, masyarakat umum, serta anak usia sekolah dasar.

Membangun Keberlanjutan bersama Masyarakat

Keberlanjutan menjadi salah satu fondasi utama PANGLIMAJA. Program ini tidak dirancang untuk berhenti setelah mahasiswa menyelesaikan rangkaian kegiatan. Pemerintah Desa Tegalmaja dilibatkan dalam koordinasi, penyediaan fasilitas, penyebaran informasi, serta monitoring dan evaluasi program. Kader desa juga berperan dalam edukasi, mobilisasi masyarakat, pendataan potensi desa, dan tindak lanjut intervensi literasi.

Pertemuan dengan wakil bupati serang, M. Najib Hamas | Foto: Dokumen Pribadi
info gambar

Pertemuan dengan wakil bupati serang, M. Najib Hamas | Foto: Dokumen Pribadi


Kolaborasi juga dibangun dengan berbagai pihak, termasuk kelompok masyarakat, Karang Taruna, PKK, serta sejumlah perangkat pemerintah daerah. Dalam aspek lingkungan, mitra pemerintah daerah diarahkan untuk mendukung tata kelola sampah dan pengembangan upcycling. Sementara dalam aspek pemasaran, kolaborasi diarahkan pada penguatan legalitas, standardisasi, promosi, serta perluasan pasar produk masyarakat.

baca juga

Dari Kampus untuk Desa, dari Desa untuk Masa Depan

PANGLIMAJA pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai program pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Lebih jauh, program ini menjadi ruang kolaborasi untuk mempertemukan pengetahuan perguruan tinggi dengan pengalaman dan potensi masyarakat desa.

Berbagai luaran program juga disiapkan untuk memperkuat dampak dan dokumentasi, mulai dari buku refleksi, modul pembelajaran 5 Pojok Literasi, produk anyaman dan aksesoris daur ulang, zine anak, katalog dan video profile produk di website, poster infografis, video dokumenter, hingga policy brief bagi pemerintah daerah.

Pameran Produk Anyaman UMKM Desa
info gambar

Pameran Produk Anyaman UMKM Desa "Vittaloka" bersama Wamen PPPA Ibu Veronica Tan | Foto: Dokumen Pribadi


Dari anyaman yang diwariskan lintas generasi, kreativitas anak-anak, semangat pemuda, hingga kepedulian terhadap lingkungan, Desa Tegalmaja memiliki modal sosial untuk tumbuh. PANGLIMAJA hadir untuk memperkuat modal tersebut agar potensi lokal tidak berhenti sebagai kekayaan desa, tetapi berkembang menjadi kekuatan bagi terciptanya masyarakat yang cerdas, berdaya, dan berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.