rohanna kudus perempuan yang mengubah pena menjadi senjata - News | Good News From Indonesia 2026

Rohanna Kudus, Perempuan yang Mengubah Pena menjadi Senjata

Rohanna Kudus, Perempuan yang Mengubah Pena menjadi Senjata
images info

Rohanna Kudus (Wikipedia)


Sejarah pers Indonesia tidak hanya diwarnai oleh tokoh laki-laki. Jauh sebelum perempuan memiliki ruang yang luas di dunia jurnalistik, Rohana Kudus telah lebih dahulu hadir membawa perubahan. Melalui tulisan, pendidikan, dan keberaniannya menyuarakan persoalan perempuan, Rohana menjadi salah satu pelopor penting dalam perjalanan pers Indonesia.

Sebagaimana dikutip dari laman Historia.id, Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Sumatra Barat, pada 20 Desember 1884. Pada masa tersebut, kesempatan memperoleh pendidikan bagi perempuan masih sangat terbatas. Sekolah belum dapat diakses secara bebas oleh semua kalangan, terlebih bagi anak perempuan. Kondisi sosial yang masih kuat dengan pandangan tradisional juga membuat ruang gerak perempuan cenderung sempit.

Namun, keadaan tersebut tidak menghalangi Rohana untuk belajar. Sejak usia muda, Rohana memiliki ketertarikan besar terhadap membaca dan menulis. Lingkungan keluarga turut memberikan pengaruh terhadap perkembangan pengetahuannya. Ayahnya dikenal memiliki perhatian terhadap pendidikan sehingga Rohana memperoleh kesempatan mengenal berbagai bahan bacaan sejak masih kecil.

Kemampuan membaca dan menulis yang dimiliki sejak dini kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya. Bagi Rohana, ilmu pengetahuan bukan hanya sesuatu yang perlu dimiliki secara pribadi. Pengetahuan harus dibagikan agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama bagi perempuan yang pada masa itu belum memperoleh kesempatan belajar secara luas.

baca juga

Pendidikan Perempuan menjadi Perhatian Utama

Sebelum dikenal sebagai wartawati, Rohana Kudus telah lebih dahulu dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap pendidikan perempuan. Ia melihat bahwa keterbatasan pendidikan dapat membuat perempuan sulit mengembangkan kemampuan dan menentukan masa depan.

Rohana kemudian mulai mengajarkan berbagai pengetahuan kepada perempuan dan anak-anak di lingkungan sekitarnya. Kegiatan belajar dilakukan dengan sederhana. Membaca, menulis, mengaji, hingga berbagai keterampilan seperti menjahit menjadi bagian dari pembelajaran.

Pada 1911, Rohana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang. Sekolah tersebut menjadi tempat perempuan memperoleh pendidikan sekaligus keterampilan. Kehadiran lembaga ini menjadi salah satu langkah penting dalam perjuangan Rohana untuk membuka akses pengetahuan bagi kaum perempuan.

Sekolah Kerajinan Amai Setia juga memperlihatkan bahwa perjuangan pendidikan tidak selalu harus dimulai melalui lembaga besar dengan fasilitas lengkap. Keinginan untuk memberikan kesempatan belajar dapat tumbuh dari kepedulian terhadap keadaan lingkungan sekitar.

Memasuki Dunia Jurnalistik melalui Soenting Melajoe

Perjuangan Rohana kemudian berkembang ke dunia pers. Pada awal abad ke-20, surat kabar menjadi salah satu sarana penting dalam menyampaikan informasi dan menyebarkan gagasan kepada masyarakat.

Melihat besarnya pengaruh media, Rohana ikut terlibat dalam penerbitan Soenting Melajoe yang terbit pertama kali pada 1912. Surat kabar tersebut menjadi salah satu media yang memberikan ruang bagi perempuan untuk membaca dan membicarakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan perempuan.

Kehadiran Soenting Melajoe memiliki arti penting dalam sejarah pers perempuan di Indonesia. Pada masa ketika perempuan belum banyak terlibat dalam dunia jurnalistik, keberadaan Rohana menunjukkan bahwa perempuan juga mampu menjadi penulis dan pengelola media.

Melalui media tersebut, berbagai gagasan mengenai pendidikan, keterampilan, kehidupan sosial, dan perempuan dapat disampaikan kepada masyarakat. Tulisan tidak lagi hanya menjadi sarana menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi alat untuk membangun kesadaran.

baca juga

Pena Menjadi Alat untuk Menyuarakan Perubahan

Perjuangan Rohana Kudus memiliki keunikan tersendiri. Tidak ada pertempuran bersenjata atau gerakan besar yang menjadi ciri perjuangannya. Rohana memilih pendidikan dan tulisan sebagai jalan untuk membawa perubahan.

Pilihan tersebut sangat berarti jika melihat kondisi masyarakat pada masa itu. Ketika kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan masih terbatas, kemampuan membaca dan menulis dapat menjadi pintu menuju pengetahuan yang lebih luas.

Rohana memahami bahwa perempuan yang memiliki pengetahuan akan lebih mampu memahami keadaan di sekitarnya. Dari pengetahuan tersebut dapat tumbuh keberanian untuk menyampaikan pendapat dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

Pers kemudian menjadi ruang yang memperluas perjuangan tersebut. Jika pengajaran hanya menjangkau lingkungan sekitar, tulisan dapat dibaca oleh masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, gagasan mengenai kemajuan perempuan dapat terus berkembang.

Hal tersebut membuat perjalanan Rohana tidak dapat dipisahkan dari dua bidang utama, yaitu pendidikan dan jurnalistik. Keduanya menjadi sarana untuk tujuan yang sama: memperluas wawasan dan meningkatkan peran perempuan dalam kehidupan sosial.

Rohana Kudus bukan hanya seorang wartawati. Perjalanan hidupnya menunjukkan sosok yang aktif dalam berbagai bidang. Ia merupakan pendidik, penulis, penggerak perempuan, sekaligus tokoh yang memiliki perhatian terhadap perkembangan masyarakat.

Keberaniannya untuk bergerak di tengah keterbatasan menjadi salah satu hal yang membuat kiprahnya begitu penting. Pada saat perempuan belum memiliki banyak kesempatan untuk tampil di ruang publik, Rohana justru berusaha menciptakan ruang tersebut.

Pengakuan terhadap Perjuangan Rohana Kudus

Perjuangan Rohana Kudus akhirnya mendapatkan berbagai penghargaan. Pada 1974, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memberikan penghargaan sebagai Wartawati Pertama. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1987, Rohana memperoleh penghargaan sebagai Perintis Pers Indonesia dari Menteri Penerangan Republik Indonesia.

Penghargaan tertinggi datang pada 2019. Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Rohana Kudus sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 120/TK/Tahun 2019.

Rohana Kudus meninggal dunia di Jakarta pada 17 Agustus 1972 dalam usia 87 tahun. Kepergiannya tidak menghapus jejak perjuangan yang telah dibangun selama puluhan tahun. Gagasan mengenai pendidikan dan keberanian perempuan untuk berkiprah di ruang publik justru terus berkembang.

Warisan Rohana di Tengah Perkembangan Pers Modern

Perkembangan dunia jurnalistik saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan masa Rohana Kudus. Media cetak tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Berita dapat disebarkan melalui situs web, media sosial, video, podcast, hingga berbagai platform digital.

Meski zaman berubah, nilai perjuangan Rohana tetap relevan. Dunia pers masih membutuhkan keberanian untuk menyampaikan informasi yang benar, sementara pendidikan tetap menjadi dasar penting dalam membangun masyarakat yang berpengetahuan.

Rohana telah memberikan contoh bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti bergerak. Dengan kemampuan yang dimiliki, perubahan dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Membuka ruang belajar, menulis gagasan, dan memberikan kesempatan kepada perempuan merupakan langkah sederhana yang pada akhirnya meninggalkan pengaruh besar.

Perjalanan Rohana menunjukkan bahwa perubahan dapat lahir dari keberanian seseorang untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan pada zamannya. Ketika pendidikan perempuan masih menghadapi banyak batasan, Rohana memilih mendirikan tempat belajar. Ketika ruang pers bagi perempuan masih sempit, Rohana ikut menghadirkan media yang memberikan tempat bagi suara perempuan.

Dari sebuah kota kecil di Sumatra Barat, lahir perempuan yang berhasil membuka jalan bagi generasi perempuan berikutnya untuk belajar, menulis, dan mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.