saat letusan gunung krakatau 1883 ubah nasib pertanian dunia - News | Good News From Indonesia 2026

Saat Letusan Krakatau 1883 Mengubah Nasib Pertanian Dunia

Saat Letusan Krakatau 1883 Mengubah Nasib Pertanian Dunia
images info

Ilustrasi letusan gunung berapi dengan aliran lava. Foto: wirestock/Freepik


Belakangan Anak Krakatau lagi ramai jadi perbincangan karena aktivitas erupsinya yang meningkat. Sejak 4 September 2026, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus dengan diikuti lava fountain yang berdampak di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung. Anak Krakatau sendiri sudah ditetapkan siaga III sejak 2 Juli 2026.

Tapi, tahukah Kawan, "ibu" dari Anak Krakatau, si Gunung Krakatau, juga pernah mengalami erupsi dahsyat di tahun 1883 loh. Kala itu sampai bikin gagal panen di berbagai belahan dunia. Bahkan, suara ledakannya terdengar hingga jarak 4.800 km dari lokasi letusan.

Lantas, bagaimana dampaknya dalam sektor pertanian? Apakah kehancuran itu hanya menyisakan petaka, atau malah jadi berkah di kemudian hari?

Ketika Abu Krakatau Bikin Dunia Kelaparan

Ledakan besar terjadi dari Gunung Krakatau di tanggal 27 Agustus 1883. Letusan tersebut menjadi salah satu ledakan vulkanik terbesar dalam sejarah. Saking besarnya, letusan Gunung Krakatau pada saat itu menyebabkan sebagian besar tubuh Gunung Krakatau runtuh.

Tsunami juga terjadi, menyapu sejumlah wilayah pesisir, bahkan sampai pada pantai-pantai yang jauh, seperti Pesisir India dan Afrika Timur. Ribuan hektare lahan pertanian di Selat Sunda lenyap akibat abu vulkanik dan tsunami yang menerjang.

Letusan ini juga memicu perubahan iklim yang ditandai dengan penurunan suhu ekstrem secara global. Ledakan Gunung Krakatau di wilayah tropis juga mempengaruhi pola angin musiman dan mengubah pola atmosfer, yang pada akhirnya memicu ketidakstabilan cuaca di berbagai belahan dunia (Wegmann dkk., 2014).

Ramanda dan Romadona (2025) mencatat bahwa, ledakan dahsyat ini menghancurkan wilayah di Selat Sunda. Vegetasi di sekitarnya juga banyak yang mati, terbakar, dan terkubur abu vulkanik.

Begitu pula pada faunanya. Awan panas dan abu vulkanik menewaskan banyak spesies fauna. Tsunami yang terjadi pun menewaskan banyak organisme laut.

Letusan Gunung Krakatau juga memberi efek pada pertanian di berbagai belahan dunia yang memengaruhi hasil panen. Gas vulkanik yang diluapkan oleh Gunung Krakatau seperti Sulfur Dioksida (SO₂), menyebabkan terbentuknya kabut vulkanik yang berwarna merah. Sulfur Dioksida juga dapat menyebabkan terjadinya hujan asam ringan yang mengancam pertumbuhan tanaman (Ramanda & Romadona, 2025).

baca juga

Dari Puing jadi Berkah Tanah Subur Pasca-Erupsi

Dalam jangka pendek, mungkin ledakan dahsyat itu memang menjadi sebuah petaka. Banyak kerusakan yang terjadi setelahnya. Akan tetapi, ketika dilihat dari kacamata masa depan, letusan Gunung Krakatau memiliki dampak positif terhadap lingkungan di sekitarnya.

Abu vulkanik yang menyelimuti permukaan bumi akan menyuburkan tanah setelah mengendap cukup lama. Butuh waktu puluhan tahun agar dampak dari abu vulkanik dari letusan gunung berapi dapat berguna bagi tanaman.

Menurut penelitian dari Suntoro et al. (2014), abu vulkanik memiliki kandungan Mg yang dapat meningkatkan serapan magnesium oleh tanaman, dan kandungan klorofil tanaman. Temuan ini berasal dari penelitian abu vulkanik Gunung Kelud. Sementara pada penelitian Setiawati et al. (2020) mengatakan bahwa tanah Anak Krakatau mengandung MgO sebesar 3,06–6,13%.

Magnesium sendiri menjadi salah satu unsur yang berfungsi untuk pembentukan zat hijau daun (klorofil). Sedangkan untuk kandungan klorofil dalam daun berperan dalam penyediaan makanan bagi tanaman. Artinya, ketersediaan magnesium di tanah dapat membantu mendukung pertumbuhan tanaman.

Meski demikian, unsur hara tanaman tidak serta merta tersedia dari abu vulkanik ledakan gunung berapi untuk tanaman. Masih ada proses pelapukan agar mineral di dalamnya dapat berkontribusi pada penyediaan hara yang terkandung dalam tanah.

Untuk jangka panjang, karakter tanah yang berubah dapat menjadi salah satu keuntungan ekologis bagi kawasan sekitar gunung berapi, misalnya Krakatau dan Anak Krakatau.

Kesuburan tanah dapat mendukung kehidupan masyarakat, khususnya melalui aktivitas pertanian, tentunya ketika kondisi lingkungan sudah aman untuk dihuni dan dikelola.

Anak Krakatau Masih Aktif, Apa yang Harus Dilakukan Petani?

Dengan status aktivitas level III (Siaga) yang terjadi saat ini, baiknya untuk petani tetap bijak dalam mengambil keputusan. Berdasarkan imbauan PVMBG yang tercantum dalam laporan Kementerian ESDM per 6 September 2026, masyarakat tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius 3 km. Siapa pun, termasuk petani, perlu mengindahkan imbauan ini dan mementingkan keselamatan diri sendiri.

Terlebih, status aktivitas Anak Krakatau masih naik turun. PVMBG bahkan mencatat episode erupsi menerus yang terjadi awal September ini berlangsung sekitar 25 jam. Meski sempat mereda, status Siaga masih dipertahankan. Anak Krakatau memang sedang tenang sesaat, tapi itu bukan jaminan keadaan sudah aman sepenuhnya.

Terlepas perihal keselamatan, ada satu hal yang perlu kita ingat, manfaat jangka panjang pada lahan pertanian, seperti tanah yang subur itu nggak datang secara instan. Butuh waktu puluhan tahun seperti yang terjadi pada sejarah induk Krakatau 1883.

Jadi, alih-alih menunggu, petani di kawasan bencana vulkanik bisa mulai mempersiapkan diri, misalnya mencatat kondisi lahan terkini, memahami pola abu vulkanik di daerahnya, serta aktif mengikuti informasi resmi untuk memantau status aktivitas terkini. Manfaat lingkungan dan keselamatan harus berjalan beriringan, tanpa ada yang dikorbankan salah satunya.

baca juga

Barangkali bumi memang demikian. Sesekali ia mengamuk, lalu perlahan menyembuhkan dirinya sendiri. Krakatau 1883 membuktikannya. Bencana alam yang awalnya menghancurkan, memunculkan tanah yang lebih subur puluhan tahun kemudian. Perubahan iklim yang terjadi juga sempat mendinginkan bumi, akibat adanya penurunan suhu ekstrem di beberapa bagian bumi.

Yang perlu dipertanyakan, sebagai manusia kita ingin bertindak sejauh mana? Menunggu alam memproses semuanya sendiri, atau ikut andil membantu prosesnya agar cepat sampai? Menjadikan ilmu yang kita miliki hanya sebatas tahu, atau menerapkannya untuk membantu alam dalam memperbaiki diri.

Berkah yang akan kita rasakan dari kegiatan alam hari ini, nggak akan serta merta datang esok hari. Seberapa lama kita menunggu, bergantung pada keinginan kita andil dalam proses alam menemukan kesembuhannya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.