anak krakatau mengamuk tanda mulai zaman goro goro - News | Good News From Indonesia 2026

Anak Krakatau Mengamuk, Tanda Mulai Zaman Goro-Goro?

Anak Krakatau Mengamuk, Tanda Mulai Zaman Goro-Goro?
images info

Anak Krakatau 2013 - Lord Mountbatten (Wikisource)


Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelip. Bumi berguncang dan petir menyambar-nyambar di langit. Bagi Kawan GNFI yang familiar dengan pewayangan, kata-kata tersebut harusnya sudah tidak asing lagi.

Dari balik layarnya yang hanya disinari oleh cahaya remang-remang sebuah lampu minyak, sang dalang menuturkannya ketika lakon akan masuk ke babak zaman goro-goro, sebuah waktu yang penuh dengan masalah dan krisis.

Seolah-olah, alam memberikan peringatan kepada setiap makhluk, termasuk manusia tentang tantangan-tantangan yang akan datang setelahnya.

Namun, apa yang lazimnya merupakan sekadar cerita di atas panggung, baru-baru ini menjelma jadi pengalaman nyata banyak orang ketika beberapa gunung api di seantero wilayah tanah air meletus pada waktu yang berdekatan.

Keadaan mencekam itu terangkum dengan baik ketika Berita Satu menerbitkan artikel daring berjudul “Indonesia Wajib Waspada! 8 Gunung Api Erupsi, Anak Krakatau Terbaru” pada Sabtu (5/9/2026) lalu.

Ternyata, bencananya tidak berhenti di sanakarena setelah Anak Krakatau meluapkan amarahnya. Kini, Gunung Ibu di Maluku Utara dan Gunung Semeru di Jawa Timur yang mengamuk.

baca juga

Tanda Mulai Zaman Goro-Goro?

Paralel antara cerita wayang nun jauh di alam khayalan itu pun terus berlanjut. Setelah gunung-gunung api itu mengamuk dan menggetarkan bumi serta menyalakan langit, yang datang berikutnya adalah kerusakan. Kemudian, orang-orang merasa bingung, gelisah, sekaligus terancam oleh marabahaya tersebut.

Mungkin, sekarang terlalu dini untuk mengatakan bahwa zaman goro-goro seperti diceritakan dalam permainan wayang itu telah tiba. Tapi yang jelas, keadaannya menjadi tidak baik-baik saja.

Di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, para nelayan yang berlayar untuk menangkap ikan menemukan dirinya terkepung oleh tembok awan gelap berkilau petir-petir yang menghujani batu di atas kepala mereka. Sementara itu, beberapa bandara di Pulau Sumatra dan Jawa ditutup.

Roda kehidupan masyarakat terkena batu sandungan di jalan dan penumpangnya terhentak ke udara. Di Jakarta, warga yang akan beristirahat atau bersiap-siap untuk berolahraga di hari Minggunya menemukan butiran debu berterbangan ke sana dan ke sini.

Namun, ini bukan salju yang indah untuk dilihat, melainkan abu vulkanik yang berbahaya bagi saluran pernapasan bila dihirup.

Kalau kejadian ini ada dalam sebuah cerita wayang, maka apa yang akan datang berikutnya sudah pastilah zaman goro-goro itu. Sebuah waktu yang penuh dengan guncangan dan tokoh-tokoh wayangnya pun akan segera bertarung dalam perang Baratayudha yang hebat.

Para penonton yang menyimak di tengah-tengah kegelapan malam, disinari oleh bulan purnama di angkasa selain cahaya lampu sang dalang hanya bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi klimaks ceritanya. Tidak ada yang bisa dilakukan selain itu.

Akan tetapi, keadaannya berbeda di dunia nyata ini. Erupsi beberapa gunung api itu secara berturut-turut dalam waktu dekat tidak harus ditafsirkan sebagai permulaan dari kondisi goro-goro yang tak terelakkan.

Memang, beberapa orang dalam percakapan di medsos yang sepertinya familiar juga dengan pewayangan menunjukkan sikap ekstrem dalam mengomentari kejadian-kejadian tersebut. Atau sekurang-kurangnya, mereka menyiratkan hal itu, bahwasanya rangkaian peristiwa ini akan membuka babak permasalahan baru yang lebih besar lagi dalam waktu dekat.

Berbeda dari kesimpulan seperti itu, kita bisa melihat erupsi-erupsi ini serta kejadian-kejadian yang mengikutinya sebagai ujian. Dan seperti ujian pada umumnya, hasilnya tidak pernah absolut. Mereka yang menjalaninya bisa saja lulus atau tidak lulus dari ujian tersebut.

Di sini, rangkaian peristiwa erupsi gunung-gunung selama beberapa waktu ke belakang itu dapat dilihat sebagai sebuah ujian. Kejadian-kejadian setelahnya akan ditentukan oleh kemampuan pihak yang diuji.

Dalam kasus ini, berguncang-guncangnya bumi dan menyala-nyalanya langit di tanah air menjadi berbeda dengan kejadian serupa yang dideskripsikan dalam cerita-cerita wayang. Jadi, kita belum tentu jatuh ke gelapnya jurang zaman goro-goro setelah ini.

baca juga

Seperti dalam contoh-contoh dampak erupsi gunung-gunung api di atas itu, bencana ini berdampak terhadap beberapa aktivitas di berbagai lini kehidupan masyarakat. Kehidupan masyarakat jadi terganggu, laju transportasi tersendat, dan kegiatan-kegiatan perekonomian jadi terganjal. Kesehatan orang-orang terancam, serta upayanya mencari nafkah terganggu.

Dalam kasus yang ekstrem bagi masyarakat yang tinggal di dekat lokasi terjadinya bencana alam, bahkan nyawa yang jadi pertaruhan bila proses evakuasi tidak berjalan dengan baik.

Mengenai yang terakhir, bangsa kita baru-baru ini sedang banyak mengalami tragedi-tragedi di mana orang-orang harus kehilangan nyawa karena tidak bisa diselamatkan tepat waktu sebelum bencananya terjadi, atau bantuan datang terlalu telat untuk memberikan pertolongan yang berarti.

Ujian Berat Bangsa Indonesia

Itu merupakan ujian yang diberikan oleh alam untuk kita kerjakan dengan sungguh-sungguh. Sebuah pencobaan yang menentukan apakah bangsa kita akan keluar dari musibah-musibah besar itu dengan kepala mendangak karena berhasil mengatasi segala rintangan dan bisa lebih siap lagi untuk menghadapi permasalahan-permasalahan serupa. Atau, beribu-ribu orang akan terus menderita untuk waktu yang lama jika kita bisa memecahkan persoalannya dengan baik.

Masalah besar yang bila dirangkum menjadi pertanyaan-pertanyaan sederhana adalah mampukah kita memberi pertolongan pertama dengan cepat kepada para korban di lokasi kejadian.

Berikutnya, dapatkah kita mempercepat upaya pembangunan kembali daerah-daerah yang terdampak agar masyarakat bisa lekas kembali ke kehidupan normal seperti sedia kala sebelum bencana datang? Kemudian, dapatkah kita belajar dari kelemahan-kelemahan di masa lalu yang memperparah dampak bencana.

baca juga

Setelahnya, dapatkah kita memanfaatkan pelajaran-pelajaran tersebut dalam membangun kehidupan masyarakat, infrastruktur-infrastruktur, dan lembaga-lembaga yang lebih tangguh lagi terhadap ancaman-ancaman bencana di masa depan.

Di sini, pemerintah harusnya mengambil peran yang penting. Setidaknya, masyarakat telah menaruh ekspektasi yang besar terhadap pemerintah dalam masa-masa yang mencoba seperti ini. Pemerintah dengan segala kementerian, badan-badan, alat-alatnya, termasuk fungsi komunikasinya, memiliki posisi yang unik untuk menghadapi peristiwa bencana-bencana di beberapa tempat sekaligus itu.

Cakupan tanggung jawabnya nasional. Dan sumber dayanya banyak tersebar di berbagai wilayah untuk digerakkan melakukan pertolongan pertama serta mengawal proses pembangunan kembali komunitas-komunitas yang terdampak.

Tanpa perlu presiden berbicara di televisi nasional pada jam tayang utama atau mengunggah video pernyataan di medsos, masing-masing kepala daerah dengan aparatur-aparatur pemdanya dapat berkomunikasi lebih cepat kepada masyarakat di dalam wilayahnya. BPBD memberikan tanggapan pertama sebelum pesawat Hercules perdana dari Halim datang ke bandara setempat untuk menyalurkan bantuan.

Setelahnya, Kementerian Sosial, Pekerjaan Umum, Perhubungan, terjun menggerakan rekonstruksi di daerah-daerah terdampak. Sementara itu, BNPB melakukan evaluasi menyeluruh untuk memperkuat sistem peringatan dini yang lebih responsif lagi terhadap potensi bencana di masa depan.

Jika itu semua dilakukan, maka goro-goro yang sudah pasti terjadi dalam dunia pewayangan dengan segala marabahaya dan penderitaannya bisa dihindari.

Ketika bangsa kita dapat menjawab tantangan bencana-bencana alam ini dengan baik, di mana seluruh perhatian, tenaga, sumber daya, dan pikiran dicurahkan secara bijak dan tepat, hasil akhirnya menjadi relatif.

Kalau ini yang dilakukan, maka ancaman besar yang dihadapi oleh Indonesia sebagai negara yang duduk di pojok barat daya ‘Ring of Fire’ berubah menjadi kesempatan untuk menjadikan bangsa kita semakin adaptif dan tangguh menghadapi bencana-bencana alam ke depannya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.