Silek masih jarang tersebut oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, sehingga wajar kalau budaya satu ini kalah pamor. Silek merupakan seni bela diri khas Minang, Sumatra Barat yang memadukan kelincahan dan keindahan gerak.
Tradisi masyarakat Minang seperti merantau dan mempertahankan teritorial nagari mendorong berkembangnya silek. Mereka harus bisa belajar mempertahankan diri saat mereka berada di luar maupun di dalam kampung halaman mereka.
Dari sisi sejarah hingga filosofis, silek tidak kalah jauh dari saudaranya sendiri, pencak silat. Namun, pencak silat jauh lebih populer di ranah global hingga resmi diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2019.
Perbedaan Silek dan Silat: Terdengar Sama, tetapi Berbeda
Kawan GNFI yang baru pertama kali mendengar nama silek pasti langsung merasa adanya kesamaan dengan seni bela diri silat. Namun, banyak perbedaan yang menjadikan silek dan silat memiliki identitasnya masing-masing.
Silek muncul pada abad ke-12 di Sumatra Barat dan mencerminkan filosofi masyarakat Minang yang menekankan rasa hormat terhadap lawan serta keharmonisan. Seni bela diri ini menjadi warisan turun-temurun dan tumbuh spesifik di wilayah Minangkabau.
Cerita rakyat menyebutkan bahwa terdapat lima pendekar yang dipercaya mengembangkan silek yaitu, Datuak Suri Dirajo bersama keempat rekannya, Harimau Champo, Kuciang Siam, Kambiang Utan, dan Anjiang Mualim. Keempat nama ini bukanlah nama asli melainkan sebuah gelar.
Sedangkan pencak silat berasal dari dua daerah, yaitu Sumatra Barat dan Cimande, Jawa Barat dilansir dari Kompas. Sejak pertama kali ditemukan, silat langsung menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan mulai mendirikan perguruan masing-masing.
Kehadiran perguruan ini melahirkan beragam aliran di tanah Minang maupun tingkat nasional:
Aliran Silek Minangkabau:
Silek Tuo, Silek Lanyah, Silek Kumango, Silek Harimau, Silek Lintau, Silek Sitaralak, Silek Pauah, Silek Sunua, Silek Luncua, Silek Baruah, dan Silek Bungo.
Perguruan Pencak Silat Nasional:
PSHT, Merpati Putih, Pencak Silat Cimande, Perisai Diri, dan sebagainya.
Mengapa Silek Jarang Tampil sebagai Pertunjukan?
Dalam frasa pencak silat, terdapat kata pencak yang berasal dari mancak dan memiliki makna gestur atau koreografi yang indah. Dalam tradisi Minang, terdapat kesenian teater yang bernama randai, dan ini menjadi dasar perkembangan unsur mancak dalam silek.
Berawal dari penyampaian cerita rakyat hingga berkembang menjadi seni teatrikal yang mendorong unsur drama untuk dipertontonkan di depan rakyat sebagai hiburan.
Namun, silek jarang dipertontonkan, dikarenakan sifat asli silek yang berfokus pada efektivitas pertahanan diri dan gerakan melumpuhkan lawan sehingga dikatakan jauh dari kata hiburan.
Filosofi Silek Minangkabau dalam Layar Lebar
Pada 2017 yang lalu, sisi filosofis seni bela diri ini pernah diangkat ke layar lebar dengan judul Surau dan Silek (2017). Disutradarai langsung oleh Arief Malinmudo, film ini mengusung tema drama keluarga yang menceritakan anak laki-laki bernama Adil.
Ia merasa dirinya dicurangi oleh lawannya bernama Hardi saat dia kalah. Dirinya merasa semakin dibuat kecewa ketika guru satu-satunya, yaitu pamannya sendiri lebih memilih meninggalkan desa dan tinggal di kota.
Bersama teman-temannya, Adil mencari guru baru dan mereka bertemu dengan seorang dosen pensiun bernama Johar. Lewat bimbingan Johar, Adil diajari makna silek sejati. Adil perlahan belajar bahwa silek bukan untuk kekerasan melainkan untuk berteman dan mencari Tuhan.
Melalui film ini, penonton bisa belajar bahwa nilai utama silek bukanlah untuk mencari siapa yang paling hebat melainkan perdamaian. Prinsip utama silek selalu mengutamakan melindungi diri sendiri maupun orang yang lemah bukan untuk menindas.
Dari sejarah kemunculannya hingga representasinya di layar lebar, silek memperlihatkan kekayaan yang tidak kalah jauh dengan seni bela diri lainnya. Kalahnya pamor silek mungkin bukan karena tidak menarik, tapi seberapa banyak orang yang mau mengenalnya jauh dari sekadar nama.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


