Ingatan adalah peringatan. Dan peringatan, jika didengar, dapat menjadi awal perubahan. Di antara batu bara dan piring kosong, masa depan Indonesia sedang dipertaruhkan.
Di sebuah desa pesisir Kalimantan, seorang ibu menanak nasi dengan api kecil dari kayu bakar yang dikumpulkannya sejak pagi. Asap tipis keluar dari dapur papan dan menempel pada dinding yang mulai menghitam. Ia membuka tutup panci, mengaduk beras yang mulai mengembang, lalu menoleh ke arah anaknya yang duduk di lantai tanah.
“Kalau nasinya cukup, kita makan dengan ikan asin,” katanya pelan. Kalimat itu terdengar sederhana. Tidak ada keluhan. Tidak ada kemarahan. Hanya kepasrahan yang sudah menjadi kebiasaan.
Pada saat yang hampir bersamaan, ribuan kilometer dari dapur kecil itu, sebuah layar komputer di lantai atas gedung perkantoran Jakarta menampilkan grafik yang menanjak tajam. Garis biru yang melesat seperti roket. Grafik itu menunjukkan sesuatu yang disebut pertumbuhan ekonomi. Namun bagi sebagian orang, pertumbuhan itu terasa seperti jarak yang makin jauh.
Di negeri ini, jarak sering tidak terlihat. Ia tidak selalu berupa kilometer, melainkan angka. Dan angka itu kini berbunyi keras: kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan puluhan juta orang biasa.
Baca Selengkapnya

