Perubahan iklim kini jadi bahasa baru. Ia hadir sebagai kerangka berpikir yang jarang dipertanyakan. Di baliknya, ada jejaring lembaga internasional dan rekomendasi global. Juga aliran pendanaan yang mengikuti narasi tertentu. Sebuah narasi yang kadang tak selaras dengan kearifan lokal.
Di sebuah ruang konferensi, perdebatan itu berlangsung. Para ilmuwan senior—penulis laporan yang kelak akan dibaca pemerintah dunia—berbicara dengan nada tenang, tetapi menyimpan ketegangan yang nyaris tak kasatmata.
Grafik-grafik diproyeksikan, kurva-kurva naik turun seperti detak jantung bumi yang sedang diperiksa. Ada yang menunjuk angka, ada yang meragukan metode, ada pula yang diam, mencatat, seolah menyimpan keraguan untuk waktu yang lebih aman.
Di luar ruangan itu, dunia berjalan seperti biasa. Hutan-hutan ditebang dengan ritme yang lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan untuk memahami akibatnya. Sungai-sungai mengalir membawa sisa-sisa kehidupan yang telah diubah menjadi limbah.
Namun di dalam ruangan, perdebatan itu terasa seperti pertarungan tentang sesuatu yang lebih abstrak: apakah perubahan iklim adalah fakta yang tak terbantahkan, atau sekadar konstruksi ilmiah yang masih terbuka untuk ditafsirkan.
Baca Selengkapnya

