#LombaArtikelPKN2023 #PekanBudayaNasional2023 #IndonesiaMelumbung untuk Melambung
Tahukah kawan GNFI tentang tradisi Ya Qowiyyu? Ataukah kawan GNFI pernah mendengarnya? Adapun dalam ulasan tulisan ini, akan dikulik tentang tradisi Ya Qowiyyu yang menjadi kearifan lokal daerah setempat. Ya Qowiyyu merupakan salah satu tradisi yang sampai sekarang masih dilaksanakan dan makin eksis di kalangan masyarakat. Tradisi yang bermula dari Ki Ageng Gribig pulang setelah menunaikan ibadah haji. Ki Ageng Gribig membawa oleh-oleh berupa kue apem yang dibagikan kepada murid dan tetangga, yang kemudian menjadi sebuah keharusan yang tidak dapat ditinggalkan oleh masyarakat setempat dan sekarang menjadi ciri khas atau oleh-oleh yang berasal dari desa Jatinom, Klaten. Tradisi yang ada didaerah Jatinom, Klaten ini memiliki ciri-khas atau daya tarik tersendiri sehingga masih eksis sampai sekarang.
Tradisi Ya Qowiyyu dilaksanakan pada bulan Sapar (bulan Jawa) dengan berbagai rangkaian acara yang dapat kawan GNFI saksikan. Tradisi ini memiliki pelaksana untuk melaksanakan tradisi ini yaitu juru kunci, sesepuh desa, warga desa, abdi dalem Kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta. Tradisi Ya Qowiyyu memiliki serangkaian acara yang biasa dilakukan diantaranya :
- pembukaan acara tradisi Ya Qowiyyu dengan memotong pita bunag didepan kantor kecamatan Jatinom dan dilanjutkan dengan karnaval atau pawai budaya yang dapat kawan GNFI saksikan.
- sema’an Al-Qur’an, sema’an ini diadakan sebelum haul, sema’an ini dilakukan oleh para santri didekat makam Ki Ageng Gribig.
- Haul merupakan pengajian akbar yang dilaksanakan sebelum puncak acara penyebaran apem yang dilaksanakan di serambi Masjid Ageng Jatinom yang banyak diikuti oleh masyarakat.
4) Penyerahan gunungan apem yang dilaksanakan sehari sebelum penyebaran apem yang diarak melewati sepanjang jalan Jatinom dengan diringi berbagai pawai kemudian diserahkan keapada panitia di Masjid Ageng Jatinom dan dapat disaksikan oleh masyarakat setempat.
5) Sehari sebelum pelaksanaan penyebaran apem dilaksanakan setor apem, setor apem merupakan kontribusi masyarakat setempat dengan adanya tradisi ini, setor apem diserahkan kepada panitia.
6) Penyebaran apem, penyebaran apem dilaksanakan setiap hari Jumat pada bulan sapar dan dilaksanakan sehabis shalat Jumat atau pukul 13.00 WIB, bertempat di sendang Klampeyan puncak acara tradisi ini yang menjadi ciri khas dari tradisi ini. Penyusunan gunungan apem mempunyai makna tersendiri yaitu disusun menurun 4-2-4-4-3 yang memiliki arti jumlah rakaat shalat isya, subuh, dzuhur, ashar dan magrib, terdapat dua model gunungan apem yaitu gunungan apem lanang (laki-laki) dan gunungan apem wadon (perempuan).
Tradisi Ya Qowiyyu memiliki ciri khas dan daya tarik tersendiri karena terdapat berbagai rangkaian acara yang melibatkan semua elemen masyarakat dan dapat disaksikan masyarakat dimulai dari karnaval, pawai budaya, dan arak-arakan gunungan kue apem. Kawan GNFI gunungan apem yang menjadi ciri khas dari acara perayaan ini memiliki ketentuan penyusunan tersendiri yaitu disusun menurun 4-2-4-4-3 yang memiliki arti jumlah rakaat shalat isya, subuh, dzuhur, ashar dan magrib, terdapat dua model gunungan apem yaitu gunungan apem lanang (laki-laki) dan gunungan apem wadon (perempuan). Kawan GNFI selain dapat menyaksiakan tradisi perayaan Yaqowiyyu, kawan GNFI juga dapat mengunjungi tempat atau wisata yang ada disekitar sendang plampeyan diantaranya yaitu Goa Belan, Goa Suran, Goa Jetis, Masjid Alit dan Masjid Besar Jatinom.
Tradisi Yaqowiyyu memiliki makna tersendiri yaitu makna kue apem dalam tradisi Yaqowiyu,
- Makna oro-oro tarwiyah yaitu penghormatan untuk arwah leluhur sebagai komunikasi mistis dengan tokoh keramat, sebagai strategi dakwah sebagai ekonomi bisnis dan wisata.
- Makna kue apem dalam tradisi Yaqowiyyu, kue apem dalam tradisi ini adalah ciri khas dan memiliki makna tersendiri yaitu kue apem memiliki kekuatan supranatural yang membawa kesejahteraan, sebagian masyarakat menganggap kue apem bisa menjadi tolak bala dan membawa rezeki.
- Makna oro-oro Tarwiyah, oro-oro tarwiyah terletak di sebelah barat Jatinom, oro-oro tarwiyah adalah tanah yang digunakan untuk menanam segenggam tanah dari Makkah dibawa oleh Ki Ageng Gribig yang bermakna mengajak masyarakat untuk mempertimbangkan jalan hidup yang dijalani.
- Yaqowiyu sebagai penghormatan para leluhur, tradisi saparan yang dilaksanakan bertujuan untuk menghormai arwah Ki Ageng gribig dan dipercaya sebagai sarana hubungan komunikasi batin antara arwah leluhur dengan seseorang yang masih hidup.
- Yaqowiyu sebagai strategi dakwah, upacara tradisi Yaqowiyyu tidak lepas dari model Islam Kraton Mataram dengan memadukan ajaran Islam dengan kebudayaan Jawa.
- Yaqowiyyu sebagai ekonomi bisnis dan wisata, banyaknya warga yang berkunjung untuk menyaksikan tradisi penyebaran apem dapat menambah pengahsilan warga sekitar.
Tradisi Yaqowiyyu selain mengandung nilai kebudayaan tradisi ini juga memiliki dampak yang cukup besar bagi masyarakat yang tinggal disekitar tempat perayaan Yaqowiu atau lebih tepatnya kecamatan Jatinom, karena banyak masyarakat yang berjuualan kue apem sebagai oleh-oleh khas kota tersebut. Tradisi Yaqowiyu memiliki nilai dari berbagai bidang yaitu bidang pendidikan dan kearifan lokal. Dari segi pendidikan Yaqowiyyu memiliki peran yaitu :
- bersifat reflektif, berperan untuk mempengaruhi corak dan kebudayaan yang sedang terjadi.
- progresif, berperan memperbarui kebudayaan dengan mengikuti perkembangan zaman.
- memiliki nilai pendidikan sejarah, dalam tradisi Yaqowiyyu terdapat sejarah perjuangan Ki Ageng Gribig dalam menyebarkan Islam dan peninggalan-peninggalnnya.
- pendidikan sosial, masyarakat memiliki rasa saling mengahargai satu sama lain,
- “Birrul Walidain”, sebelum puncak acara Yaqowiyyu masyarakat dan para tokoh melakukan ziarah kubur untuk mendoakan para leluhur yang sudah meninggal.
- pendidikan kemanusiaan, tradisi Yaqowiyyu sebagai sarana sosialisasi antar masyarakat karena dalam tradisi Saparan tidak membedakan satu sama lain dan juga antusiasme warga sekitar dalam tradisi Saparan. Melihat eksistensi tradisi Ya Qowiyyu yang menjunjung kebudayaan lokal menjadi salah satu sarana bagi masyarakat dalam upaya preservasi budaya lokal di Desa Jatinom Klaten. Masyarakat yang turut menykasikan tradisi Ya Qowiyyu dari semua kalangan termasuk gen Z. Sebagai generasi muda khususnya generasi yang masih muda (Z) yang lebih familiar dengan gadget, alangkah baiknya turut pelestarian budaya lokal setempat. Hal sederhana yang dapat dilakukan misalnya kita dapat membuat semacam kampanye dengan menggunakan hastag (#) di media sosial dengan membuat postingan mengenai budaya lokal setempat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


