cerita rakyat garut meniup suling saat mendaki gunung guntur berarti memanggil maung bungkeuleukan - News | Good News From Indonesia 2026

Cerita Rakyat Garut: Meniup Suling Saat Mendaki Gunung Guntur, Berarti Memanggil Maung Bungkeuleukan!

Cerita Rakyat Garut: Meniup Suling Saat Mendaki Gunung Guntur, Berarti Memanggil Maung Bungkeuleukan!
images info

Cerita Rakyat Garut: Meniup Suling Saat Mendaki Gunung Guntur, Berarti Memanggil Maung Bungkeuleukan!


Gunung Guntur tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya pandai menyembunyikan suaranya, seperti orang tua yang menyimpan rahasia. Pada pagi hari, ia tampak ramah, berselimut cahaya, membiarkan ilalang menari pelan di punggungnya. Kabut tipis menggantung seperti napas yang belum selesai dihembuskan, dan burung-burung beterbangan tanpa rasa curiga. 

Di kaki selatannya berdirilah Kampung Bojong Masta, kampung kecil yang hidup dari kesepakatan tak tertulis antara manusia dan alam. Rumah-rumah kayu berdiri rendah, seakan menunduk pada gunung. Orang-orangnya berbicara pelan, bukan karena takut, melainkan karena terbiasa menghormati sesuatu yang lebih besar dari diri mereka. Di kampung itulah Raka Prawira tumbuh, seorang pemuda yang sejak kecil lebih akrab dengan sunyi. 

Di pinggangnya, hampir selalu terselip sebuah suling bambu. Benda itu tampak sederhana, warnanya pudar dimakan usia, permukaannya penuh garis halus seperti kerutan wajah orang tua. Namun bagi Raka, suling itu adalah sisa napas masa lalu. Itu milik ayahnya, seorang penggembala yang dikenal pendiam tapi memiliki keanehan yang lembut: setiap kali ia meniup suling, hewan-hewan menjadi jinak, angin melambat, dan suasana seperti menemukan iramanya sendiri.

Ayahnya pernah mengatakan bahwa bambu tersebut pernah tumbuh di tempat yang tidak semua orang bisa melihatnya. Kalimat itu menggantung tanpa penjelasan, seperti daun yang menolak jatuh. Hingga suatu tahun, ketika Gunung Guntur murka dengan cara yang belum pernah disaksikan generasi mana pun. Langit siang berubah menjadi abu, matahari tenggelam sebelum waktunya, dan tanah bergetar seperti dada yang menahan tangis. Ayah Raka pergi menggiring ternak dan tak pernah kembali. Gunung menelan jejaknya, dan hanya suling itu yang pulang. 

Sejak hari itu, kampung seperti kehilangan warna tertentu. Orang-orang mulai lebih banyak berdiam, dan larangan-larangan lama kembali diucapkan dengan suara rendah. Salah satunya adalah larangan meniup suling di gunung. “Jangan membangunkan yang sedang tidur,” kata para tetua. “Jangan memanggil yang tak ingin dipanggil.”

Bagi Raka, larangan itu seperti pintu tertutup yang justru mengundang keingintahuan. Namun ia menyimpannya rapat-rapat, menghormati ketakutan yang tak pernah benar-benar dijelaskan.

Waktu berjalan, dan Raka tumbuh bersama pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah berani ia ucapkan. Hingga suatu malam, Gunung Guntur kembali menunjukkan tanda-tandanya. Tanah bergetar lembut, seperti jantung raksasa yang berdetak tak beraturan. Suara panjang, berat, dan dalam terdengar dari perut bumi, bukan gemuruh yang menghancurkan, melainkan bisikan yang membuat bulu kuduk berdiri.

“Akhirnya kau datang,” suara itu bergema, bukan lewat telinga, melainkan langsung ke dalam tulang. Raka terbangun dengan napas tercekat. Dadanya terasa sesak, seperti ditindih batu tak kasatmata. Dari luar rumah, Gunung Guntur mengeluarkan bunyi rendah, panjang, seakan menggerutu dalam tidur. Malam terasa terlalu rapat, terlalu penuh oleh sesuatu yang tak terlihat.

Keesokan harinya, kabar buruk menyebar cepat seperti asap basah. Seorang pendaki remaja ditemukan di jalur atas, hidup namun jiwanya seperti tertinggal. Ia terus mengulang satu kalimat, bahwa siang tak pernah berakhir di sana, bahwa waktu berputar tanpa pintu keluar. Orang-orang saling berpandangan, membaca ketakutan satu sama lain. Nama Maung Bungkeuleukan kembali disebut, lirih namun jelas, seperti doa yang salah ucap.

Raka mendengar semua itu dengan jantung berdebar. Mimpi semalam terasa bukan sekadar bunga tidur. Ada tarikan halus dari dalam dirinya, seperti benang yang ditarik perlahan ke arah gunung. Malam itu, saat kampung tenggelam dalam diam dan hanya suara serangga yang setia berjaga, Raka mengambil keputusan yang telah lama bersembunyi di sudut hatinya.

Ia mengikat tali di pinggang, membawa sedikit bekal, dan menyelipkan suling bambu ke balik bajunya. Sebelum melangkah, ia menatap rumahnya—tempat segala kenangan bermula—lalu menoleh ke arah Gunung Guntur yang berdiri hitam dan agung di bawah langit berbintang. “Aku tidak datang untuk menantang,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku hanya ingin mendengar.”

Saat Raka mendekati kaldera, kabut turun mendadak. Dunia menyempit, jarak kehilangan makna. Ia berhenti, jantungnya berdetak keras. Dalam kebisuan itu, ia merasakan kehadiran sesuatu yang besar, tua, dan sabar. Tangan Raka gemetar saat meraih suling. Semua larangan, semua cerita orang tua, semua kehilangan, berputar di kepalanya seperti pusaran kecil.

Namun bayangan ayahnya muncul, berdiri di tengah padang ilalang, meniup suling dengan wajah tenang seolah dunia tidak pernah kejam padanya. Raka mengangkat suling ke bibirnya. Nada pertama lahir ragu, seperti langkah bayi. Nada kedua mengalir lebih dalam, merambat di antara kabut. Nada ketiga memanjang, menembus sunyi, seperti benang yang menjahit dua dunia.

Gunung bergetar. Kabut terbelah. Dari dalamnya, muncul sosok besar dengan langkah berat namun pasti. Seekor harimau raksasa berdiri di hadapannya. Bulunya gelap seperti malam yang terbakar, lorengnya menyerupai retakan batu lava. Matanya kuning, bukan dengan amarah, melainkan dengan kebijaksanaan yang melelahkan.

Raka berlutut. Bukan karena takut, tetapi karena dadanya penuh oleh sesuatu yang lebih besar dari keberanian. “Kenapa kau meniup suling?” suara itu bergema, seperti datang dari dalam batu, dari dalam waktu. Raka menjawab jujur. Ia berbicara tentang ayahnya, tentang kehilangan, tentang rasa ingin tahu yang tak pernah terjawab. Ia berbicara tanpa menyembunyikan luka, karena ia tahu gunung tidak bisa dibohongi.

Maung Bungkeuleukan menatapnya lama. “Ayahmu meniup suling untuk merawat, bukan memanggil,” katanya. “Namun manusia sering lupa membedakan suara doa dan suara kesombongan. Saat itu, gunung lapar oleh luka.” Kata-kata itu jatuh berat di dada Raka, namun juga terasa seperti pengakuan yang selama ini ia tunggu.

“Kau datang membawa luka,” lanjut sang penjaga gunung. “Dan luka adalah bahasa yang dimengerti bumi.” Kabut perlahan menyingkir. Angin berhenti berputar. Suasana menjadi hening, bukan hening yang mencekam, melainkan seperti jeda setelah hujan panjang. Maung Bungkeuleukan mundur perlahan, tubuhnya menyatu dengan kabut, dengan batu, dengan napas gunung itu sendiri.

Suling di tangan Raka retak, lalu patah dengan bunyi kecil, seperti ranting kering. Ia terduduk, napasnya berat, tetapi dadanya terasa lebih lapang dari sebelumnya.

Pagi hari, warga menemukan Raka di kaki gunung. Ia hidup, tapi ada sesuatu yang berubah dalam sorot matanya: lebih tenang, lebih dalam. Sejak hari itu, ia tak pernah lagi meniup suling. Ia memilih menjadi penjaga jalur pendakian. Ia mengajarkan orang-orang untuk berbicara pelan, melangkah ringan, dan tidak menertawakan alam yang sedang diam.

Hingga kini, bila malam terasa terlalu sunyi dan dari arah Gunung Guntur terdengar gemuruh yang tertahan, orang-orang Bojong Masta saling berbisik dengan hormat, “Itu Maung Bungkeuleukan sedang berjalan.” Sebab mereka tahu, gunung bukan tempat untuk ditaklukkan, melainkan untuk didengarkan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.