Sri Susuhunan Pakubuwono II adalah Susuhunan Mataram kesembilan yang memerintah tahun 1726-1742. Dirinya menjadi Susuhunan pertama Surakarta setelah pemberontakan Amangkurat V yang dikenal dengan Geger Pecinan.
Raja yang mempunyai nama asli Raden Mas Prabasuyasa ini naik tahta pada usia yang masih cukup muda yaitu 15 tahun. Ketika menjabat Pakubuwono II menghadapi banyak tantangan dan konflik selama masa pemerintahannya, baik dari dalam maupun dari luar kerajaan.
PB II mengalami pemberontakan pertama oleh pasukan Sunan Kuning hingga harus pergi ke Madiun untuk mengumpulkan para pendukungnya dan dari sana melakukan upaya yang sia-sia untuk mendapatkan kembali mahkotanya yang hilang.
Putus asa karena bertumpuk-tumpuk kesengsaraan, ia tetap tinggal di sana untuk sementara waktu. Saat Pelarian Ke Ponorogo dia memakai gelar Panembahan Brawijaya.
Dirinya kemudian pergi ke Ponorogo bertemu Kiai Ageng Muhammad Besari di Tegalsari. Di Tegalsari, Pakubuwono II memohon pada Kiai Ageng untuk menjadi perantara antara dirinya dan Allah serta berdoa supaya ia mendapatkan kembali takhtanya.
Pada November 1742, Cakraningrat IV dari Bangkalan bersama pasukannya berhasil mengusir Mas Garendi dari Kartasura. Kompeni kemudian mengangkat kembali Pakubuwono II sebagai raja.
PB II kemudian memindahkan keraton Kartasura yang dianggap telah ternoda ke daerah Sala/Solo. Tetapi perpindahan ini tidak menghilangkan konflik yang sudah mengakar di keluarga Mataram.
Perang Suksesi Jawa
Konflik yang harus dihadapi oleh PB II adalah Perang Suksesi Jawa III, yaitu perang saudara yang meletus antara Pakubuwono II dengan adik-adiknya yang tidak puas dengan kebijakan-kebijakannya.
Perang ini bermula saat PB II menggelar sayembara untuk memberantas pemberontakan Geger Pecinan yang masih tersisa. PB II akan memberikan hadiah tanah Sukawati (sekarang Sragen), bagi siapa saja yang berhasil merebut daerah itu dari tangan Pangeran Sambernyawa.
Ketika itu Mangkubumi (kelak jadi Sultan Hamengkubuwono I) berhasil mengalahkan pasukan Pangeran Sambernyawa. Namun, Patih Pringgalaya membujuk Pakubuwana II supaya tidak menyerahkan tanah Sukawati kepada Pangeran Mangkubumi.
Hal ini diperparah dengan hadirnya Baron van Imhoff ke Keraton Surakarta untuk menyewa daerah pesisir kepada VOC dengan harga 20.000 real Spanyol setiap tahun. Pangeran Mangkubumi menentang hal itu.
Terjadilah pertengkaran di mana menghina Pangeran Mangkubumi di depan umum. Pangeran Mangkubumi sakit hati dan memilih bergabung dengan pasukan Pangeran Sambernyawa sejak Mei 1746.
Meninggal dalam keadaan konflik
Di tengah situasi genting, PB II jatuh sakit. Joan Andreas Baron van Hohendorff, gubernur pesisir Jawa bagian timur laut tiba di Surakarta untuk menjadi saksi pergantian raja.
PB II kemudian menyerahkan kedaulatan Keraton Surakarta kepada pihak VOC. Pada perjanjian itu, disebutkan hanya VOC yang berkuasa atas kerajaan dan berhak melantik raja-raja keturunan Mataram.
Perjanjian pun ditandatangani tanggal 11 Desember 1749 ini jadi titik awal hilangnya kedaulatan Mataram ke tangan Belanda.
Pakubuwana II akhirnya meninggal dunia pada tanggal 20 Desember 1749 dan oleh Raden Mas Suryadi, putranya yang bergelar Pakubuwana III.
Pakubuwana III pada pemerintahannya harus dihadapkan pada kaum pemberontak yang dipelopori Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa. Di kemudian hari pada tahun 1755, kedua belah pihak antara Pakubuwama III dan Pangeran Mangkubumi menyepakati isi Perjanjian Giyanti.
Disusul Perjanjian Salatiga pada tahun 1757 yang disepakati oleh ketiga pihak yakni Pakubuwana III, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa. Setelah perjanjian ini Mataram akhirnya terpecah menjadi tiga kerajaan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


