sang hyang taya monoteisme asli jawa dalam ajaran kapitayan - News | Good News From Indonesia 2026

Sang Hyang Taya, Monoteisme Asli Jawa dalam Ajaran Kapitayan

Sang Hyang Taya, Monoteisme Asli Jawa dalam Ajaran Kapitayan
images info

Sang Hyang Taya, Monoteisme Asli Jawa dalam Ajaran Kapitayan


Jauh sebelum agama-agama besar dunia hadir di Nusantara, masyarakat Jawa telah mengenal konsep Ketuhanan Yang Maha Esa. Kepercayaan itu dikenal sebagai Kapitayan. Ia sering disebut sebagai agama monoteistik asli Jawa kuno.

Kapitayan tumbuh dari pengalaman spiritual panjang masyarakat Nusantara. Konsep ketuhanannya tidak bersifat visual atau antropomorfis. Tuhan dipahami mutlak, tak terbayangkan, dan tak terindra. Pemahaman ini menantang narasi lama sejarah kolonial.

Selama bertahun-tahun, leluhur Jawa disederhanakan sebagai penganut animisme. Padahal, fakta menunjukkan adanya konsepsi tauhid yang matang. Agus Sunyoto dalam Agama Bangsa Nusantara tahun 2015 menegaskan Kapitayan sebagai fondasi monoteisme awal di Jawa.

Istilah Kapitayan berasal dari bahasa Jawa Kuno dengan akar kata taya. Kata ini berarti kosong, hampa, atau suwung. Makna tersebut menunjuk pada Tuhan yang absolut. Tuhan dalam Kapitayan disebut Sang Hyang Taya.

baca juga

Tokoh sentral dalam Kapitayan adalah Dang Hyang Semar (Gambar Ilustrasi: ChatGPT Image)

Ia digambarkan dengan ungkapan tan keno kinaya ngapa. Artinya, Tuhan tidak bisa dipikirkan atau dibayangkan. Konsep ini sejajar dengan teologi negatif dalam filsafat agama. Dalam Islam dikenal ungkapan laisa kamitslihi syaiun.

Kesamaan ini dicatat Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo tahun 2017. Karena itu, Kapitayan sering disebut pelopor monoteisme Nusantara. Ia hadir jauh sebelum Hindu, Buddha, dan Islam masuk ke Jawa.

Dalam ajaran Kapitayan, Sang Hyang Taya memanifestasikan daya-Nya melalui konsep Tu atau To. Tu bermakna daya adikodrati tunggal. Ia memiliki dua sifat utama, yakni kebaikan dan keburukan. Sifat baik disebut Sang Hyang Wenang. Sifat gelap disebut Sang Manikmaya.

Keduanya bukan dua Tuhan yang terpisah. Keduanya merupakan sifat dalam Sang Hyang Tunggal. Konsep ini menegaskan monoteisme yang khas Jawa. Ia bukan dualisme, apalagi politeisme. Muhammad Sulton Fatoni dalam Buku Pintar Islam Nusantara tahun 2017 menyebut konsep ini sebagai bentuk tauhid kultural. Tuhan tetap satu, meski dipahami melalui simbol lokal.

Tokoh sentral dalam Kapitayan adalah Dang Hyang Semar. Dalam tradisi wayang, Semar dikenal sebagai punakawan. Namun secara spiritual, ia diposisikan sebagai pembawa ajaran Kapitayan. Naskah kuno seperti Pramayoga dan Pustakaraja Purwa menyebut silsilahnya. Semar disebut sebagai keturunan kesembilan Nabi Adam.

Klaim ini dikaji Agus Sunyoto dalam Agama Bangsa Nusantara tahun 2015. Bagi penganut Kapitayan, Semar bukan figur mitologis biasa. Ia adalah simbol kebijaksanaan, kerendahan hati, dan kesetaraan. Ia menolak kekuasaan yang sewenang-wenang. Nilai egaliter ini menjadi ciri kuat Kapitayan.

baca juga

Pada masa kuno, Kapitayan menjadi sistem kepercayaan utama masyarakat Jawa. Ia hadir sebelum pengaruh Hindu dan Buddha. Jejaknya terlihat pada tinggalan arkeologis. Menhir, dolmen, dan punden berundak sering ditemukan di Jawa.

Pada masa kolonial, peninggalan ini disalahpahami. Sejarawan Belanda mengklasifikasikannya sebagai animisme dan dinamisme. Padahal, benda-benda tersebut hanya sarana simbolik. Yang disembah tetap Sang Hyang Taya.

Koentjaraningrat dalam Kebudayaan Jawa tahun 1984 menekankan pentingnya membaca simbol budaya. Ia mengingatkan bahwa ritual tidak selalu berarti penyembahan benda. Kapitayan menempatkan manusia setara di hadapan Tuhan.

Kapitayan sebagai fondasi monoteisme awal di Jawa (Gambar Ilustasi: ChatGPT Image)

Praktik ibadah Kapitayan bersifat kontemplatif dan simbolik. Ritual utama dilakukan di tempat yang disebut sanggar. Bangunan ini berbentuk persegi sederhana. Di salah satu dindingnya terdapat lubang kosong. Lubang itu melambangkan kehampaan Sang Hyang Taya.

Pemuja melakukan laku berdiri, membungkuk, dan bersujud. Gerakan ini memiliki kemiripan dengan shalat. Istilah sembahyang berasal dari sembah kepada Hyang. Puasa dikenal dengan upawasa.

Tradisi tumpeng berasal dari tu mpeng. Banyak praktik ini masih hidup dalam budaya Jawa. Walisongo kemudian mengadopsinya dalam dakwah Islam.

Hubungan Kapitayan dan Islam berlangsung sangat harmonis. Para Walisongo memanfaatkan kesamaan konsep tauhid. Pendekatan ini bersifat kultural dan damai. Gus Dur pernah menyebutnya sebagai mempribumikan Islam.

Istilah langgar berasal dari sanggar Kapitayan. Puasa Senin Kamis memiliki kemiripan dengan poso dino pitu. Sedekah tumpeng juga dilestarikan dalam tradisi Islam Jawa. Azyumardi Azra dalam Islam Nusantara tahun 2015 menjelaskan strategi akulturasi ini. Islam diterima tanpa konflik besar. Salah satu sebabnya adalah fondasi monoteisme Kapitayan yang kuat.

Pertanyaan penting kemudian muncul, apakah Kapitayan masih dianut saat ini? Jawabannya, masih ada meski jumlahnya terbatas. Data kuantitatif memang sulit ditemukan. Namun sejak tahun 2017, Kapitayan diakui secara resmi oleh negara.

Statusnya sebagai Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pengakuan ini berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Komunitas penghayat Kapitayan masih aktif di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Mereka tergabung dalam organisasi penghayat kepercayaan. Aktivitasnya lebih bersifat kultural dan spiritual. Mereka tidak bersifat ekspansif dalam mencari pengikut.

baca juga

Penganut Kapitayan masa kini memiliki perbedaan dengan masa lampau. Dahulu, Kapitayan menjadi sistem sosial dan politik. Kini, ia lebih berfungsi sebagai identitas spiritual. Ritual dilakukan secara sederhana dan kontekstual. Tidak lagi terkait dengan legitimasi kekuasaan. Raja tidak lagi diposisikan sebagai figur sakral. Nilai yang dijaga adalah etika, harmoni, dan keseimbangan batin.

Banyak penganut Kapitayan juga memeluk agama formal. Kapitayan menjadi sumber nilai personal. Fleksibilitas ini menunjukkan daya adaptasi ajaran tersebut.

Kapitayan dapat dipahami sebagai bentuk kearifan lokal Nusantara. Ia lahir dari pengalaman historis dan spiritual masyarakat Jawa. Nilai-nilainya sejalan dengan Pancasila. Ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan menjadi prinsip utama.

Kapitayan mengajarkan penghormatan pada alam dan sesama. Dalam konteks krisis modern, nilai ini relevan. Banyak akademisi mendorong pengakuan budaya yang lebih adil. Bukan untuk menciptakan konflik identitas. Melainkan untuk memperkaya narasi kebangsaan Indonesia.

Sikap masyarakat terhadap Kapitayan perlu dibangun secara dewasa. Bukan dengan kecurigaan atau pelabelan sesat. Negara telah menjamin kebebasan beragama dan berkepercayaan. Menghargai Kapitayan berarti menghargai sejarah bangsa.

Pendidikan sejarah perlu ditulis lebih jujur. Leluhur Nusantara tidak bisa direduksi sebagai primitif. Fakta menunjukkan kedalaman spiritual yang tinggi. Hal ini penting bagi pembentukan identitas nasional. Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai akar budayanya.

Kapitayan bukan sekadar cerita masa lalu. Ia masih hidup dalam laku, bahasa, dan tradisi. Meski penganutnya sedikit, pengaruhnya sangat luas. Kapitayan hadir dalam etika Jawa sehari-hari. Ia mengajarkan iman yang hening dan reflektif.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.