mengenal para perasuk dan kritik sosialnya film indonesia yang tembus ke sundance festival - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal "Para Perasuk" dan Kritik Sosialnya, Film Indonesia yang Tembus ke Sundance Festival

Mengenal "Para Perasuk" dan Kritik Sosialnya, Film Indonesia yang Tembus ke Sundance Festival
images info

Mengenal "Para Perasuk" dan Kritik Sosialnya, Film Indonesia yang Tembus ke Sundance Festival


Kerasukan, dalam bayangan kebanyakan orang Indonesia, identik dengan terror dan mistis. Namun, sutradara Wregas Bhanuteja datang dengan pertanyaan yang berbeda. Bagaimana jadinya jika kerasukan justru menjadi sumber kebahagiaan?

Pertanyaan itulah yang menjadi fondasi Para Perasuk, film drama supranatural produksi Rekata Studio yang resmi tayang di bioskop Indonesia pada 23 April 2026.

Sebelum sampai ke layar dalam negeri, film ini telah lebih dulu melangkah jauh, hadir sebagai satu dari hanya sepuluh film internasional yang terpilih masuk kompetisi World Cinema Dramatic di Sundance Film Festival 2026, dari lebih dari 16.000 karya yang mendaftar dari 164 negara.

Sinopsis Film "Para Perasuk"

Kisah bermula di Desa Latas, sebuah desa fiktif di pinggiran kota yang memiliki tradisi bernama Pesta Sambetan. Di sini, warga tidak lari dari kerasukan. Mereka justru menyambutnya.

Dengan iringan musik dan nyanyian, para peserta yang disebut pelamun membuka diri untuk dirasuki sekitar dua puluh roh binatang, mulai dari roh bulus, kerbau, kodok, semut, hingga lintah.

Setiap roh membawa sensasi berbeda, sebuah pelarian sementara dari tekanan cicilan, konflik keluarga, dan kerasnya kehidupan sehari-hari.

baca juga

Pesta Sambetan bukan ritual keagamaan dalam pengertian formal. Ia lebih menyerupai katarsis komunal, sebuah ruang di mana masyarakat kelas bawah boleh sejenak lepas dari beban yang tidak pernah benar-benar pergi.

Wregas membangun dunia ini dengan detail yang terasa hidup: ada hierarki dalam tradisi sambetan, ada peran-peran yang diperebutkan, ada ekonomi informal yang bergantung padanya.

Di tengah ekosistem itulah Bayu (Angga Yunanda) tumbuh. Pemuda ini bukan sekadar penggemar tradisi desanya. Ia berambisi menjadi perasuk utama, figur paling prestisius dalam sanggar sambetan yang dipimpin Guru Asri (Anggun C. Sasmi).

Namun, ambisi Bayu bukan semata soal pengakuan. Di baliknya tersimpan tekad untuk menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya.

Isu Sosial yang Diangkat

Konflik utama Para Perasuk bukan antara manusia dan roh. Konflik sesungguhnya jauh lebih membumi: sebuah perusahaan bernama Wanaria mengincar mata air keramat Desa Latas untuk diakuisisi.

Mata air itu bukan sekadar sumber air minum. Ia adalah titik spiritual tempat para Perasuk mencari koneksi dengan roh-roh hewan, sekaligus simbol kedaulatan warga atas tanah dan tradisi yang telah mereka jaga selama generasi.

Wregas mengakui bahwa konflik ini lahir dari pengalaman nyata. Keluarganya di Bantul, Yogyakarta, pernah terlibat dalam penolakan akuisisi sumber air oleh korporasi.

Apa yang ia saksikan kemudian dituangkan ke dalam narasi fiksi yang terasa sangat akrab bagi banyak komunitas adat di Indonesia, yakni ancaman kehilangan ruang hidup atas nama investasi dan pembangunan.

Yang menarik, Wregas tidak menyederhanakan perlawanan itu menjadi hitam-putih. Bayu, sang tokoh utama, justru terseret dalam kontradiksinya sendiri. Niatnya mulia: memimpin pesta sambetan terbesar untuk menggalang dana demi menebus kembali mata air dari tangan korporasi.

Hanya saja, ambisi yang terlalu besar perlahan mengubahnya. Ia mulai kehilangan arah, melukai orang-orang terdekat, dan justru mencerminkan sifat obsesif yang tidak jauh berbeda dari para pengusaha yang ia lawan.

baca juga

Melalui karakter Bayu, film ini bertanya dengan jujur: apakah tujuan yang mulia selalu membenarkan cara yang dipilih?

Yang membuat pencapaian Para Perasuk di panggung internasional terasa bermakna adalah kenyataan bahwa film ini tidak merendahkan tradisinya demi konsumsi global. Wregas tidak memoles sambetan agar tampak eksotis.

Ia justru membangun tradisi itu dari dalam, dengan logika emosionalnya sendiri, sehingga penonton dari belahan dunia mana pun bisa merasakannya tanpa harus terlebih dulu memahami konteks budayanya.

Pendekatan ini terbukti tepat. Di Sundance, film ini mendapat sambutan yang hangat bahkan dari penonton yang belum pernah mengenal tradisi kerasukan sebelumnya.

Setelah Sundance, Para Perasuk melanjutkan perjalanan ke Miami Film Festival 43 dan Fantaspoa International Film Festival 2026 di Brasil, mempertegas posisinya sebagai salah satu karya Indonesia yang paling diperbincangkan di kancah festival internasional tahun ini.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon pun menyampaikan apresiasinya. Ia menyebut film ini sebagai karya yang membawa perfilman Indonesia ke capaian baru dengan mengangkat living culture, praktik budaya yang masih tumbuh dan bernapas di tengah masyarakat modern.

Para Perasuk adalah bukti bahwa perfilman Indonesia tidak harus memilih antara relevansi lokal dan daya tarik global. Wregas Bhanuteja membuktikan bahwa cerita dari desa kecil di pinggiran kota, tentang mata air yang terancam dan tradisi yang hampir hilang, bisa berbicara kepada siapa pun yang pernah merasakan tekanan untuk menyerah pada kekuatan yang lebih besar dari dirinya.

Bagi Kawan GNFI yang mencari tontonan yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengajak berpikir, Para Perasuk layak masuk dalam daftar. Karena di balik pesta kerasukan itu, ada perjuangan yang nyata.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.