dari cuitan ke cetakan bagaimana fenomena alternate universe au merevolusi industri fiksi modern - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Cuitan ke Cetakan: Bagaimana Fenomena 'Alternate Universe' (AU) Merevolusi Industri Fiksi Modern

Dari Cuitan ke Cetakan: Bagaimana Fenomena 'Alternate Universe' (AU) Merevolusi Industri Fiksi Modern
images info

Foto oleh Kit (formerly ConvertKit) di Unsplash


Di tengah hiruk-pikuk padatnya lalu lintas di jam pulang kantor, gawai Kawan tiba-tiba menampilkan notifikasi cerita online. Dengan penuh penasaran, kamu pun cepat-cepat membuka notifikasi tersebut dan menekan tombol bookmark agar bisa melanjutkan membaca di rumah.

Dari ilustrasi ini, bisa dilihat bahwa tanpa sadar, beberapa dari kita terjebak dalam sebuah dunia fiktif karangan seorang penulis online. Sekali kamu mulai terhanyut, ternyata dunia khayal tersebut begitu luas.

Berbagai macam genre dan beratus-ratus nama karakter, mulai dari K-Pop, K-Drama, sampai dengan karakter manga, bisa mudah ditemukan dengan tema ceritayang bahkan tidak terpikirkan sebelumnya.

Inilah yang dinamakan dengan Alternative Universe. AU adalah sebuah 'ruang' bagi penulis fiksi dengan lintas genre yang banyak diminati muda-mudi yang ingin sejenak melarikan diri dari keseharian yang menjemukan.

Awalnya, banyak yang senang membaca karena hobi. Namun, banyak penulis muda kemudian tergerak untuk menciptakan alur ceritanya sendiri.

Pertanyaannya, apakah AU hanya merupakan pelarian sesaat bagi peminatnya? Atau, mungkin fenomena AU ini ternyata bisa melahirkan benih-benih penulis-penulis besar di generasi selanjutnya?

baca juga

Anatomi AU: Ketika Tema, Teks dan Visual Melebur jadi Satu

Tidak hanya naratif, sebagian besar AU adalah gambaran dari percakapan fiktif. Banyak cerita yang menyerupai pembicaraan asli, sehingga beberapa orang yang baru pertama kali melihatnya sering kali salah paham.

Macam-macam format penulisan AU ini memang banyak menarik perhatian ketika lewat di linimasa, beberapa di antaranya:

  • Format "Percakapan Fiktif" dari aplikasi pesan Iinstan (WhatsApp, iMessage, hingga LINE): Alur cerita tidak hanya dimulai dari paragraf panjang, tetapi juga bisa dimulai dari potongan percakapan sehari-hari yang melekat pada kehidupan nyata.
  • Potongan gambar atau foto yang menjadi visualisasi estetik: Penggunaan moodboard, kumpulan foto-foto potongan penggambaran wujud yang manis, ataupun pemandangan yang cantik mempermudah penikmatnya untuk memvisualisasikan cerita. Semakin imersif sebuah karya, maka pembaca semakin tertarik untuk melanjutkan ke chapter selanjutnya.

Selain itu, daya tarik utama AU juga terletak pada kemampuan penulis mengadaptasi latar belakang asli menjadi latar belakang lokal atau yang disebut lokalisasi.

Bayangan seorang figur K-Pop yang mengemban pendidikan di sebuah universitas yang terkenal di Indonesia, atau seorang karakter manga yang menjadi pekerja korporat yang sering lembur demi memenuhi kebutuhan gaya hidup, tentu saja menarik untuk dibaca.

baca juga

Mengapa Pembaca menjadi Invested?

Bagian tersulit bagi seorang penulis baru biasanya adalah membangun kedekatan antara pembaca dan karakter yang ditulisnya. Namun, genre AU mampu menampik teori tersebut.

Pembaca datang karena mereka sudah tahu persis siapa figur atau karakter yang ada di dalam karya tersebut, tahu latar belakang, dan visualnya.

Lewat AU, mereka menikmati perwujudan-perwujudan dari karakter tersebut dari sudut pandang yang beragam, alur cerita yang variatif, serta gaya penulisan yang ciamik.

Saat seorang karakter atau publik tersebut "dihidupkan" kembali sebagai sosok manusia biasa yang memiliki perasaan yang rentan atau perjuangan hidup yang identik dengan pembaca, di situlah muncul keterikatan emosional.

Ada unsur "pelarian" berbau romansa yang disajikan dengan sentuhan hati yang membuat pembaca merasa cerita tersebut benar-benar terjadi di sekitar mereka.

Dulu, proses penulis baru bisa menjadi seorang penulis novel dianggap sangat ketat oleh khalayak. Tahapan yang dilalui pun cukup banyak dan melelahkan. Kini, siapa pun bisa jadi penulis dan mendapatkan audiensnya sendiri.

Justru penerbitlah yang sekarang aktif mengamati cerita-cerita potensial yang bermunculan di media sosial; yang sudah menuai banyak komentar positif yang kental dengan antusiasme, serta mendapatkan ribuan bahkan jutaan views.

Ketika sebuah AU diterbitkan menjadi buku fisik, komunitas penggemarnya tidak ragu untuk membeli. Bagi mereka, membeli buku berarti memberi apresiasi bagi sang penulis dan juga keinginan untuk memiliki "bentuk fisik" dari cerita yang pernah menemani malam-malam mereka.

Dari sebaris cuitan di media sosial, sebuah industri baru telah lahir dan tampaknya akan bertahan untuk waktu yang cukup lama.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CK
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.