Lini masa belakangan ini tidak ramah bagi Pekalongan. Nama kota ini muncul berkali-kali, namun bukan karena batiknya, bukan karena pelabuhannya yang dulu mempertemukan dunia. Saya tidak akan merinci di sini, kita mungkin sudah membacanya sendiri, dan menyangkal keberadaan berita itu hanya akan membuat kita tampak naif. Yang ingin saya ajukan justru pertanyaan:
Dari mana sebenarnya reputasi sebuah kota berasal? Apakah ia bergantung pada satu orang, satu jabatan, satu kursi, sehingga ikut ambruk begitu kursi itu goyah?
Atau reputasi sebuah kota tumbuh dari sesuatu yang jauh lebih tersebar, sehingga lebih sulit untuk dirobohkan sekaligus?
Jauh dari gawai dan tajuk berita, di sudut Kampung Kauman, ada ritme lain yang berjalan tanpa peduli pada linimasa. Malam panas dituang pelan-pelan dari ujung canting, menempel di kain, mengeras menjadi garis yang tidak bisa ditarik kembali. Malam itu bertugas melindungi sebagian, membiarkan sisanya terbuka bagi warna baru yang akan datang. Kain itu akan dicelup, dijemur, dicanting ulang, dicelup lagi, berlapis, berbulan-bulan, sampai pola yang utuh muncul dari proses yang sama sekali tidak linier dan sama sekali tidak secepat sebuah berita.
Tidak ada satu celupan pun yang menentukan nasib seluruh kain. Itulah yang membuat batik bertahan sebagai pengetahuan yang dibangun dari akumulasi dan proses yang terus berlangsung.
Pohon dan Rumpun Bambu
Gilles Deleuze dan Félix Guattari, dua filsuf Prancis, pernah membedakan dua cara sesuatu tumbuh. Yang pertama mereka sebut arborescent, seperti pohon, memiliki satu batang utama, satu akar pusat, dan satu titik otoritas yang menopang semuanya. Tebang batangnya, pohon itu mati. Yang kedua, mereka sebut rhizoma, seperti rumpun bambu atau jahe di bawah tanah, tidak punya pusat, menyebar ke segala arah, terputus di satu titik, tapi tetap hidup karena bertunas di titik lain yang tidak saling bergantung pada satu sumber.
Reputasi sebuah kota, saya kira, sering kita bayangkan seperti pohon. Kita menaruh harapan pada satu wali kota, satu bupati, satu kebijakan, lalu kecewa berat ketika batang itu retak. Padahal, jika kita menengok lebih jauh ke bawah permukaan, ke akar-akar yang tidak pernah masuk berita, Pekalongan sebenarnya tumbuh sebagai rhizoma sejak lama, dan justru di situlah letak ketahanannya.
Sebagai kota pelabuhan di pesisir utara Jawa, Pekalongan sejak berabad lalu sudah menjadi melting pot, titik temu pedagang Tionghoa, Arab, India, dan Eropa yang singgah, menetap, lalu membatik.
Lihat saja motif batiknya. Jlamprang yang berbunga geometris dari pengaruh pedagang Arab, buketan yang melengkung dari sentuhan Eropa, atau motif burung phoenix yang datang bersama pembatik keturunan Tionghoa di Kedungwuni, semuanya hidup berdampingan dalam satu kain, tanpa satu pun yang menjadi akar tunggal yang lebih sah daripada yang lain.
Batik Pekalongan tidak memiliki satu asal-usul yang murni. Ia adalah jaringan, bukan pohon silsilah. Dan jaringan semacam itu secara alami sulit dimatikan hanya karena satu simpulnya rusak. Pada 2014, UNESCO menahbiskan Pekalongan sebagai satu-satunya kota di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, yang masuk dalam Jaringan Kota Kreatif Dunia dalam kategori Kerajinan dan Seni Rakyat. Tapi pengakuan itu bukan yang menciptakan jaringan ini. UNESCO hanya menemukan sesuatu yang sudah lama tumbuh, jauh sebelum ada plakat yang menyebutnya demikian.
Gedung yang Berganti Pemilik Cerita
Museum Batik Pekalongan menempati sebuah gedung yang dibangun sekitar tahun 1900. Dulu, bangunan ini adalah pusat administrasi tujuh belas pabrik gula se-eks Karesidenan Pekalongan, markas birokrasi kolonial yang bekerja dengan logika arborescent yang paling murni: satu residen, satu otoritas, satu garis komando yang mengatur arus gula dan tenaga kerja dari atas ke bawah.
Hari ini, gedung yang sama menyimpan ribuan koleksi kain yang justru lahir dari logika sebaliknya, dari tangan-tangan yang tersebar, dari kampung-kampung pembatik di Kauman dan Pesindon, dari pengetahuan yang diwariskan tanpa surat keputusan. Ruang yang dulu mengelola ekstraksi kolonial kini menjadi simpul tempat warga membaca ulang dirinya sendiri. Bukan dengan meledakkan gedung itu, bukan dengan menghapus jejak masa lalunya, melainkan dengan mengisinya ulang, lapis demi lapis, sama seperti kain yang dicanting dan dicelup berkali-kali. Inilah yang dimaksud dengan kerja kolektif puluhan tahun.
Nasi yang Tidak Butuh Sorotan
Ada satu simpul rhizoma lagi yang jarang dilirik karena terlalu sederhana untuk dianggap istimewa: nasi megono. Olahan nangka muda cincang bersama parutan kelapa berbumbu ini bukan kuliner yang ditawarkan kepada turis. Dimasak di dapur rumah, dijual di warung pinggir jalan, dimakan tanpa perlu validasi siapa pun, sampai akhirnya, pada Oktober 2025, negara baru menyusul mengakuinya sebagai Warisan Budaya Takbenda, setelah perjuangan administratif sejak 2023.
Megono mengingatkan kita bahwa kekuatan rhizoma justru tumbuh di bawah permukaan, jauh sebelum institusi mana pun sempat melihatnya, apalagi memberinya plakat. Nasi megono bertahan karena terus-menerus dikerjakan oleh orang-orang yang bahkan tidak berpikir bahwa mereka sedang melestarikan sesuatu. Mereka hanya memasak makan siang di dapur masing-masing.
Menjadi Salah Satu Titik
Maka pertanyaan untuk kita, baik sebagai warga Pekalongan, perantau yang masih menaruh hati di kota ini, atau siapa pun yang pernah singgah dan jatuh cinta padanya: maukah kita menjadi salah satu titik dalam rhizoma ini?
Titik itu bisa sangat sederhana. Membeli kain dari pembatik kampung. Membawa anak, murid, atau wisatawan ke Museum Batik. Memasak dan/atau menikmati megono serta menceritakan asal-usulnya kepada yang lebih muda. Menulis, seperti yang sedang saya lakukan sekarang, bukan untuk menutupi berita buruk, melainkan untuk menambah satu simpul lagi yang membuat jaringan ini semakin sulit diputus.
Rhizoma tidak pernah selesai tumbuh dan tidak pernah benar-benar mati selama masih ada satu tunas yang menembus tanah. Pekalongan, dengan segala kabar yang sedang menimpanya, tetap punya ribuan tunas semacam itu, di tangan pembatik yang masih menahan napas sebelum menggoreskan canting, di gedung tua yang terus diisi ulang maknanya, dan di dapur-dapur yang setiap hari memasak nasi megono tanpa.
Yang tersisa untuk kita kerjakan hanyalah: jangan berhenti menanamkan kabar baik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


