Kawan GNFI, pernah membayangkan apa jadinya jika hampir separuh potensi tenaga kerja perempuan Indonesia belum sepenuhnya tergarap?
Itulah kira-kira gambaran tantangan besar yang sedang coba dijawab pemerintah lewat sebuah target ambisius: meningkatkan partisipasi perempuan di dunia kerja hingga 70 persen.
Target ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ia tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, dan didukung oleh kajian mendalam dari World Bank bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), serta Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).
Kesenjangan yang Sudah Berlangsung Dua Dekade
Untuk memahami mengapa target ini penting, Kawan perlu tahu dulu kondisi yang sedang dihadapi. Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia cenderung stagnan selama 20 tahun terakhir, bertahan di kisaran 50 persenan. Sementara itu, tingkat partisipasi laki-laki telah melampaui 80 persen, sehingga menciptakan kesenjangan gender yang cukup lebar.
Untuk mencapai target 70 persen, tantangannya pun tidak main-main. Indonesia perlu mendorong sekitar 750 ribu perempuan masuk ke dunia kerja setiap tahun, dengan asumsi tidak ada perempuan yang keluar dari pasar kerja. Angka ini menggambarkan betapa besar upaya yang harus dikerahkan secara konsisten, tahun demi tahun.
Akar Masalahnya Bukan Soal Kemauan, tetapi Sistem Pendukung
Banyak yang mengira rendahnya partisipasi perempuan di dunia kerja semata soal pilihan pribadi. Padahal, riset menunjukkan akar masalahnya jauh lebih struktural.
Kesenjangan gender dalam partisipasi angkatan kerja terjadi terutama dalam periode pengasuhan anak, ditambah masih sedikitnya pekerjaan yang menawarkan waktu kerja fleksibel atau paruh waktu, menyebabkan banyak perempuan memilih keluar dari angkatan kerja setelah menikah.Belum lagi soal kesenjangan upah dan perlakuan di tempat kerja. Perempuan masih mengalami kesenjangan upah sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan rekan kerja laki-laki dengan kualifikasi yang sama.
Sebagian besar kesenjangan ini didasarkan pada diskriminasi gender, bukan perbedaan produktivitas. Ditambah lagi perbedaan perlakuan dalam hal cuti melahirkan, perlindungan pekerja, dan risiko diskriminasi saat proses rekrutmen.
Strategi Besar: Ekonomi Perawatan sebagai Kunci
Untuk menjawab tantangan ini, pemerintah meluncurkan strategi yang disebut Peta Jalan Ekonomi Perawatan (Care Economy Roadmap) 2025-2045 pada Maret 2025. Peluncuran ini menandai komitmen Indonesia untuk mempercepat transformasi ekonomi perawatan, membangun dunia kerja yang lebih setara gender, dan meningkatkan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan sebagai upaya mencapai Visi Indonesia Emas 2045.
Konsep ekonomi perawatan sendiri sederhana, tetapi seringkali diabaikan, yakni mengakui bahwa pekerjaan mengasuh anak, merawat lansia, dan mengurus rumah tangga punya nilai ekonomi nyata yang selama ini sebagian besar dipikul perempuan tanpa dukungan sistem yang memadai.
Hasil investasi pada sektor ini diperkirakan sangat signifikan. Investasi pada pengasuhan anak universal dan layanan pengasuhan jangka panjang di Indonesia diperkirakan dapat menciptakan hampir 10,4 juta pekerjaan pada 2035.
Rinciannya, sekitar 4,3 juta pekerjaan langsung di bidang pengasuhan anak, 4,3 juta pekerjaan langsung dalam perawatan jangka panjang, dan 1,7 juta pekerjaan tidak langsung di sektor non-perawatan.
Dukungan dari World Bank: Fokus pada Layanan Pengasuhan Anak
World Bank turut memberikan dukungan konkret lewat laporan khusus yang membahas ekosistem perawatan di Indonesia. Laporan ini disusun untuk mendukung Pemerintah Indonesia mencapai target meningkatkan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan ke 70 persen sekaligus mendukung implementasi Peta Jalan Ekonomi Perawatan dan Rencana Aksi Nasional 2025-2045. Fokus utamanya pada layanan pengasuhan anak yang terjangkau dan berkualitas.
Laporan tersebut memberikan penilaian komprehensif terhadap ekosistem perawatan Indonesia, serta rekomendasi praktis bagi pemerintah, sektor swasta, dan pemangku kepentingan lain. Harapannya dapat mendorong kebijakan dan program yang benar-benar mengatasi hambatan terkait pengasuhan yang selama ini menghalangi partisipasi ekonomi perempuan.
Bukan Sekadar Soal Perempuan, tetapi Soal Masa Depan Ekonomi Bangsa
Kawan GNFI, penting dipahami bahwa upaya meningkatkan partisipasi perempuan di dunia kerja bukan semata isu kesetaraan gender belaka. Ini adalah strategi ekonomi nasional.
Indonesia tengah bersiap menyambut periode bonus demografi sekaligus mengejar Visi Indonesia Emas 2045, dan memaksimalkan kontribusi separuh populasi yang selama ini belum tergarap optimal adalah langkah yang masuk akal secara ekonomi.
Tentu, perjalanan menuju target 70 persen ini masih panjang dan penuh tantangan struktural. Namun, dengan adanya peta jalan yang jelas, dukungan riset dari lembaga internasional, serta komitmen lintas kementerian, langkah Indonesia menuju kesetaraan ekonomi gender yang lebih nyata sudah mulai terlihat arahnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


