wirausaha perempuan kekuatan senyap di balik sepertiga umkm dunia - News | Good News From Indonesia 2026

Wirausaha Perempuan, "Kekuatan Senyap" di Balik Sepertiga UMKM Dunia

Wirausaha Perempuan, "Kekuatan Senyap" di Balik Sepertiga UMKM Dunia
images info

Free to use under the Unsplash License by Camille Bismon


Kawan GNFI, coba bayangkan sejenak: dari setiap tiga usaha kecil dan menengah yang ada di negara berkembang, setidaknya satu di antaranya dijalankan oleh perempuan.

Mereka membuka warung, mengelola usaha kerajinan, menjalankan bisnis kuliner rumahan, hingga membangun startup digital. Namun, seberapa sering kontribusi mereka benar-benar diakui setara dengan pengusaha laki-laki?

Data dari World Bank menunjukkan fakta yang mengejutkan sekaligus menggugah: perempuan pemilik usaha mewakili sekitar sepertiga dari seluruh UMKM di negara berkembang.

Namun, di balik kontribusi besar ini, mereka justru menghadapi kesenjangan pembiayaan lebih dari satu triliun dolar AS, sebuah angka yang menggambarkan betapa besar potensi yang masih belum tergarap maksimal.

baca juga

Lebih dari Sekadar Angka Statistik

Kontribusi wirausaha perempuan jauh melampaui sekadar jumlah usaha yang mereka jalankan. Perempuan, khususnya, banyak menginvestasikan kembali pendapatan mereka ke keluarga dan ekonomi lokal, menciptakan efek ganda yang kuat bagi komunitas di sekitarnya.

Dengan kata lain, ketika seorang perempuan berhasil mengembangkan usahanya, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Pendapatan itu mengalir ke pendidikan anak-anaknya, kebutuhan gizi keluarga, hingga perputaran ekonomi di lingkungan sekitarnya. UMKM sendiri adalah tulang punggung sebagian besar perekonomian dunia, mewakili sekitar 90 persen dari seluruh bisnis dan menyumbang lebih dari separuh lapangan kerja global.

Sayangnya, potensi besar ini masih terganjal oleh akses pembiayaan yang timpang. Studi terbaru IFC dan World Bank tentang kesenjangan pembiayaan UMKM yang dirilis Maret 2025 menemukan bahwa di 119 negara berkembang dan pasar berkembang, terdapat kesenjangan pembiayaan sekitar 5,7 triliun dolar AS, setara 19 persen dari PDB gabungan negara-negara tersebut.

Dari total kesenjangan tersebut, UMKM milik perempuan menghadapi kesenjangan sekitar 1,9 triliun dolar AS, atau sekitar 34 persen dari total keseluruhan. Artinya, meski jumlah usaha mereka signifikan, akses mereka terhadap modal justru jauh tertinggal dibanding proporsi kontribusinya terhadap ekonomi.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kawan GNFI, kabar baiknya, Indonesia justru menunjukkan kondisi yang relatif lebih menggembirakan dibanding rata-rata global. Riset gabungan World Bank dan IFC menemukan lebih dari separuh UMKM di Indonesia dimiliki oleh perempuan, sebuah angka yang jauh melampaui rata-rata sepertiga di tingkat global.

Bahkan, prevalensi kewirausahaan di kalangan perempuan Indonesia tergolong tinggi dibanding negara lain, dengan kesenjangan gender dalam jumlah total pengusaha laki-laki dan perempuan yang relatif rendah.

baca juga

Proporsi wirausaha perempuan di Indonesia pun terus bertumbuh, dengan usaha milik perempuan berkembang pada laju yang lebih cepat dibanding usaha milik laki-laki.

Meski begitu, tantangan akses modal tetap menjadi pekerjaan rumah yang serupa. Hanya 41 persen dari perusahaan dengan pemilik perempuan di Indonesia tercatat mendapatkan akses kredit yang memadai. Sementara sebagian besar UMKM perempuan masih beroperasi di sektor informal, sehingga sulit menjangkau pembiayaan formal dari perbankan.

Mengapa Mendukung Wirausaha Perempuan Itu Penting?

Riset global secara konsisten menunjukkan bahwa ketika perempuan diberi akses setara terhadap modal, pelatihan, dan jaringan bisnis, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh mereka secara individu, tetapi juga oleh perekonomian secara keseluruhan.

Salah satu temuan penting dari World Bank Group bahkan menyebutkan bahwa meningkatkan partisipasi angkatan kerja perempuan setara dengan laki-laki berpotensi mendorong pertumbuhan PDB suatu negara hingga puluhan persen.

Inilah mengapa berbagai inisiatif global terus didorong untuk menjembatani kesenjangan ini, mulai dari program pembiayaan khusus, pelatihan kewirausahaan, hingga reformasi kebijakan yang mempermudah perempuan mengakses layanan keuangan formal.

Kawan, kisah wirausaha perempuan ini adalah pengingat bahwa kekuatan ekonomi seringkali datang dari tempat yang paling jarang disorot. Mereka membangun usaha kecil dari dapur rumah, garasi, atau sudut pasar, lalu perlahan menjadi penggerak ekonomi keluarga dan komunitas.

Mereka mendorong inovasi, membuka lapangan kerja, dan menjaga roda perekonomian tetap berputar, sering kali tanpa sorotan media maupun dukungan modal yang memadai.

Dengan kontribusi sebesar ini, sudah saatnya wirausaha perempuan tidak lagi dipandang sebagai "kekuatan senyap" yang luput dari perhatian, melainkan sebagai pilar utama yang layak mendapatkan dukungan setara dalam pembangunan ekonomi, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.