Pertukaran budaya tidak hanya mempertemukan individu dari berbagai negara, tetapi juga membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan kapasitas kepemimpinan.
Semangat tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara AIESEC in UNS dan SMPI Al Abidin Surakarta dalam rangkaian perjalanan Global Volunteer bagi sepuluh Exchange Participants (EP) dari India, Vietnam, Belanda, Spanyol, Brasil, Mesir, dan Maroko.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Grand Incoming Preparation Seminar (Grand IPS) yang diselenggarakan pada 7 Juli 2026 dengan mengusung tema “Monggo Pinarak: Uniting Cultures, Connecting People.”
Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mempersiapkan para EP sebelum menjalani pengalaman volunteering sekaligus memperkenalkan mereka pada lingkungan sosial dan budaya yang akan menjadi bagian dari perjalanan mereka di Surakarta.
Melalui kerja sama ini, SMPI Al Abidin Surakarta menjadi salah satu ruang yang mempertemukan pengalaman exchange dengan lingkungan pendidikan lokal.
Interaksi antara para EP dan komunitas sekolah membuka kesempatan untuk saling mengenal budaya, berbagi perspektif, serta membangun pemahaman bahwa proses belajar dan pengembangan kepemimpinan dapat berlangsung melalui perjumpaan dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda.
Bagi AIESEC in UNS, pengalaman exchange merupakan salah satu cara untuk mendorong anak muda keluar dari zona nyaman dan mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin di masa depan.
Berinteraksi dengan budaya baru, beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, serta bekerja bersama masyarakat lokal menjadi pengalaman nyata yang dapat membentuk kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai yang dibawa AIESEC dalam mengembangkan kepemimpinan generasi muda. Melalui pengalaman pertukaran, anak muda diberikan ruang untuk belajar secara langsung dari dunia yang lebih luas, memahami keberagaman, dan mempersiapkan diri untuk menjadi individu yang mampu menciptakan perubahan.
Dalam pelaksanaan Grand IPS, Ana Susanti, S.Pd., Vice Principal School of SMPI Al Abidin Surakarta, turut hadir sebagai OP Taker.
Kehadiran pihak sekolah menjadi bagian penting dari kolaborasi yang dibangun untuk memberikan perspektif lokal sekaligus membantu para EP memahami lingkungan pendidikan dan sosial yang akan mereka temui selama berada di Surakarta.
Sementara itu, Fauziyah Warjanti, S.Si., M.Pd., Founder Kampung Inggris Solo Plus, turut memberikan pembekalan kepada para peserta.
Berbagai informasi mengenai budaya, kebiasaan, keamanan, dan ekspektasi selama menjalani program diberikan untuk membantu para EP beradaptasi dengan lingkungan baru secara lebih terbuka dan bertanggung jawab.
Mengusung semangat “Monggo Pinarak”, kolaborasi AIESEC in UNS dan SMPI Al Abidin Surakarta juga merepresentasikan keterbukaan untuk mempertemukan dunia global dengan kearifan lokal.
Para EP datang membawa cerita dan perspektif dari negara asal mereka, sementara lingkungan lokal menjadi ruang bagi mereka untuk belajar memahami budaya dan kehidupan masyarakat Surakarta.
Pertemuan tersebut diharapkan dapat menciptakan pengalaman yang saling memberi manfaat. Bagi para EP, interaksi dengan lingkungan lokal menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan dan mengembangkan kapasitas kepemimpinan.
Sementara bagi generasi muda di lingkungan sekolah, kehadiran peserta dari berbagai negara dapat menjadi jendela untuk mengenal dunia yang lebih luas tanpa harus meninggalkan lingkungan mereka.
Kolaborasi ini juga menunjukkan bahwa pengembangan kepemimpinan dan pemahaman lintas budaya dapat dibangun melalui kerja sama berbagai pihak.
Ketika organisasi kepemudaan dan institusi pendidikan berjalan bersama, ruang belajar dapat berkembang menjadi lebih luas—menghubungkan pengalaman global dengan kebutuhan dan konteks lokal.
Melalui Grand IPS, AIESEC in UNS dan SMPI Al Abidin Surakarta membuka langkah awal bagi sebuah pengalaman yang mempertemukan exchange, pendidikan, dan kepemimpinan.
10 anak muda dari tujuh negara kini bersiap memulai perjalanan mereka di Surakarta, membawa semangat untuk belajar dari masyarakat lokal sekaligus berbagi perspektif global.
Karena melalui pertemuan lintas budaya, setiap pihak memiliki kesempatan untuk belajar dari satu sama lain. Dari sebuah kolaborasi, lahir koneksi.
Dari koneksi, tumbuh pemahaman. Dan dari pengalaman tersebut, generasi muda dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang mampu membawa perubahan, baik di komunitasnya maupun di dunia yang lebih luas.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


