Ada sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Selatan yang menceritakan tentang kisah burung beo yang setia. Cerita rakyat ini berkisah tentang seekor burung beo yang berhasil membalaskan kebaikan tuannya.
Bagaimana kisah lengkap dari cerita rakyat Sulawesi Selatan tersebut?
Kisah Burung Beo yang Setia, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan
Dikutip GNFI dari buku Jemmain yang berjudul Cerita Rakyat Bugis, alkisah pada zaman dahulu hiduplah seorang petani yang memiliki seorang anak laki-laki. Anaknya tersebut dia beri nama Ambo Upe.
Anak laki-laki ini sangat baik hati. Dia selalu berbakti kepada kedua orang tuanya.
Tidak hanya rajin belajar, Ambo Upe juga suka membantu meringankan pekerjaan kedua orang tuanya. Salah satu tugas yang selalu dia kerjakan dengan rutin adalah menggembalakan kerbau ayahnya.
Ayah Ambo Upe memiliki tiga pasang ekor kerbau. Setiap sore, dirinya akan menggembala kerbau itu ke padang rumput yang ada di sekitar rumahnya.
Pada suatu hari, Ambo Upe pergi menggembala kerbau seperti biasa. Setelah melepaskan kerbau-kerbaunya di padang rumput, Ambo Upe beristirahat di sebuah pohon rimbun yang ada di sana.
Ketika sedang beristirahat, tiba-tiba jatuh benda hitam dari atas langit ke hadapan Ambo Upe. Anak laki-laki tersebut langsung memungut benda tersebut.
Ternyata ada seekor anak burung beo yang jatuh di hadapannya. Anak burung beo ini terlihat terlepas dari cengkraman burung elang.
Ambo Upe pun membawa anak burung beo itu pulang. Dia kemudian membersihkan luka-luka yang ada di tubuh burung beo tersebut dan merawatnya dengan sepenuh hati.
Seiring berjalannya waktu, burung beo tersebut mulai pulih. Dirinya pun menjadi sahabat dekat Ambo Upe sejak saat itu.
Ketika Ambo Upe pergi menggembala kerbau, maka burung beo itu akan ikut bersamanya. Ambo Upe pun sangat menyayangi burung beo tersebut/
Suatu ketika, Ambo Upe pergi menggembala kerbau ke sebuah padang rumput. Burung beo pun ikut dan terbang mengiringi Ambo Upe dari udara.
Setelah sampai di padang rumput, Ambo Upe melepaskan kerbau-kerbaunya. Setelah itu, dia beristirahat di bawah sebuah pohon.
Dari kejauhan, terlihat dua orang berbadan tegap yang memperhatikan kerbau-kerbau Ambo Upe. Tidak lama kemudian, kedua orang ini langsung menangkap Ambo Upe.
Karena tidak memiliki tenaga yang kuat, Ambo Upe hanya bisa meronta-ronta. Ambo Upe pun diikat di pohon oleh kedua pencuri tersebut.
Setelah itu, mereka membawa keenam kerbau Ambo Upe. Mereka membawanya ke sebuah gua yang ada di kaki bukit.
Kedua pencuri ini tidak sadar jika burung beo memperhatikan semua yang mereka lakukan. Setelah mengetahui lokasi persembunyian mereka, burung beo ini langsung melesat terbang menuju rumah Ambo Upe.
Sesampainya di rumah, burung beo ini langsung menemui ayah Ambo Upe. Burung beo itu menggerak-gerakkan ekornya di hadapan sang ayah.
Ayah Ambo Upe sadar jika ada sesuatu yang tidak beres. Dia pun langsung pergi ke padang rumput tempat Ambo Upe biasa menggembalakan kerbau.
Benar saja, dia melihat anaknya terikat di pohon. Setelah melepaskan ikatan, Ambo Upe menceritakan apa yang terjadi padanya.
Setelah mendengar penjelasan itu, sang ayah pun mengumpulkan warga kampung. Mereka kemudian mengikuti arah terbang burung beo hingga menuju gua tempat persembunyian kedua pencuri.
Sesampainya di sana, kedua pencuri ini tidak bisa berkutik. Tidak hanya keenam kerbau Ambo Upe, ada banyak barang lain hasil curian mereka di dalam gua tersebut.
Akhirnya kedua pencuri ini diserahkan ke pihak berwajib. Burung beo yang setia ini berhasil menyelamatkan tuannya dari bahaya yang mengancam.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


