Jajanan berbahan dasar aci mudah sekali ditemukan di sekitar kita, di depan sekolah, pasar, hingga warung di pinggir jalan. Macamnya pun tidak hanya satu, tapi berbagai rupa, ada yang digoreng, dikukus dan berkuah. Meski berasal dari bahan yang sederhana, olahan aci bisa hadir dengan nama, bentuk, dan cara penyajian yang begitu beragam.
Di tangan para penjual dan pembuatnya, bahan sesederhana aci bisa diolah menjadi jajanan yang enak dan dapat dinikmati setiap kalangan. Dari bahan yang sama, lahir begitu banyak makanan yang akrab dengan keseharian kita, terutama sebagai teman ngemil atau pengganjal lapar. Dari sanalah aci dijuluki satu bahan beragam wajah.
Satu Bahan, Beragam Wajah di Tangan Masyarakat
Sebelum membahas lebih jauh tentang aci, kita lebih baik mengetahui terlebih dulu apa itu aci. Aci dalam bahasa Sunda merujuk pada tepung tapioka atau yang juga dikenal sebagai tepung kanji. Tepung ini berasal dari pati singkong.
Ketika dicampur dengan air dan dimasak, tepung tapioka dapat menghasilkan tekstur yang lengket dan kenyal. Tekstur tersebut yang kemudian menjadi salah satu alasan aci mudah dikembangkan menjadi berbagai jenis makanan. Rasanya juga cenderung netral, sehingga membuat aci dapat dipadankan dengan beragam bumbu dan bahan lainnya.
Cara mengolahnya pun bisa mengubah hasil akhirnya. Adonan aci dapat dibentuk, diberi isian atau bumbu, kemudian digoreng, direbus, maupun diolah dengan teknik lainnya. Perbedaan teknik memasak hingga cara penyajiannya inilah yang menghasilkan berbagai varian aci sampai saat ini.
Penggunaan aci pun tidak terbatas pada satu jenis makanan atau satu daerah saja, sehingga perkembangannya dapat ditemui dalam beragam bentuk kuliner di Indonesia.
Dari Cilok hingga Cireng, Aci yang Menemukan Jalannya di Tanah Sunda
Walaupun olahan aci tidak terbatas berasal dari satu daerah saja, tetapi aci yang kita tahu memang banyak ditemukan di wilayah Jawa Barat. Olahan aci lekat dengan wilayah Jawa Barat karena tanah di wilayah ini sangat cocok digunakan untuk menanam singkong, yang mana kita tahu bahwa bahan dasar aci sendiri berasal dari tepung tapioka yang berasal dari pati singkong.
Singkong awalnya memang bukan tanaman khas Indonesia, melainkan Brazil. Namun, tanaman ini kemudian dibawa oleh bangsa Portugis ke Indonesia pada abad ke-16.
Dari sanalah kemudian masyarakat Indonesia mulai mengolah singkong. Lalu pada abad ke-18 makanan berbahan dasar aci mulai berkembang di Jawa Barat.
Di tanah Sunda ini, bisa kita temukan beragam olahan aci, contohnya cimol, cilok, cireng, hingga cilung. Semua jajanan tersebut berbahan dasar aci, tetapi cara pengolahan, bentuk, dan bumbu yang digunakannya saja yang berbeda. Cilok, cireng, dan cilung biasanya diolah dengan cara digoreng, dan cilok diolah dengan cara dikukus.
Tak hanya di Jawa Barat, aci juga sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia karena fleksibilitasnya yang bisa dijadikan apa saja dan dapat disesuaikan dengan selera masing-masing. Maka dari itu, kini masyarakat di luar Jawa Barat juga dapat membuat kreasinya sendiri.
Saat Aci Tak Perlu Bertemu Minyak untuk Menjadi Jajanan

Cilok | Wikimedia Commons | Dianascorner (dengan sedikit perubahan)
Jajanan aci memang identik dengan cara pengolahan yang digoreng. Namun, realitanya aci tidak selalu harus selalu digoreng untuk menjadi makanan enak.
Salah satu contohnya adalah cilok, yang menunjukkan bahwa teknik memasak dapat menghasilkan karakter makanan yang berbeda meski bahan dasarnya tetap sama.
Cilok dibuat dari adonan aci yang dibentuk bulat, kemudian dimasak dengan cara direbus atau dikukus. Setelah matang, teksturnya menjadi kenyal dan lembut ketika digigit. Berbeda dengan olahan aci yang digoreng, cilok tidak memiliki lapisan luar yang kering atau renyah.
Cara menyantapnya pun khas, yakni ditusuk menggunakan tusuk sate dan biasanya dilengkapi bumbu kacang, kecap, saus, atau sambal.
Cilok juga memperlihatkan bagaimana satu bahan dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan makan masyarakat.
Ketika Aci Bertemu Minyak Panas dan Suara Kriuk

Cireng | Wikimedia Commons | Lany Pirna (dengan sedikit perubahan)
Setelah tadi membahas mengenai olahan aci yang diolah dengan cara dikukus, kini mari membahas tentang olahan aci yang diolah dengan cara digoreng. Olahan aci yang digoreng lebih banyak ragamnya dibanding aci yang diolah dengan teknik lain.
Olahan aci yang digoreng biasanya memiliki tekstur yang renyah di luar tetapi lembut dan kenyal di dalam. Contohnya ada cimol, cireng, cilung, cibay, dan lainnya.
Cimol menjadi salah satu contoh yang paling mudah dikenali. Aci dibentuk bulat lalu digoreng, menghasilkan bagian luar yang kering sementara bagian dalamnya tetap kenyal. Cimol biasanya disantap selagi panas dengan bumbu tambahan.
Dalam perkembangannya, kini cimol juga diberi berbagai isian dan bumbu, seperti diisi dengan keju mozzarella, daging sapi, dan daging ayam serta beragam pilihan bumbu, seperti balado dan barbeque.
Kalau cimol hadir dalam bentuk bulat, cireng mengambil bentuk yang berbeda. Sesuai namanya, aci digoreng, cireng berbentuk lempeng atau pipih dengan ukuran yang cukup tebal. Cireng dapat diberi isian, mulai dari kacang hingga variasi yang berkembang seperti daging, ayam, sosis, keju, dan kornet.
Kemudian ada cilor, yang mempertemukan aci dengan telur. Aci dibentuk menjadi bulatan kecil, dicelupkan ke dalam telur, lalu digoreng. Setelah matang, cilor biasanya ditusuk seperti sate dan disantap bersama saus merah atau kecap.
Selain itu, ada juga cipuk. Mungkin beberapa orang masih ada yang belum mengatahui tentang jajanan ini. Cipuk adalah olahan adonan aci yang dipadukan dengan remahan kerupuk warna-warni.
Sebenarnya adonan cipuk yang sudah bercampur tadi dikukus terlebih dulu, jika sudah matang, kemudian baru digoreng. Cipuk dapat disajikan bersama sambal rujak, tetapi kini juga hadir dengan berbagai bumbu tabur seperti keju, balado, jagung bakar, asin, dan pedas.
Ada pula cibay, yang menawarkan tekstur yang sangat berbeda antara bagian dalam dan luarya. Aci dibungkus menggunakan kulit lumpia sehingga bagian luarnya menjadi garing ketika digoreng, sedangkan bagian dalamnya tetap lembut dan kenyal.
Saat Semangkuk Kuah Mengubah Wajah Aci

Bakso Aci | Wikimedia Commons | Fimela.com
Selain digoreng dan dikukus, aci juga dapat disajikan dengan kuah. Salah satu contohnya adalah baso aci. Seperti namanya, makanan ini menggunakan aci sebagai bahan dasar bakso.
Namun, yang membuatnya berbeda dari bakso pada umumnya adalah berbagai pelengkap yang menyertainya. Baso aci dapat disajikan bersama pilus atau cikur, siomay, batagor kering, dan pangsit, kemudian dipadukan dengan kuah berbumbu rempah.
Aci yang semula hanya mengandalkan tekstur kenyal dapat menjadi bagian dari makanan dengan rasa yang lebih kompleks karena menyerap atau berpadu dengan kuah dan bumbu di dalamnya.
Kenapa Aci Begitu Mudah Menemukan Bentuk Baru?
Di Jawa Barat, aci bukan sekadar bahan yang mudah ditemukan, tetapi juga bagian dari keseharian masyarakat. Olaharan aci biasanya dijual dengan harga yang relatif terjangkau dan jenisnya beragam sehingga jajanan serba aci mudah diterima oleh masyarakat.
Salah satu alasannya berkaitan dengan kondisi alam Jawa Barat. Menurut budayawan Sunda sekaligus Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan, Budi Setiawan GP atau Budi Dalton, iklim dan tanah yang subur membuat komoditas singkong melimpah di wilayah tersebut. Singkong atau sampeu kemudian diolah menjadi aci dan berkembang sebagai bagian dari warisan kuliner masyarakat Sunda.
Ketersediaan singkong dalam jumlah melimpah memberi ruang bagi masyarakat untuk mengolahnya menjadi berbagai sajian. Menurut Budi, aci bahkan telah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun di sejumlah wilayah adat Jawa Barat.
Dari Jajanan Sederhana, Ada Cerita tentang Kreativitas Orang Indonesia
Kreativitas tersebut tidak hanya terlihat dari bentuk makanannya, tetapi juga dari cara masyarakat memberi nama. Cimol berasal dari aci digemol, cilok dari aci dicolok, cireng dari aci digoreng, sedangkan cibay merupakan singkatan dari aci ngambay. Nama-nama tersebut berkaitan dengan cara makanan dibuat atau disajikan.
Menariknya, tidak ada aturan khusus dalam penamaan jajanan Sunda, terutama makanan berbahan aci. Nama tersebut dapat berkembang mengikuti kreativitas masyarakat. Budi bahkan memberikan contoh kemungkinan perubahan nama cilok menjadi ciwel apabila cara menikmatinya berubah dari dicolok menjadi dicowel. Permainan kata seperti ini sekaligus membuat istilah berbahasa Sunda ikut dikenal melalui makanan.
Kreativitas masyarakat terhadap aci juga pernah hadir dalam bentuk festival. Pada akhir 2022, misalnya, digelar Bandung Lautan Aci.
Nama tersebut terinspirasi dari julukan Bandung Lautan Api dan menjadi gambaran bagaimana aci telah berkembang begitu dekat dengan kehidupan kuliner masyarakat Bandung.
Jadi, banyaknya bentuk olahan aci tidak hanya berasal dari sifat bahannya yang mudah diolah, tetapi juga dari kreativitas masyarakat yang mengolahnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


