sejarah panjang persis solo dan pasoepati - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Persis Solo, Sang Laskar Sambernyawa dan Sejarah Panjang di Baliknya

Mengenal Persis Solo, Sang Laskar Sambernyawa dan Sejarah Panjang di Baliknya
images info

Logo Persis Solo (Wikipedia)


Sepak bola di Kota Surakarta memiliki cerita panjang yang tidak hanya tentang pertandingan di lapangan, tetapi juga tentang identitas, sejarah, dan loyalitas.

Persis Solo dan komunitas suporternya Pasoepati adalah dua unsur penting yang membentuk wajah sepak bola di kota budaya ini. Perjalanan keduanya penuh warna, mulai dari masa kolonial, kejayaan, keterpurukan, hingga kebangkitan kembali di era modern.

Awal Berdiri PERSIS Solo

Sejarah Persis Solo sebagaimana dikutip dari laman resmi Persissolo.id dimulai pada tahun 1923, ketika sebuah organisasi sepak bola bernama Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) didirikan di Surakarta.

Organisasi tersebut menjadi salah satu pionir perkembangan sepak bola di Indonesia sebelum terbentuknya sistem kompetisi nasional. Seiring meningkatnya semangat nasionalisme di kalangan pemuda Indonesia pada masa itu, VVB kemudian berganti nama menjadi Persatuan Sepak Bola Indonesia Surakarta pada tahun 1928.

Pergantian nama ini bukan sekadar perubahan identitas, tetapi juga mencerminkan semangat persatuan dan kebangsaan. Sejak saat itu, Persis Solo mulai dikenal sebagai salah satu klub tertua dan paling bersejarah di Indonesia.

baca juga

Pada masa Perserikatan sebelum kemerdekaan Indonesia, Persis Solo tampil sebagai salah satu klub paling kuat di tanah air. Klub ini berhasil meraih tujuh gelar juara nasional, menjadikannya salah satu tim paling sukses di era tersebut.

Prestasi tersebut bukan hanya mengukuhkan posisi Persis sebagai kekuatan besar sepak bola nasional, tetapi juga memperkuat citra klub sebagai simbol kebanggaan masyarakat Surakarta.

Julukan Laskar Sambernyawa pun lahir sebagai representasi semangat juang dan karakter kuat yang dimiliki klub ini.

Persis Solo dan Laskar Sambernyawa

Julukan Laskar Sambernyawa yang disandang Persis Solo diambil dari julukan raja pertama Pura Mangkunegaran, R.M. Said (Mangkunegara I), yang dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa. Julukan ini mencerminkan semangat juang, militansi, dan keberanian pantang menyerah seperti RM Said saat melawan Belanda.

Pasukan RM Said memiliki motto Tiji Tibeh (mati siji, mati kabèh; mukti siji, mukti kabèh) yang artinya gugur satu, gugur semua; sejahtera satu, sejahtera semua.

Persis Solo mengadopsi julukan ini untuk menularkan semangat perjuangan, kesolidan, dan mentalitas juara yang pantang menyerah seperti pasukan Pangeran Sambernyawa.

Persis Solo bermarkas di Stadion Manahan, salah satu stadion terbesar dan paling modern di Jawa Tengah. Stadion ini menjadi pusat kegiatan sepak bola sekaligus simbol kebanggaan warga Surakarta.

Selain itu, Stadion Sriwedari juga menjadi bagian penting dari sejarah Persis Solo karena pernah menjadi saksi perjalanan awal klub. Kehadiran dua stadion bersejarah ini semakin memperkuat posisi Persis sebagai bagian dari identitas kota.

baca juga

Sejarah Pasoepati

Sebagaimana dikutip dari laman Pasoepati.net artikel berjudul "Sejarah Pasoepati" Pasoepati resmi berdiri pada 9 Februari 2000 di Surakarta. Organisasi ini diprakarsai oleh Mayor Haristanto yang kemudian dikenal sebagai tokoh penting dalam perkembangan suporter di Indonesia.

Pada awalnya, Pasoepati merupakan singkatan dari Pasukan Suporter Pelita Sejati karena kelompok ini awalnya mendukung klub Pelita yang bermarkas di Solo.

Namun, seiring perubahan dinamika sepak bola di kota tersebut, Pasoepati kemudian berubah menjadi Pasukan Suporter Paling Sejati.

Perjalanan Pasoepati tidak langsung berlabuh pada Persis Solo. Kelompok ini sempat mendukung beberapa klub yang bermarkas di Surakarta, seperti Pelita Solo dan Persijatim Solo FC.

Setelah klub-klub tersebut tidak lagi berada di Solo, Pasoepati akhirnya menjadikan Persis Solo sebagai satu-satunya klub kebanggaan yang didukung secara penuh. Sejak saat itu, hubungan antara Persis Solo dan Pasoepati menjadi sangat erat dan tidak terpisahkan.

Pasoepati dikenal sebagai salah satu pelopor budaya suporter modern di Indonesia. Mereka memperkenalkan konsep dukungan kreatif melalui nyanyian, koreografi, serta peran dirigen yang memimpin tribun.

Atmosfer pertandingan di Stadion Manahan pun menjadi lebih hidup berkat kreativitas dan antusiasme Pasoepati. Dukungan penuh dari Pasoepati menjadi kekuatan utama dalam perjalanan klub menuju prestasi yang lebih tinggi.

Dengan sejarah panjang, basis suporter yang kuat, serta identitas yang jelas, Persis Solo memiliki peluang besar untuk kembali menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Indonesia.

Perjalanan panjang Persis Solo dan Pasoepati menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga tentang identitas, budaya, dan kebanggaan.

Keduanya telah menjadi bagian penting dari sejarah Surakarta dan terus berkembang mengikuti zaman tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Dengan fondasi yang kuat dan dukungan yang solid, kisah Persis Solo dan Pasoepati akan terus berlanjut sebagai legenda hidup dalam dunia sepak bola Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.