Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) Universitas Negeri Malang (UM) resmi meluncurkan WHISH (Whitening Hybrid Innovative Sheet for Hygienic Shoes). Ini adalah sebuah inovasi tisu basah perawatan sepatu putih yang dirancang sebagai solusi praktis untuk membantu mengatasi noda sekaligus menjaga tampilan sepatu agar tidak mudah mengalami kekuningan.
Produk ini memadukan teknologi, pemanfaatan limbah organik, dan konsep keberlanjutan sehingga menjadi alternatif baru dalam perawatan sepatu sehari-hari.
Peluncuran WHISH merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin ilmu yang diketuai oleh Sekar Wahyu Ningtyas dari Program Studi S1 Pendidikan Bisnis bersama Ervina Mei Ananda Putri (S1 Pendidikan Bisnis), Adrian Arif Pambudi (S1 Biologi), Salwa Avisa Yumna Salsabila Suprapto (S1 Pendidikan Kimia), dan Kharisma Putri Ambarwati (S1 Pendidikan Bahasa Jerman).
Kolaborasi tersebut mengintegrasikan bidang kewirausahaan, biologi, kimia, dan pengembangan produk untuk menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.
Inovasi ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan sepatu putih sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat, khususnya di kalangan mahasiswa dan generasi muda. Meskipun memiliki tampilan yang menarik, sepatu putih mudah terkena noda dan mengalami kekuningan akibat paparan debu, sinar ultraviolet, kelembapan, serta proses oksidasi selama penggunaan.
Di sisi lain, aktivitas masyarakat yang semakin padat membuat banyak orang tidak memiliki waktu untuk mencuci dan merawat sepatu secara rutin.
Kondisi tersebut mendorong tim PKM-K UM menghadirkan WHISH sebagai produk daily care yang dapat digunakan kapan saja tanpa memerlukan air maupun proses pembilasan.
Keunggulan utama WHISH terletak pada pemanfaatan bahan baku berbasis limbah organik yang dipadukan dengan teknologi modern. Lembaran tisu dibuat dari ampas tebu, limbah pertanian yang diolah menjadi serat biodegradable sehingga lebih ramah lingkungan.
Sementara itu, larutan aktif memanfaatkan ekstrak kulit lemon yang berasal dari limbah industri minuman. Untuk menjaga stabilitas senyawa aktif dan meningkatkan efektivitasnya, ekstrak kulit lemon diproses menggunakan teknologi nanoenkapsulasi, sehingga membantu membersihkan noda sekaligus menjaga tampilan sepatu putih agar tetap cerah.
Tim juga mengembangkan biosurfaktan alami berbahan ekstrak lidah buaya (aloevera) sebagai bagian dari formulasi produk. Biosurfaktan ini berperan menurunkan tegangan permukaan sehingga membantu melepaskan noda, debu, dan kotoran yang menempel pada permukaan sepatu secara lebih efektif.
Penggunaan biosurfaktan alami menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan surfaktan sintetis, sehingga WHISH aman digunakan pada berbagai material sepatu putih, seperti kulit sintetis (synthetic leather), poliuretan (PU leather), serta bagian midsole berbahan rubber, EVA, dan TPU.
Melalui kombinasi serat ampas tebu, nanoenkapsulasi ekstrak kulit lemon, dan biosurfaktan lidah buaya, WHISH menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan mengubah limbah pertanian dan limbah industri menjadi produk inovatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa limbah organik tidak hanya dapat dikurangi, tetapi juga dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna tinggi bagi masyarakat.
WHISH dikemas dalam box berisi 8 sachet, dengan setiap sachet berisi 2 lembar tisu basah yang praktis digunakan untuk membersihkan sepasang sepatu.
Dengan harga Rp30.000 per box, WHISH menawarkan solusi perawatan sepatu yang ekonomis, khususnya bagi mahasiswa dan masyarakat yang membutuhkan produk praktis untuk menjaga kebersihan sepatu putih dalam aktivitas sehari-hari.
Ketua Tim PKM-K, Sekar Wahyu Ningtyas, menjelaskan bahwa WHISH tidak hanya dikembangkan sebagai produk pembersih sepatu, tetapi juga sebagai bentuk inovasi yang menggabungkan teknologi, keberlanjutan, dan pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah.
"WHISH kami kembangkan sebagai solusi perawatan harian yang praktis sekaligus ramah lingkungan. Melalui pemanfaatan serat ampas tebu, ekstrak kulit lemon hasil pemanfaatan limbah industri minuman yang diproses dengan teknologi nanoenkapsulasi, serta biosurfaktan alami dari lidah buaya, kami ingin menunjukkan bahwa limbah organik dapat diolah menjadi produk inovatif yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi," ujar Sekar.
Dengan dukungan Universitas Negeri Malang serta kolaborasi lintas disiplin ilmu, WHISH diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam menghadirkan produk perawatan sepatu yang lebih praktis, efektif, dan berkelanjutan.
Inovasi ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) poin ke-12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production), melalui penerapan ekonomi sirkular, pemanfaatan limbah organik sebagai bahan baku bernilai tambah, serta pengembangan produk yang lebih ramah lingkungan.
Ke depan, tim berharap WHISH dapat berkembang menjadi produk perawatan sepatu karya anak bangsa yang berdaya saing, memperluas pemanfaatan sumber daya lokal, dan menginspirasi lahirnya inovasi hijau lainnya yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


