Menolak ketentuan mengikat, seperti good looking dan tinggi semampai, bendera Merah Putih di Kudus dikibarkan oleh kawan berkebutuhan khusus.
Ya, tiga petugas pengibar bendera pada Senin (17/8/2026) pagi, di halaman Balai Desa Mlati Lor, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, adalah penyandang disabilitas. Mereka duduk di kursi roda, membawa bendera Merah Putih, lalu mengibarkannya di depan sekitar seratus peserta upacara.
Upacara yang melibatkan kawan berkebutuhan khusus ini digagas Forum Komunikasi Disabilitas Kudus (FKDK) bersama komunitas Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), menggandeng Pemerintah Desa Mlati Lor.
Kawan, sebenarnya, pelibatan kawan disabilitas sebagai pengibar bendera bukan kali pertama. Ketua FKDK, Rismawan Yulianto, menyebut kegiatan semacam ini rutin digelar tiap tahun. Menurutnya, strategi itu digunakan untuk memberikan kesempatan yang setara bagi kawan disabilitas terlibat dalam proses pengibaran bendera saat 17 Agustus.
"Selama ini dari berbagai cerita yang saya dengar, teman-teman disabilitas tidak pernah ikut upacara. Kami ingin mereka juga merasakan bagaimana berkontribusi untuk negara, meskipun mungkin sederhana, salah satunya melalui upacara," kata Rismawan, sebagaimana dikutip dari Antara News.
Latihan Cuma Sehari, Hasilnya Bikin Terharu
Kawan, yang menarik, para petugas upacara itu hanya melakukan geladi bersih upacara sehari sebelum hari-H.
Indriyati, salah satu petugas pembawa baki bendera, mengaku sempat gugup. Ia paling khawatir jika bendera terbalik saat ditarik ke tiang. Tapi toh kekhawatiran itu tidak terjadi. Ketiganya bisa menjalankan tugas dengan baik dan upacara berjalan lancar.
"Alhamdulillah, teman-teman langsung tahu tugasnya masing-masing dan tanpa kesulitan kami bisa menyelenggarakan ini," ujar Rismawan.
Anak Berkebutuhan Khusus Kenalan dengan Indonesia lewat Baju Adat
Upacara ini juga jadi ruang belajar buat Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang ikut serta. Mereka mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia, sebagai salah satu cara untuk mengenalkan keberagaman suku dan budaya bangsa sejak dini.
Rismawan menyebut, kegiatan ini sekaligus jadi sarana menanamkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air kepada mereka, dengan cara yang ramah dan tidak menakutkan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


