Pemanfaatan lahan pekarangan sebagai ruang untuk menanam sayuran sekaligus mengelola sampah rumah tangga menjadi perhatian dalam kegiatan Eco Gardening yang diselenggarakan mahasiswa KKN Tematik Inovasi IPB University Kelompok Bogorkab 30.
Aktivitas bertajuk “Pengelolaan Sampah Organik dan Budidaya Sayuran Rumah Tangga sebagai Upaya Mewujudkan Lingkungan yang Bersih dan Produktif” dilaksanakan pada Minggu (2/8) di MI Sirojul Huda, Kampung Bojong Menteng, Kabupaten Bogor.
Sekitar 25 warga Kampung Bojong Menteng mengikuti kegiatan yang dikemas dalam bentuk pemaparan materi, demonstrasi, serta diskusi. Melalui acara ini, masyarakat diajak melihat bahwa berbagai bahan yang selama ini dianggap sebagai limbah rumah tangga masih dapat dimanfaatkan untuk mendukung bercocok tanam di lingkungan tempat tinggal.
Sisa sayuran, kulit buah, hingga air bekas cucian beras merupakan contoh bahan yang mudah dijumpai dalam aktivitas sehari-hari. Apabila dikelola dengan tepat, bahan-bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan tanaman sekaligus mengurangi jumlah sampah organik yang dibuang.
Koordinator Desa KKN Tematik Inovasi IPB University Desa Cibalung, Gilang, menyampaikan bahwa program Eco Gardening dibuat dengan mempertimbangkan kemudahan penerapannya oleh masyarakat.
“Konsep yang kami bawa sebenarnya sederhana. Kami ingin menunjukkan bahwa dari hal-hal yang ada di rumah pun masyarakat bisa mulai mengelola sampah dan menanam. Jadi setelah kegiatan ini selesai, praktiknya tetap bisa dilanjutkan secara mandiri,” ungkap Gilang.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, aktivitas tersebut menghadirkan Muhammad Howards Wardani, lulusan Agronomi dan Hortikultura IPB University yang saat ini menempuh pendidikan Magister Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman IPB University.
Howards memiliki pengalaman sebagai anggota tim pemulia tanaman dalam sejumlah penelitian hortikultura serta sebagai asisten praktikum.
Materi yang diberikan tidak hanya membahas konsep pengelolaan sampah, tetapi juga diarahkan pada praktik yang dapat dilakukan menggunakan bahan dan peralatan yang relatif mudah diperoleh.
Salah satu metode yang diperkenalkan adalah penggunaan komposter tumpuk sederhana untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair.
Peserta juga dikenalkan dengan pemanfaatan air leri atau air cucian beras sebagai salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan dalam perawatan tanaman.
Selain itu, narasumber menjelaskan cara membuat pestisida nabati dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar rumah sebagai salah satu pilihan dalam menangani gangguan hama tanaman.
Tidak berhenti pada pengelolaan sampah, kegiatan juga memberikan pengalaman langsung mengenai budidaya tanaman. Narasumber memperagakan penanaman tanaman dari keluarga Solanaceae, seperti cabai, tomat, dan terung, dengan memanfaatkan sistem kapiler.
Dalam demonstrasi tersebut, peserta diperlihatkan bagaimana menyiapkan media tanam serta menerapkan sistem kapiler untuk membantu menyediakan air bagi tanaman. Metode tersebut diperkenalkan sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan masyarakat untuk melakukan budidaya tanaman di pekarangan rumah dengan pengelolaan air yang lebih efisien.
Antusiasme warga terlihat selama sesi praktik dan diskusi. Peserta tidak hanya mengikuti tahapan demonstrasi, tetapi juga aktif menyampaikan pertanyaan berdasarkan kondisi yang mereka temui ketika merawat tanaman di rumah.
Beberapa hal yang menjadi bahan diskusi antara lain durasi pengolahan sampah menjadi kompos, takaran penggunaan pupuk organik cair, penggunaan pestisida nabati, serta cara menjaga tanaman agar dapat tumbuh dan menghasilkan dengan baik.
Interaksi tersebut menjadi salah satu bagian penting dari kegiatan karena memungkinkan materi yang disampaikan disesuaikan dengan kebutuhan dan pengalaman masyarakat. Dengan demikian, Eco Gardening tidak hanya menjadi kegiatan penyampaian informasi, tetapi juga menjadi ruang bertukar pengetahuan mengenai pengelolaan lingkungan dan budidaya tanaman skala rumah tangga.
Menurut Gilang, keterlibatan aktif warga selama kegiatan menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat terhadap praktik sederhana yang dapat dilakukan dari lingkungan rumah masing-masing.
“Kami melihat masyarakat cukup antusias, terutama ketika masuk ke bagian praktik dan diskusi. Mudah-mudahan apa yang dipelajari hari ini bisa dicoba di rumah, baik dalam mengolah sampah organik maupun menanam sayuran,” tuturnya.
Melalui Eco Gardening, mahasiswa KKN Tematik Inovasi IPB University berupaya mendorong perubahan kebiasaan yang dapat dimulai dari tingkat rumah tangga. Sampah organik tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.
Di sisi lain, pekarangan rumah dapat dioptimalkan menjadi ruang untuk menghasilkan bahan pangan sederhana bagi keluarga.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat Kampung Bojong Menteng untuk mengembangkan kebiasaan mengelola sampah dan memanfaatkan lahan secara lebih produktif. Praktik tersebut sekaligus mendukung upaya menciptakan lingkungan Desa Cibalung yang lebih bersih, hijau, produktif, dan berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

