Potensi perikanan di Desa Tanjungjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi sehari-hari, tetapi juga dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah. Salah satunya adalah abon ikan tuna yang diproduksi oleh kelompok masyarakat setempat dengan merek Sofia.
Produk abon ikan tuna Sofia telah memiliki izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikat halal serta telah memiliki pelanggan. Meski demikian, dari hasil pendampingan yang dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University, masih terdapat peluang untuk mengembangkan produk, khususnya dari sisi identitas visual, kemasan, dan pemasaran digital.
Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKNT IPB di Desa Tanjungjaya melaksanakan program Pendampingan Penguatan Identitas Visual Produk dan Pemasaran Digital Produk Olahan Perikanan Kelompok Masyarakat Desa Tanjungjaya Berbasis Potensi Lokal.Program ini tidak diarahkan untuk mengubah karakteristik produk yang telah dimiliki masyarakat. Sebaliknya, mahasiswa berperan sebagai mitra pendamping untuk membantu menyegarkan tampilan produk agar lebih menarik dan memiliki identitas yang lebih kuat.
Berawal dari Produk yang Telah Dimiliki Masyarakat
Pendampingan dilakukan bersama kelompok masyarakat pengolah hasil perikanan, salah satunya melalui komunikasi dan diskusi dengan Ibu Elyana selaku mitra dalam pengembangan produk abon ikan tuna Sofia.
Sebelum menentukan bentuk pendampingan, mahasiswa berdiskusi dengan mitra mengenai kondisi produk, proses produksi, identitas yang telah digunakan, serta kebutuhan pengembangan produk. Dari proses tersebut, diketahui bahwa abon ikan tuna Sofia telah memiliki produk dan pasar yang berjalan, sehingga pengembangan lebih diarahkan pada aspek pendukung pemasaran.
Mahasiswa kemudian menyusun alternatif desain identitas visual yang tetap mempertahankan nama Sofia sebagai identitas produk. Penyegaran dilakukan melalui pengembangan desain logo, label, dan kemasan agar produk memiliki tampilan yang lebih informatif dan menarik.
Desain tersebut kemudian didiskusikan bersama mitra untuk menyesuaikan informasi yang dicantumkan pada kemasan, termasuk komposisi, identitas produsen, informasi legalitas, serta informasi produk lainnya.Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak mengambil alih usaha yang telah berjalan, tetapi berusaha mengembangkan produk berdasarkan karakteristik dan kebutuhan yang dimiliki oleh mitra.
Belajar Produksi Abon Bersama Mitra
Pendampingan kemudian dilanjutkan melalui kegiatan produksi bersama pada 3 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian penting karena mahasiswa tidak hanya memberikan pendampingan dari sisi desain dan pemasaran, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pengolahan abon ikan tuna.
Produksi diawali dengan menyiapkan sekitar 3,7 kilogram ikan tuna segar. Ikan kemudian dibersihkan dan dipotong menjadi beberapa bagian sebelum direbus bersama bumbu seperti daun salam, sereh, lengkuas, garam, dan bumbu lainnya.
Setelah matang, ikan didinginkan terlebih dahulu. Daging kemudian dipisahkan dan dipipihkan sebelum disuwir menjadi bagian-bagian kecil.
Pada tahap berikutnya, bawang merah dan bawang putih dihaluskan untuk digunakan sebagai bumbu. Suwiran ikan kemudian dicampurkan dengan bumbu dan bahan lainnya, seperti santan, gula merah, gula pasir, garam, serta penyedap rasa.
Campuran tersebut selanjutnya digoreng hingga matang dan berwarna kecokelatan. Setelah ditiriskan, abon dimasukkan ke dalam spinner untuk membantu mengurangi minyak yang tersisa pada produk.
Dari sekitar 3,7 kilogram bahan baku ikan tuna tersebut, diperoleh kurang lebih 1 kilogram abon ikan tuna yang siap dikemas.
Selain mengikuti proses produksi, mahasiswa juga melakukan diskusi bersama mitra mengenai praktik produksi yang baik pada skala rumah tangga, termasuk kebersihan proses, penanganan bahan baku, dan penyimpanan produk.
Dari Kemasan Sederhana Menuju Identitas yang Lebih Kuat
Setelah proses produksi selesai, abon ikan tuna dikemas menggunakan standing pouch yang telah disiapkan dan diberi label dengan desain baru.
Kemasan Baru Produk Abon Ikan Tuna
Pengembangan kemasan menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat identitas produk. Label tidak hanya dirancang agar memiliki tampilan yang lebih menarik, tetapi juga memuat informasi produk yang diperlukan sehingga konsumen dapat memperoleh informasi dengan lebih mudah.
Bagi produk pangan yang telah memiliki pasar, kemasan menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kesan pertama konsumen. Identitas visual yang konsisten juga dapat membantu produk lebih mudah dikenali ketika dipasarkan secara langsung maupun melalui media digital.
Memperluas Cerita Produk melalui Media Digital
Pengembangan produk kemudian dilanjutkan melalui dokumentasi berupa foto dan video. Produk abon ikan tuna yang telah dikemas didokumentasikan untuk menghasilkan materi visual yang dapat digunakan dalam kegiatan promosi.
Foto produk disiapkan sebagai bahan penyusunan katalog digital, sedangkan video dikembangkan menjadi materi promosi yang dapat dimanfaatkan melalui media digital.
Katalog Digital Abon Ikan Tuna Sofia
Melalui kegiatan tersebut, kelompok masyarakat tidak hanya mendapatkan desain kemasan baru, tetapi juga memperoleh aset promosi yang dapat digunakan kembali untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen.
Kolaborasi untuk Menguatkan Produk Lokal
Program pendampingan abon ikan tuna Sofia menunjukkan bahwa pengembangan produk lokal dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
Mahasiswa KKNT IPB tidak berangkat dari kondisi bahwa mitra belum memiliki produk. Sebaliknya, produk dan pengalaman produksi telah dimiliki oleh masyarakat. Pendampingan kemudian diarahkan untuk memperkuat aspek yang masih dapat dikembangkan, terutama identitas visual, kemasan, dokumentasi produk, dan pemasaran digital.
Melalui kolaborasi tersebut, abon ikan tuna Sofia menjadi salah satu contoh pemanfaatan potensi perikanan Desa Tanjungjaya menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.Hasil pendampingan berupa identitas visual, desain kemasan, foto produk, katalog digital, dan video promosi diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh kelompok masyarakat setelah kegiatan KKNT IPB berakhir.Dengan demikian, pengembangan abon ikan tuna tidak berhenti pada proses produksi, tetapi juga berlanjut pada bagaimana produk lokal tersebut dapat memiliki identitas yang kuat dan diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


