Kawan GNFI, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa mie instan asal Korea Selatan seperti samyang begitu digandrungi anak muda Indonesia, termasuk di Riau, meski harganya jauh lebih mahal dibanding mie instan lokal?
Sebuah penelitian skripsi dari Universitas Islam Riau tahun 2021 mencoba menjawab pertanyaan itu secara ilmiah, dan hasilnya cukup menarik untuk kita renungkan bersama sebagai gambaran perilaku konsumen generasi muda Riau hari ini.
3 Faktor yang Diteliti Secara Mendalam
Penelitian yang dilakukan Sintya Krisnawati dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Riau ini secara khusus mengkaji pengaruh labelisasi halal, gaya hidup, dan harga terhadap keputusan pembelian mie samyang di kalangan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau.
Penelitian ini menggunakan 50 responden mahasiswa yang sudah pernah mengonsumsi mie asal Korea tersebut, dengan metode kuota sampling dan dianalisis menggunakan SPSS versi 21.
Ada alasan kuat mengapa penelitian ini penting dilakukan di Riau khususnya. Sebagai daerah dengan mayoritas penduduk Muslim yang kental dengan budaya Melayu, isu kehalalan produk bukan sekadar formalitas administratif, melainkan pertimbangan yang sangat mendasar dalam keputusan konsumsi sehari-hari masyarakatnya, termasuk generasi mudanya yang kini mulai terpapar arus globalisasi kuliner dari berbagai negara.
Label Halal Ternyata jadi Faktor Paling Menentukan
Hasil penelitian ini mengungkap temuan yang cukup menarik. Berdasarkan analisis regresi linear berganda, ketiga variabel yang diteliti, yakni labelisasi halal, gaya hidup, dan harga, sama-sama terbukti berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, baik secara parsial maupun secara bersama-sama.
Nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,659 menunjukkan bahwa 65,9 persen keputusan pembelian mahasiswa terhadap samyang bisa dijelaskan oleh ketiga faktor tersebut, sebuah angka yang tergolong tinggi dalam penelitian perilaku konsumen.
Yang paling menarik, dari ketiga variabel yang diuji, labelisasi halal justru menjadi faktor paling dominan yang mempengaruhi keputusan pembelian mahasiswa, mengalahkan pengaruh gaya hidup maupun harga.
Temuan ini menegaskan bahwa meski makanan ini adalah produk asal negara mayoritas non-Muslim, kepercayaan konsumen Muslim Indonesia, termasuk mahasiswa di Riau, tetap sangat bergantung pada jaminan kehalalan produk sebelum mereka memutuskan untuk membelinya.
Hasil uji hipotesis secara simultan atau Uji F juga mengonfirmasi kekuatan model penelitian ini, dengan nilai F-hitung sebesar 29,660, jauh melampaui F-tabel sebesar 2,81, dan tingkat signifikansi 0,000, yang berarti jauh di bawah ambang batas 0,05. Dengan kata lain, secara statistik, temuan ini sangat kuat dan bisa dipercaya.
Gaya Hidup dan Harga Turut Berperan Penting
Meski labelisasi halal menjadi faktor paling dominan, penelitian ini tidak mengabaikan peran gaya hidup dan harga. Kesimpulan penelitian menjelaskan bahwa semakin tinggi gaya hidup seseorang, semakin meningkat pula keputusan pembeliannya, mengingat setiap individu maupun kelompok memiliki gaya hidup berbeda yang dipengaruhi lingkungan sekitarnya.
Fenomena ini masuk akal jika kita mengaitkannya dengan tren budaya populer Korea yang sudah lama merambah Indonesia melalui drama, musik, dan berbagai konten hiburan. Bagi banyak mahasiswa, mengonsumsi samyang bukan sekadar soal rasa lapar, melainkan juga bagian dari gaya hidup yang terhubung dengan tren budaya global yang sedang mereka ikuti.
Sementara untuk faktor harga, penelitian ini menemukan bahwa harga yang sesuai dengan manfaat, kualitas, dan daya beli konsumen turut memengaruhi keputusan pembelian secara signifikan.
Ini menunjukkan bahwa meski mahasiswa tertarik dengan tren dan jaminan kehalalan, mereka tetap rasional dalam mempertimbangkan kesesuaian harga dengan kualitas produk yang mereka beli.
Potret Kecil dari Perilaku Konsumen Generasi Muda Riau
Kawan GNFI, meski penelitian ini berskala kecil dengan cakupan satu kampus di Riau, temuannya memberikan gambaran yang berharga tentang bagaimana generasi muda di daerah dengan budaya Melayu-Islam yang kental tetap memegang teguh prinsip kehalalan sebagai pertimbangan utama, bahkan ketika mengonsumsi produk impor yang sedang tren global sekalipun.
Ini juga menjadi catatan menarik bagi para pelaku usaha, baik produsen makanan lokal Riau maupun brand internasional yang ingin masuk ke pasar Riau: sertifikasi dan labelisasi halal bukan sekadar syarat administratif, melainkan strategi pemasaran yang sangat menentukan keberhasilan penjualan di kalangan konsumen Muslim, khususnya generasi muda yang kritis dan selektif dalam memilih produk yang mereka konsumsi.
Riset kecil seperti ini membuktikan bahwa mahasiswa dan akademisi di Riau terus aktif menghasilkan kajian-kajian yang relevan dengan dinamika ekonomi dan perilaku konsumen di daerahnya, sebuah kontribusi ilmiah yang sering luput dari perhatian. Namun, sesungguhnya sangat berharga bagi pemahaman kita tentang bagaimana identitas budaya dan agama tetap menjadi pertimbangan penting di tengah derasnya arus globalisasi dan tren konsumsi lintas negara.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


