Kehidupan masyarakat kini semakin terhubung dengan teknologi, informasi tentang desa tidak seharusnya berhenti di papan pengumuman atau grup percakapan warga. Kegiatan pemerintahan, pelayanan publik, pembangunan, hingga potensi masyarakat desa memiliki cerita yang layak diketahui lebih luas.
Namun, tanpa pengelolaan informasi digital yang baik, berbagai cerita tersebut dapat dengan mudah terlewat begitu saja.
Kondisi inilah yang menjadi salah satu perhatian Tim KKNT Inovasi IPB University di Desa Mojopuro, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Wonogiri. Melalui program MOJODIGI (Mojopuro Digitalisasi dan Informasi), tim berupaya membantu Pemerintah Desa Mojopuro membangun kembali sistem informasi digital desa yang sederhana, mudah dikelola, dan berkelanjutan.
MOJODIGI dilaksanakan pada 16—17 Juli 2026 di Kantor Desa Mojopuro dengan melibatkan perangkat desa dan tim yang akan berperan dalam pengelolaan informasi serta media sosial desa.
Sebelum MOJODIGI hadir, Pemerintah Desa Mojopuro sebenarnya telah memiliki website desa. Namun, situs tersebut tidak lagi aktif dikelola karena adanya kendala biaya operasional dan pemeliharaan yang mencapai sekitar Rp8 juta per tahun.
Di tengah kondisi efisiensi anggaran, pengelolaan website akhirnya tidak dapat dilanjutkan. Persoalan tersebut kemudian menimbulkan tantangan baru.
Di satu sisi, kebutuhan terhadap informasi digital semakin besar. Di sisi lain, pemerintah desa membutuhkan media yang dapat dikelola secara mandiri tanpa membebani anggaran desa.
Tim KKNT Inovasi IPB University kemudian menawarkan alternatif edukasi dan pelatihan berupa pembuatan website desa menggunakan Google Sites. Platform ini dipilih karena relatif sederhana, gratis, dan tidak membutuhkan kemampuan pemrograman khusus.
Dengan demikian, pengelolaan website dapat dilanjutkan oleh perangkat desa tanpa harus bergantung pada jasa pengembang atau biaya operasional yang besar. Pengenalan terhadap alternatif tersebut mendapat respons positif dari perangkat desa.
Salah satu peserta pelatihan, AF, mengungkapkan bahwa keberadaan platform gratis tersebut menjadi pengetahuan baru sekaligus solusi atas persoalan pengelolaan website desa.
“Wah ternyata saya baru tahu kalau ada website gratis yang mudah tanpa perlu coding yang rumit. Jujur kita merasa sangat terbantu,”ujar AF.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tantangan digitalisasi di tingkat desa tidak selalu terletak pada kurangnya kebutuhan, tetapi juga pada keterbatasan informasi mengenai teknologi yang mudah dan terjangkau.
Website dapat menjadi pusat informasi desa, tetapi masyarakat juga membutuhkan saluran informasi yang lebih dekat dengan keseharian mereka. Karena itu, MOJODIGI turut mengintegrasikan pengelolaan Instagram dan Facebook Pemerintah Desa Mojopuro.
Media sosial diarahkan bukan sekadar sebagai tempat mengunggah foto kegiatan. Lebih dari itu, Instagram dan Facebook dapat menjadi sarana komunikasi publik, dokumentasi, edukasi, promosi potensi desa, dan penyampaian informasi kepada masyarakat.
Dalam pelatihan, tim desa diperkenalkan pada konsep template Instagram agar setiap postingan selaras dan tidak terlalu membuutuhkan waktu yang lama untuk editing serta content planning atau perencanaan konten.
Peserta diajak memahami bahwa konten pemerintah desa perlu memiliki tujuan yang jelas, seperti memberikan informasi pelayanan, mendokumentasikan kegiatan, memperkenalkan UMKM dan potensi lokal, memberikan edukasi kepada masyarakat, serta membangun interaksi dengan warga.
Dengan adanya perencanaan tersebut, media sosial desa diharapkan tidak lagi hanya aktif ketika ada kegiatan, tetapi dapat dikelola secara konsisten.
Berbagai kegiatan berlangsung di desa setiap harinya. Ada musyawarah, gotong royong, kegiatan Posyandu, PKK, Karang Taruna, pelayanan masyarakat, pembangunan infrastruktur, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Sayangnya, tanpa sistem dokumentasi yang baik, foto dan video kegiatan sering kali hanya tersimpan di telepon genggam masing-masing atau bahkan tidak terdokumentasikan sama sekali. Padahal, dokumentasi tersebut merupakan bagian dari perjalanan sebuah desa.
Melalui MOJODIGI, tim desa didorong untuk mulai membangun kebiasaan “dokumentasikan, publikasikan, dan arsipkan.” Dokumentasi yang baik dapat dipublikasikan melalui media sosial sekaligus disimpan sebagai arsip digital yang dapat dimanfaatkan kembali di masa mendatang.
Dengan begitu, sebuah foto kegiatan tidak hanya menjadi gambar di galeri telepon genggam. Ia dapat menjadi bagian dari sejarah digital Desa Mojopuro.
Pengelolaan media sosial juga membutuhkan kemampuan menyajikan informasi secara visual. Karena itu, peserta diperkenalkan dengan Canva untuk membuat berbagai kebutuhan komunikasi visual desa, seperti poster pengumuman, infografis pelayanan, ucapan hari besar, informasi kegiatan, hingga konten edukasi masyarakat.
Namun, pelatihan tidak berhenti pada penggunaan Canva. Peserta juga dikenalkan pada pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam proses kreatif, seperti mencari ide konten, menyusun konsep desain, membuat draft caption, hingga membantu mengembangkan gagasan komunikasi.
Bagi perangkat desa, pemanfaatan AI menjadi pengalaman baru yang membuka perspektif mengenai bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mendukung pekerjaan sehari-hari. Salah satu peserta, IC, menyampaikan pengalamannya selama mengikuti pelatihan.
“Kadang kita punya sedikit skill, tapi kreativitas desainnya itu yang susah. Terus adik-adik ngajarin kami kolaborasi dengan AI. Itu hal yang baru dan belum terpikirkan oleh kita selama ini,” ujar IC.
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi bukan hanya soal mempelajari aplikasi baru. Lebih dari itu, proses digitalisasi juga membuka kesempatan bagi perangkat desa untuk menemukan cara kerja baru yang lebih kreatif dan efisien.
Hal yang paling penting dari MOJODIGI bukanlah website atau akun media sosialnya, melainkan orang-orang yang akan mengelolanya. Karena itu, kegiatan ini diarahkan untuk membentuk tim pengelola informasi digital desa dengan pembagian tugas sederhana. Mulai dari siapa yang mendokumentasikan kegiatan, memilih foto dan video, membuat desain, menulis caption, melakukan pengecekan informasi, hingga mengunggah konten ke Instagram dan Facebook.
Dengan pembagian peran tersebut, pengelolaan media digital tidak bergantung pada satu orang saja. Harapannya, ketika masa KKNT Inovasi IPB University berakhir, Pemerintah Desa Mojopuro tetap dapat melanjutkan pengelolaan website dan media sosial secara mandiri.
MOJODIGI pada akhirnya bukan sekadar program untuk membuat website atau mempercantik tampilan Instagram desa. Program ini merupakan langkah awal untuk membangun ekosistem informasi digital desa yang lebih mandiri. Website menjadi ruang informasi resmi dan arsip digital desa.
Instagram dan Facebook menjadi ruang komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Canva menjadi alat untuk menyampaikan informasi secara visual. AI menjadi salah satu alat bantu kreativitas. Sementara tim humas desa menjadi penggerak yang memastikan semuanya tetap berjalan.
Digitalisasi desa tidak selalu harus dimulai dengan teknologi yang mahal dan rumit. Terkadang, langkah pertama justru dimulai dari sesuatu yang sederhana: memiliki media informasi yang dapat dikelola sendiri dan orang-orang yang mau belajar mengelolanya.
Melalui MOJODIGI, Tim KKNT Inovasi IPB University bersama Pemerintah Desa Mojopuro berupaya membangun fondasi tersebut. Sebab, desa yang aktif di ruang digital bukan hanya desa yang memiliki website atau media sosial.
Desa digital adalah desa yang mampu bercerita, menyampaikan informasi, mendokumentasikan perjalanannya, dan membuka akses informasi bagi masyarakat melalui teknologi yang dapat mereka kelola sendiri.
Dari Kantor Desa Mojopuro pada 16–17 Juli 2026, langkah itu mulai dibangun perlahan. Kolaborasi dan sinergi antara pemerintah desa dan akademisi untuk membangun pengembangan masyarakat yang lebih maju dan berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

