sebelum sawit singkong pernah jadi primadona ekspor hindia belanda - News | Good News From Indonesia 2026

Sebelum Sawit, Singkong Pernah jadi Primadona Ekspor Hindia Belanda

Sebelum Sawit, Singkong Pernah jadi Primadona Ekspor Hindia Belanda
images info

Pekerja mengolah singkong menjadi tepung tapioka di sebuah pabrik di Jawa Barat, sekitar 1920 © KITLV/Leiden University Libraries


Ketika berbicara tentang komoditas ekspor andalan Indonesia, sawit barangkali yang pertama terlintas. Namun, jauh sebelum sawit mendominasi kebun-kebun di Sumatra dan Kalimantan, singkong sudah lebih dulu membawa hasil bumi Nusantara ke pasar dunia.

Umbi yang kini lebih sering ditemui sebagai bahan gorengan, keripik, atau makanan tradisional ini pernah menjadi komoditas penting Hindia Belanda. Melalui produk olahannya, terutama gaplek dan tepung tapioka, singkong dari Jawa bahkan mampu menembus pasar Eropa dan Amerika.

Pada awal abad ke-20, Hindia Belanda tercatat sebagai salah satu eksportir utama produk singkong dunia (EUDL). Bagaimana singkong bisa sampai pada posisi tersebut?

Dari Amerika Selatan ke Jawa

Singkong sebenarnya bukan tanaman asli Nusantara. Dilansir dari Kompas.id, tanaman yang berasal dari Brasil dan Paraguay ini dibawa bangsa Portugis ke Maluku sekitar abad ke-16 dan kemudian menyebar ke berbagai daerah, termasuk Jawa.

Meski demikian, perjalanannya menjadi tanaman penting berlangsung lama. Memasuki abad ke-19, budidayanya mulai berkembang lebih luas di Jawa, didukung sifat yang mudah tumbuh dan bisa menjadi sumber karbohidrat ketika produksi beras tidak mencukupi.

baca juga

Perkembangannya semakin penting ketika jumlah penduduk Jawa meningkat pesat pada akhir abad ke-19, sementara produksi beras tidak selalu mampu mengimbanginya. Singkong pun semakin banyak ditanam dan dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat alternatif.

Kebun singkong muda di Jawa Barat dengan latar pepohonan kelapa dan pegunungan, sekitar tahun 1920.
info gambar

Foto: KITLV/Leiden University Libraries | Domain Publik, sekitar 1920


Ada satu hal menarik dalam proses tersebut. Singkong tidak termasuk tanaman utama yang diwajibkan dalam sistem tanam paksa ataucultuurstelsel. Ditulis oleh Jurno.id, pemerintah kolonial bahkan turut mendorong konsumsi singkong secara luas sebagai salah satu cara mengurangi ketergantungan penduduk pribumi pada beras.

Di sisi lain, karena tidak termasuk komoditas wajib tanam paksa, singkong juga leluasa ditanam rakyat di lahan yang tersisa untuk kebutuhan pangan sehari-hari, sementara lahan-lahan produktif dialokasikan untuk tanaman ekspor seperti kopi, teh, kina, dan kakao (CNN Indonesia).

Artinya, melimpahnya singkong di Jawa bukan semata-mata “ditanam tanpa sengaja”, melainkan juga hasil dari kebijakan pangan kolonial yang turut mendorong penyebaran budidayanya.

Ketika produksinya semakin besar, singkong tak lagi sekadar bahan pangan. Umbi ini mulai diolah menjadi produk bernilai jual lebih tinggi, terutama gaplek dan tepung tapioka.

baca juga

Dari Bahan Pangan menjadi Komoditas Ekspor

Memasuki awal abad ke-20, industri pengolahan singkong di Jawa berkembang pesat. Pabrik-pabrik tapioka bermunculan dan sebagian di antaranya dikelola oleh pengusaha Tionghoa.

Singkong dari perkebunan dan lahan petani diolah menjadi gaplek maupun tepung tapioka untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan luar negeri.

Perkembangan industri tersebut membuat Jawa dan Madura menjadi salah satu pusat perdagangan produk singkong dunia. Kajian Haryono Rinardi dalam buku Politik Singkong Zaman Kolonial menunjukkan bahwa pada tahun 1928, sekitar 21,9 persen produksi tapioka Hindia Belanda diekspor ke Amerika Serikat, disusul Inggris (16,7 persen) dan Jepang (8,4 persen) (Melati Putra Jaya).

Ekspor tersebut tidak selalu berupa tepung. Gaplek, yaitu singkong yang dikeringkan, juga menjadi komoditas penting, terutama sebagai pakan ternak. Kebutuhan dari pasar internasional inilah yang membuat singkong memiliki nilai ekonomi yang semakin besar.

Meski begitu, tidak seluruh produksi Jawa diarahkan ke pasar luar negeri. Sebagian besar tetap dipakai untuk kebutuhan pangan penduduk, dan ekspor berkembang justru dari surplus yang tersisa dan dapat diolah serta disimpan.

Perang Dunia I Menggemparkan Pasar

Suasana pekerja mengolah singkong menjadi tepung tapioka di sebuah pabrik pengolahan di Jawa Barat, sekitar tahun 1920.
info gambar

Foto: KITLV/Leiden University Libraries | Domain Publik, sekitar 1920


Kejayaan itu sempat terganggu. Ketika Perang Dunia I meletus pada tahun 1914, perdagangan internasional ikut terguncang oleh blokade laut, kelangkaan kapal, dan perdagangan antarnegara, sehingga komoditas ekspor Hindia Belanda ikut terancam (UIN Sunan Ampel Surabaya).

Pasar tapioka pun ikut terdampak. Menjelang tahun 1918, ekspor Hindia Belanda sempat hampir terhenti total, dan pemerintah kolonial juga membatasi ekspor sejumlah bahan pangan demi menjaga ketahanan pangan dalam negeri yang pada saat itu juga menghadapi ancaman krisis beras.

Untungnya, situasi ini tidak bertahan lama. Setelah perang berakhir dan perdagangan internasional pulih pada awal tahun 1920-an, industri singkong Hindia Belanda kembali bangkit.

baca juga

1920-an: Masa Keemasan Singkong

Pada dekade 1920-an, perdagangan gaplek dan tapioka kembali menunjukkan geliatnya. Nilainya bahkan dapat mencapai jutaan gulden. Tirto.id mencatat bahwa pada salah satu tahun di penghujung dekade tersebut, keuntungan dari ekspor gaplek mencapai sekitar 14,78 juta gulden, setara dengan sekitar Rp110 miliar jika konversi ke nilai sekarang.

Amerika Serikat menjadi salah satu pasar penting, terutama untuk produk singkong yang digunakan sebagai pakan ternak. Tingginya permintaan tersebut membuat singkong tidak lagi sekedar tanaman pangan bagi masyarakat Jawa, tetapi juga bagian dari jaringan perdagangan komoditas internasional.

Posisi tersebut terus bertahan hingga memasuki dekade 1930-an, meskipun ekspornya naik turun. Ekspor gaplek dan tapioka sempat menurun akibat Depresi Besar, sebelum kembali meningkat pada tahun 1935 dengan volume mendekati 200 ribu ton pada tahun 1937, seiring kelangkaan produksi jagung di Eropa yang membuat gaplek menjadi alternatif pakan ternak (Jurno.id).

Ketika Pasar Dunia Berubah

Memasuki akhir tahun 1930-an, kondisi mulai berubah. Depresi Besar telah terlebih dahulu menggemparkan perdagangan dunia, sementara pemulihan produksi tanaman pangan di negara-negara lain juga turut mempengaruhi permintaan terhadap produk singkong.

Pada tahun 1938, misalnya, permintaan terhadap gaplek sebagai bahan pakan ternak melemah, salah satunya karena produksi jagung di Eropa mulai pulih. Di saat yang sama, gaplek dan tepung tapioka Hindia Belanda juga kalah bersaing dengan gandum Amerika Serikat yang harganya lebih murah, sehingga komoditas ini akhirnya dicoret dari daftar ekspor Andalan (Tirto.id).

Singkatnya, meredupnya ekspor singkong bukan karena satu sebab tunggal, melainkan gabungan dari perubahan harga, produksi komoditas pesaing, dan kondisi ekonomi dunia. Meski begitu, besarnya volume ekspor pada dekade-dekade sebelumnya menunjukkan bahwa Indonesia pernah menempati posisi penting dalam perdagangan internasional.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.