petani solokanjeruk belajar membuat emposan alternatif murah untuk mengendalikan tikus - News | Good News From Indonesia 2026

Petani Solokanjeruk Belajar Membuat Emposan, Alternatif Murah untuk Kendalikan Tikus

Petani Solokanjeruk Belajar Membuat Emposan, Alternatif Murah untuk Kendalikan Tikus
images info

Dokumentasi Pribadi


Asap putih perlahan mengepul dari sebuah lubang di pematang sawah Desa Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Kamis (30/7). Belasan pasang mata mengarah ke titik yang sama. Tak sampai semenit kemudian, seekor tikus melesat keluar dari dalam liang, berlari beberapa meter, lalu menceburkan diri ke genangan air di antara tanaman padi.

Di penghujung Juli, ketika hamparan sawah di Desa Solokanjeruk mulai dipenuhi tanaman padi berumur satu hingga dua bulan, para petani justru memasuki masa yang paling mengkhawatirkan.

Bukan karena hujan yang terlambat turun atau kemarau yang berkepanjangan, melainkan karena hama yang ukurannya kecil, tetapi mampu menghabiskan hasil panen dalam waktu singkat, tikus sawah.

Petani di desa ini sebenarnya sudah hafal dengan siklusnya. Begitu padi mulai memasuki fase bunting, ketika bulir mulai terbentuk dan menjadi sumber makanan yang kaya nutrisi, tikus akan bermunculan dari berbagai arah.

Sebagian berasal dari pematang dan saluran irigasi, sebagian lagi diyakini datang dari kawasan industri yang beberapa tahun terakhir berkembang di sekitar desa. Saat kondisi di sekitar kawasan industri tidak lagi menyediakan cukup makanan, sawah menjadi tujuan berikutnya.

baca juga

Bagi petani, serangan tikus bukan persoalan baru. Yang berbeda tahun ini adalah waktu tanam yang berubah. Demi mengejar curah hujan yang semakin sulit diprediksi, banyak petani memutuskan menanam lebih awal dibanding musim-musim sebelumnya.

Keputusan itu memang memberi peluang memanfaatkan air hujan secara maksimal. Namun, di sisi lain menghilangkan satu tahapan penting yang selama ini menjadi cara tradisional menekan populasi tikus yaitu gropyokan.

Biasanya, sebelum sawah ditanami, warga bergotong royong memburu tikus di lahan kosong. Liang-liang dibongkar, tikus ditangkap, lalu populasinya ditekan sebelum tanaman padi tumbuh. Namun tahun ini, jeda itu hampir tidak ada. Sawah sudah lebih dulu dipenuhi tanaman muda, sementara tikus tetap berkembang biak di dalamnya.

Kondisi inilah yang ditemui mahasiswa KKN-T IPB University selama menjalankan pengabdian di Desa Solokanjeruk. Setelah berdiskusi dengan petani, mereka mendapati bahwa persoalan utama tidak hanya banyaknya tikus, tetapi semakin terbatasnya pilihan pengendalian yang murah, aman, dan bisa dilakukan secara mandiri.

Berangkat dari temuan tersebut, tim kemudian merancang Program Panceg—Proteksi Aktif Mencegah OPT—yang difokuskan pada pengendalian hama tikus menggunakan emposan, metode fumigasi sederhana yang sudah lama dikenal di kalangan penyuluh pertanian, tetapi belum banyak diproduksi sendiri oleh kelompok tani.

Alih-alih mengenalkan teknologi baru yang rumit, tim justru memilih pendekatan yang dekat dengan kondisi petani.

Emposan dibuat dari campuran belerang, arang batok kelapa, dan bahan pengikat organik. Seluruh bahannya relatif mudah diperoleh dan biaya pembuatannya jauh lebih murah dibanding penggunaan rodentisida kimia secara berulang.

Cara kerjanya pun sederhana. Setelah campuran dimasukkan ke dalam selongsong, emposan dinyalakan hingga menghasilkan asap pekat. Selongsong kemudian dimasukkan ke liang tikus yang masih aktif dan ditutup rapat menggunakan tanah.

Asap akan memenuhi lorong-lorong di dalam sarang sehingga tikus yang berada di dalamnya mati atau terpaksa keluar mencari jalan lain.

Kesederhanaan itulah yang justru menjadi nilai utama metode ini. Petani tidak bergantung pada produk jadi yang harus dibeli setiap musim. Mereka dapat membuatnya sendiri ketika diperlukan, menggunakan bahan yang tersedia di sekitar mereka.

Namun sebelum sampai pada tahap praktik, tim KKN tidak langsung menggelar pelatihan. Mereka terlebih dahulu melakukan validasi lapangan bersama petani untuk memastikan bahwa persoalan hama tikus memang menjadi kebutuhan mendesak.

baca juga

Setelah itu dilakukan audiensi dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Solokanjeruk untuk membahas rencana kegiatan sekaligus memastikan metode yang akan diperkenalkan sesuai dengan rekomendasi pengendalian organisme pengganggu tumbuhan.

Puncak kegiatan berlangsung pada Kamis, 30 Juli 2026, di Sekretariat Gapoktan Oryza Sativa. Sebanyak 23 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur yang selama ini terlibat langsung dalam pertanian di Desa Solokanjeruk, mulai dari perwakilan BPP Kecamatan Solokanjeruk, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Ketua Gapoktan Oryza Sativa, Ketua BUMDes Solokanjeruk, hingga para petani dari sejumlah kelompok tani.

Suasana pelatihan jauh dari kesan formal. Di atas meja sekretariat, berbagai bahan penyusun emposan disusun berdampingan. Peserta bergantian mencampur dan mengaduk bahan, lalu memasukkannya ke dalam selongsong hingga padat.

Ada beberapa petani yang baru pertama kali melihat langsung proses pembuatannya, meski sebagian sudah pernah mendengar metode emposan dari penyuluh.

Secara kolektif, sekitar 100 selongsong emposan berhasil diproduksi. Seluruhnya langsung disiapkan untuk diuji di sawah tempat tikus bersarang. Bagi tim KKN, pelatihan tidak akan banyak berarti jika berhenti di dalam ruangan. Karena itu, setelah seluruh selongsong selesai dibuat, peserta langsung berjalan menuju petak sawah yang diketahui memiliki liang tikus aktif. Di sanalah demonstrasi dilakukan.

Salah satu liang dipilih. Emposan dinyalakan hingga mengeluarkan asap, lalu perlahan dimasukkan ke dalam lubang sebelum ditutup menggunakan tanah agar asap tidak keluar kembali.

Beberapa peserta memperhatikan dengan saksama. Tak lama kemudian, seekor tikus tiba-tiba keluar dari liang lain di sekitar lokasi. Hewan itu berlari beberapa meter sebelum akhirnya menceburkan diri ke genangan air sawah.

Momen itu sontak mengundang berbagai komentar dari para petani yang menyaksikannya. Tidak ada tepuk tangan meriah atau selebrasi berlebihan, tetapi ekspresi mereka cukup menggambarkan bahwa metode tersebut memang bekerja sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya.

Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Pak Aang, yang ikut mendampingi kegiatan, menjelaskan bahwa emposan merupakan salah satu alternatif pengendalian tikus yang layak digunakan petani.

Menurutnya, metode tersebut relatif ekonomis, tidak meninggalkan residu yang merusak tanah maupun tanaman padi, serta menggunakan komposisi bahan yang telah sesuai dengan rekomendasi POPT.

Ia juga menjelaskan bahwa metode emposan sendiri pertama kali dikembangkan oleh POPT di Bandung dan hingga kini masih menjadi salah satu teknik pengendalian yang dianjurkan pada kondisi tertentu.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan emposan tetap harus memperhatikan aspek keselamatan kerja. Asap yang dihasilkan cukup pekat sehingga pengguna perlu berhati-hati saat proses penyalaan maupun ketika memasukkan selongsong ke dalam liang tikus.

Program Panceg tidak ditujukan sebagai solusi instan untuk menghilangkan hama tikus. Tujuan utamanya adalah menambah pilihan bagi petani dalam mengendalikan hama dengan cara yang lebih mandiri, menggunakan bahan yang mudah diperoleh dan biaya yang relatif terjangkau.

Agar manfaatnya tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai, tim mendokumentasikan seluruh proses pembuatan emposan dalam bentuk video. Perhitungan kebutuhan bahan, komposisi campuran, dan estimasi biaya juga diserahkan kepada kelompok tani sebagai acuan jika ingin memproduksinya sendiri pada musim tanam berikutnya.

Dengan begitu, pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dapat terus dimanfaatkan ketika petani kembali menghadapi serangan tikus di sawah.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.