Jika Kawan tengah berlibur ke daerah Semarang, Jawa Tengah, ada sebuah makanan tradisional yang tidak boleh terlewat untuk dicicipi. Makanan tradisional khas dari Semarang itu bernama bandeng duri lunak.
Bagi Kawan yang berdomisili di daerah Jawa Tengah dan sekitarnya tentu sudah tidak asing lagi dengan kuliner yang satu ini bukan? Apalagi bandeng duri lunak menjadi salah satu oleh-oleh khas dari daerah Semarang.
Banyak toko yang menjual bandeng duri lunak untuk para pelancong yang mendatangi daerah di pesisir utara Jawa tersebut. Namun tahukah Kawan, keberadaan makanan tradisional ini ternyata tidak lepas dari andil keluarga keturunan Tionghoa yang mendiami daerah tersebut dulunya.
Tidak hanya itu, keberadaan kuliner tradisional ini juga menjadi solusi bagi masyarakat atas kendala yang dialami saat mengonsumsi ikan bandeng tersebut. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa kuliner tersebut tetap digemari hingga saat sekarang.
Lantas bagaimana ulasan lebih lanjut seputar makanan tradisional khas dari Semarang tersebut? Simak ulasan lengkap terkait bandeng duri lunak dalam artikel berikut ini.
Asal Usul Bandeng Duri Lunak
Bandeng duri lunak menjadi salah satu kuliner khas yang tidak boleh terlewat saat Kawan berkunjung ke daerah Semarang, Jawa Tengah. Seperti namanya, Kawan bisa mengonsumsi ikan bandeng ini secara langsung tanpa perlu mengkhawatirkan keberadaan duri atau tulangnya.
Dulunya, adanya tulang di ikan bandeng ini sering menjadi kendala bagi masyarakat saat ingin memakannya. Dikutip GNFI dari buku Ensiklopedi Makanan Tradisional (di Pulau Jawa dan Pulau Madura), dulunya masyarakat Semarang dan sekitarnya masih mengonsumsi ikan bandeng dengan cara tradisional, seperti digoreng atau disayur.
Namun ada satu kendala yang sering dialami saat mengonsumsi ikan bandeng dengan cara ini. Ketika memakan ikan bandeng yang digoreng atau disayur, sering kali duri atau tulang yang ada di dalamnya mudah tertelan.
Apalagi bandeng merupakan jenis ikan yang memiliki banyak duri halus di dalam dagingnya. Jika tertelan, sering kali duri-duri tersebut sulit dikeluarkan dari tenggorokan.
Atas dasar ini, salah satu keluarga keturunan Tionghoa kemudian mulai mengenalkan olahan ikan bandeng dengan cara yang berbeda, yakni dipresto. Proses presto ini merujuk pada pengolahan ikan yang menggunakan alat pres dan membuat duri-duri yang ada di dalam bandeng menjadi lunak.
Hal ini membuat ikan bandeng bisa dikonsumsi langsung secara keseluruhan. Proses presto ini kemudian menjadi nama usaha yang dirintis oleh keluarga tersebut, yakni Bandeng Presto.
Proses Pembuatan Bandeng Duri Lunak
Selain durinya, salah satu hal lain yang membuat masyarakat kesulitan saat mengonsumsi ikan bandeng adalah aroma lumpur yang menempel di dagingnya. Hal ini biasanya muncul jika ikan bandeng tidak dibersihkan dengan benar sebelum diolah menjadi makanan tradisional tersebut.
Oleh sebab itu, tidak mudah untuk membuat bandeng duri lunak begitu saja. Butuh ketelatenan agar makanan tradisional yang dinikmati bisa sempurna nantinya.
Terdapat beberapa tahapan dari proses pembuatan makanan tradisional ini. Pada awalnya, semua ikan bandeng akan dibersihkan dan dikeluarkan isi perutnya.
Setelah itu, isi perut ikan bandeng akan diisi dengan bumbu yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, lengkuas, dan rempah-rempah lainnya. Terakhir, ikan bandeng ini kemudian akan dimasak dengan menggunakan alat pres hingga matang.
Terakhir, bandeng duri lunak yang sudah masak akan dikeringkan sebelum dikemas. Nantinya makanan tradisional tersebut bisa dikonsumsi langsung sebagai lauk pauk dengan tambahan sambal dan lainnya sesuai selera.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


