AIESEC in UIN Jakarta melanjutkan rangkaian Incoming Global Volunteer melalui kegiatan Community Growth Lab: Digital Branding Promotion & Photography pada Selasa, 14 Juli 2026. Berlangsung bersama Pokdarwis Situpam, acara ini mempertemukan Exchange Participants (EPs) dan Local Volunteers (LVs) dengan komunitas lokal untuk belajar mengenai pengembangan promosi pariwisata melalui digital branding, fotografi, dan pembuatan konten.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi para EPs untuk melihat secara langsung bagaimana masyarakat lokal mengembangkan potensi pariwisata di lingkungannya.
Tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai promosi digital, peserta juga berkesempatan mendengarkan pengalaman anggota Pokdarwis mengenai proses membangun dan memperkenalkan potensi wisata lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Rangkaian aktivitas diawali dengan registrasi dan persiapan peserta, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan oleh Master of Ceremony (MC), penjelasan agenda, tata tertib, serta sesi check-in.
Setelah roll dance dan sambutan dari perwakilan AIESEC in UIN Jakarta, peserta memasuki rangkaian utama yang berfokus pada interaksi dan pembelajaran bersama Pokdarwis Situpam.
Sesi Community Reflection & Experience Sharing menjadi awal interaksi antara EPs, LVs, dan anggota Pokdarwis. Para peserta diajak mendengarkan cerita mengenai berbagai upaya yang telah dilakukan masyarakat dalam mempromosikan destinasi lokal, tantangan yang masih dihadapi, serta harapan terhadap perkembangan pariwisata di Situpam.
Bagi para EPs, sesi tersebut memberikan kesempatan untuk memahami kondisi komunitas dari sudut pandang masyarakat yang terlibat langsung. Pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya berkaitan dengan keberadaan suatu destinasi, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam mengomunikasikan keunikan yang mereka miliki.
Pembelajaran kemudian berlanjut melalui sesi Building a Unified Tourism Brand. Dalam workshop tersebut, EPs dan LVs memperkenalkan dasar-dasar fotografi menggunakan telepon pintar, mulai dari pemilihan sudut pengambilan gambar, pemanfaatan cahaya alami, hingga pengeditan sederhana.
Peserta juga diajak mempraktikkan teknik tersebut dengan mengambil foto produk dan lingkungan sekitar.
Salah satu pembicara dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa kemampuan mempromosikan potensi lokal tidak selalu membutuhkan peralatan yang kompleks.

“Promosi wisata sebenarnya bisa dimulai dari hal yang sederhana. Dengan memahami keunikan yang kita punya dan memanfaatkannya melalui foto, caption, dan media sosial, masyarakat sudah bisa mulai memperkenalkan potensi daerahnya kepada lebih banyak orang,” ujar Kalih, salah satu peserta.
Materi dilanjutkan dengan Creating Effective Tourism Content & QnASession. Peserta belajar bagaimana menyampaikan identitas suatu destinasi melalui konten yang sederhana, tetapi tetap menarik. Mereka juga memperoleh kesempatan untuk bertanya dan mendiskusikan strategi yang dapat diterapkan dalam mempromosikan Situpam.
Pada Workshop Session, pembelajaran diterapkan secara langsung. Pokdarwis diajak mencoba membuat caption promosi, memahami dasar branding, serta memikirkan strategi penggunaan media sosial seperti Instagram dan TikTok. EPs dan LVs turut mendampingi proses tersebut sekaligus membantu peserta mempraktikkan pembuatan konten.
Setelah rangkaian workshop, peserta mengikuti sesi Culture Swap: Teach Me Something. Para EPs memperkenalkan hal-hal unik dari negara asal mereka kepada peserta lain, seperti gerakan tari, kata atau frasa khas, maupun kebiasaan budaya. Sesi ini memberikan ruang bagi terjadinya pertukaran budaya secara lebih personal di antara peserta.
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi What I Learned Today. EPs dan LVs berbagi mengenai insight yang mereka dapatkan setelah berinteraksi langsung dengan Pokdarwis.
Mereka juga diajak membandingkan ekspektasi awal dengan kondisi wisata lokal yang mereka temui serta memikirkan pengalaman yang ingin mereka bawa kembali ke negara masing-masing.
Melalui Community Growth Lab: Digital Branding Promotion & Photography, pengalaman Global Volunteer tidak berhenti pada eksplorasi budaya dan destinasi. Para EPs juga memperoleh kesempatan untuk belajar dari masyarakat lokal sekaligus berkontribusi melalui pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.
Pertemuan tersebut memperlihatkan bagaimana pertukaran lintas budaya dapat menjadi ruang untuk saling belajar, berbagi perspektif, dan bersama-sama menemukan cara sederhana untuk memperkuat potensi komunitas lokal.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


