Terletak di kawasan sejuk lereng Gunung Salak, Desa Sukaharja di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, menyimpan kekayaan potensi alam dan geliat ekonomi warga yang menjanjikan. Mulai dari rimbunnya budidaya tanaman hias, pesona wisata alam, hingga ragam produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang diproduksi oleh tangan-tangan terampil warga setempat.
Sayangnya, ragam potensi yang melimpah ini kerap kali belum terekspos secara maksimal akibat terbatasnya infrastruktur digital dan akses pemasaran. Mengurai tantangan tersebut, kelompok mahasiswa KKN Tematik IPB hadir membawa inisiatif transformasi teknologi yang membumi.
Berlangsung secara intensif sepanjang bulan Juli hingga Agustus 2026, program pengabdian masyarakat ini merajut ekosistem teknologi desa melalui tiga pilar pergerakan utama: Digitalisasi Infrastruktur Desa dan UMKM, Agrisharing untuk Petani Tanaman Hias, serta Literasi "Bijak Berinternet" untuk Pelajar Sekolah Dasar.
Digitalisasi Infrastruktur Desa melalui Website dan Pemetaan UMKM
Langkah pertama dalam transformasi ini dimulai dengan membangun "wajah" desa di dunia maya. Selama periode 13 Juli hingga 7 Agustus, tim merancang infrastruktur informasi terpadu berupa website resmi desa yang kini dapat diakses publik melalui tautan s.id/desa-sukaharja.
Website ini tidak sekadar berisi profil administratif pemerintahan atau data demografi warga, melainkan dirancang secara khusus sebagai etalase digital.
Di dalamnya, pengunjung disuguhkan katalog sentra tanaman hias, ragam produk olahan UMKM, hingga pesona wisata desa seperti Panorama HJP Land dan Kolam Renang Batu Aseupan.
Namun, portal digital saja dinilai tidak akan berdampak maksimal jika pelaku ekonominya belum terhubung secara riil. Oleh karena itu, tim mahasiswa melakukan aksi turun gelanggang dengan metode door-to-door pada akhir Juli hingga awal Agustus untuk memetakan kondisi UMKM warga.
Dari 29 lokasi usaha yang berhasil disurvei, sebanyak 19 titik usaha akhirnya berhasil didaftarkan secara resmi ke dalam platform Google Maps. Hal ini menjadi lompatan besar agar warung, toko, dan kebun warga dapat lebih mudah dicari oleh wisatawan menggunakan sistem navigasi digital.
Lebih jauh, adaptasi transaksi non-tunai juga mulai diperkenalkan. Tim KKN-T IPB mendampingi langsung 7 pelaku UMKM untuk mendaftarkan dan mencetak kode QRIS. Kini, pengunjung yang datang tidak perlu repot membawa uang tunai untuk membeli jajanan atau kerajinan khas desa.
Sebagai puncak dedikasi dari pilar pertama ini, seluruh sistem dan hak akses website diserahterimakan sepenuhnya kepada Pemerintah Desa Sukaharja pada 7 Agustus 2026, memastikan keberlanjutan program di masa depan.
"Agrisharing": Mendorong Petani Tanaman Hias Menembus Pasar Digital
Desa Sukaharja dikenal memiliki potensi agribisnis yang luar biasa, khususnya dalam budidaya tanaman hias eksotis seperti Monstera, Aglonema, hingga jenis pakis-pakisan.
Namun, survei langsung yang dilakukan tim KKN-T IPB ke sejumlah greenhouse warga pada 26 Juli mengungkap sebuah realita: para petani kerap kesulitan mengakses pasar yang lebih luas dan terhambat oleh panjangnya rantai distribusi.
Menjawab keresahan tersebut, lahirlah program "Agrisharing". Puncak kegiatan ini digelar pada 2 Agustus 2026, didesain sebagai ruang berbagi ilmu dan pemberdayaan agar para petani bisa "naik kelas".
Para pembudidaya tanaman hias tidak hanya mendengarkan paparan teori, melainkan diajak praktik langsung menyusun strategi pemasaran berbasis media sosial dan marketplace.
Mereka dibekali keterampilan mengemas visual produk yang menarik, menyusun narasi promosi (copywriting), mengelola akun bisnis digital, hingga membangun identitas merek (branding).
Melalui "Agrisharing", petani didorong untuk berani membangun interaksi langsung dengan kolektor tanaman di ranah digital Nusantara, menciptakan ekosistem pemasaran mandiri di tingkat desa yang lebih menguntungkan secara finansial.
"Bijak Berinternet": Menanamkan Fondasi Literasi Sejak Bangku Sekolah Dasar
Transformasi digital sebuah desa tentu tidak akan sempurna tanpa mempersiapkan kualitas generasi penerusnya. Membidik kelompok "warga digital" termuda, tim KKN-T IPB menyelenggarakan program edukasi interaktif bertajuk "Bijak Berinternet" di SDN Pasir Tengah pada 29 dan 30 Juli 2026.
Kegiatan edukasi ini berhasil merangkul 105 siswa yang tersebar di kelas 5A, 5B, dan 5C. Di tengah gempuran informasi, anak-anak diajak untuk tidak sekadar piawai menekan layar gawai, tetapi juga cerdas memilah penggunaannya.
Materi merangkum empat pilar utama literasi digital secara komprehensif, yakni Digital Ethics (menyaring informasi dengan kritis), Digital Safety (menjaga privasi dan keamanan saat online), Digital Culture (membangun etika dan kesopanan komunikasi), serta Digital Skills (memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan belajar).
Menyadari audiensnya adalah anak-anak yang memiliki rentang fokus pendek, pemaparan materi dijauhkan dari kesan seminar yang membosankan. Acara ini dikemas lewat penayangan video animasi, sesi ice breaking yang penuh tawa, hingga Focus Group Discussion (FGD) yang dimodifikasi menjadi permainan menyusun puzzle kelompok.
Pendekatan kreatif ini terbukti sukses memantik antusiasme dan partisipasi aktif ratusan siswa untuk kritis memahami internet sebagai ruang yang bermanfaat namun memiliki batasan.
Melalui sinergi ketiga pilar di atas, jejak pengabdian mahasiswa KKN-T IPB di Desa Sukaharja membuktikan bahwa digitalisasi bukan sekadar tentang membagikan alat teknologi. Lebih dari itu, ini adalah tentang membangun kapasitas manusianya. Mulai dari perangkat desa yang kini memiliki ruang informasi, pelaku UMKM dan petani yang berani berekspansi ke ranah digital, hingga anak-anak yang tumbuh dengan perisai literasi. Sebuah pondasi kuat untuk Desa Sukaharja yang lebih mandiri, berdaya, dan siap menyongsong masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


