Fenomena El Niño terus menjadi perhatian masyarakat karena berpotensi memengaruhi kondisi cuaca sekaligus meningkatkan risiko kekeringan di Indonesia. Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini akan bertahan hingga awal kuartal I 2027 di sebagian wilayah Indonesia.
Dosen Teknik Geofisika UPN “Veteran” Yogyakarta, Dr. Ir. Suharsono, M.T., menjelaskan bahwa El Niño berkaitan erat dengan kenaikan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. Meskipun terjadi di Samudra Pasifik, perubahan suhu ini juga berdampak signifikan pada iklim global, termasuk cuaca di Indonesia.
“Di kawasan Amerika Latin seperti Peru justru akan muncul hujan di atas rata-rata normal. Sedangkan, di bagian timur, seperti Indonesia pengaruhnya adalah musim kering dan berkurangnya curah hujan.” jelas Suharsono dikutip dari upnyk.ac.id.
Langkah Mencegah Kebakaran dan Pengelolaan Air
BMKG memperkirakan sekitar 70 persen wilayah Indonesia akan terdampak El Niño. Angka ini lebih luas jika dibandingkan dengan dampak El Niño pada 2023 yang mencapai 63 persen.
Akan tetapi, tidak semua wilayah Indonesia merasakan dampak yang sama secara merata. Kawasan yang berada di utara garis ekuator diproyeksikan masih berpeluang mengalami curah hujan, walaupun intensitasnya di bawah rata-rata normal.
“Sedangkan wilayah di selatan garis ekuator, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, diprediksi berpotensi mengalami dampak lebih kering,” paparnya.
Menghadapi potensi kekeringan tersebut, Dr. Suharsono mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan tanpa perlu panik. Langkah antisipasi pertama yang wajib dilakukan adalah menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membakar sampah di ruang terbuka.
Selain itu, efisiensi penggunaan air bersih menjadi krusial selama musim kering berlangsung. Ia mencontohkan di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jika melihat peta hidrogeologi di Yogyakarta, penyebaran serta kelimpahan akuifer air tanah terbilang sangat beragam di tiap wilayah.
Wilayah utara seperti Sleman memiliki pasokan air tanah yang terbilang melimpah. Di sisi lain, daerah selatan seperti Gunungkidul yang didominasi kawasan karst justru kerap mengalami kekurangan pasokan air bersih.
“Daerah yang masih memiliki pasokan air berlebih, seperti Sleman, dapat berbagi dengan daerah yang kekurangan air, seperti Gunungkidul. Dengan demikian, kita dapat berbagi sekaligus memanfaatkan air secara efisien,” imbuhnya.
Menjaga Kesehatan Diri di Tengah Cuaca Panas
Tidak hanya berdampak pada lingkungan dan pasokan air, cuaca panas yang ekstrem juga berisiko mengganggu kesehatan fisik. Masyarakat disarankan untuk kembali membiasakan diri menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengantisipasi risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak.
Di samping itu, mencukupi asupan air putih harian menjadi hal wajib untuk menjaga cairan tubuh agar tidak mengalami dehidrasi. Langkah-langkah sederhana ini sangat penting agar kualitas kesehatan masyarakat tetap terjaga selama masa El Niño.
Secara keseluruhan, masyarakat diharapkan dapat menyikapi siklus iklim alami ini dengan tenang dan rasional. Dengan persiapan serta mitigasi yang tepat, aktivitas sehari-hari tetap dapat berjalan dengan lancar.
“Masyarakat tidak perlu khawatir. Kita dapat menghadapi setiap perubahan atau gangguan alam dengan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, disertai kewaspadaan terhadap potensi dampaknya,” pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


