fomo petani muda tiktok jadi jembatan ke sawah - News | Good News From Indonesia 2026

Fomo Petani Muda: Ketika TikTok jadi Jembatan ke Sawah

Fomo Petani Muda: Ketika TikTok jadi Jembatan ke Sawah
images info

Irigasi sprinkler, salah satu bentuk modernisasi pertanian yang ikut mewarnai tren #petanimuda di TikTok. Foto: Max Chen/Unsplash


Kata siapa bertani menjadi kegiatan jadul yang jauh dari Gen Z? 

4,4 juta postingan di TikTok untuk #petanimuda menjadi saksi bisu pertanian kini mulai menarik bagi generasi muda. Tren fomo yang satu ini, patut untuk diikuti, karena menghidupkan kembali sektor pertanian yang dianggap kuno dan identik dengan orang tua.

Bertani, kini menjadi tren slow living ala Gen Z di era gempuran hiruk-pikuk kehidupan. Di situlah lahir petani-petani muda yang berawal dari kebun-kebun kecil rumahan untuk healing dari kehidupan yang ramai.

Ketika Sawah Muncul di FYP

Belakangan konten tentang pertanian mulai sering menghiasi panggung FYP. #petanimuda dengan 4,4 juta postingan di TikTok menjadi salah satu rumah mereka membagikan aktivitas bertaninya.

Mulai dari konten berkebun di rumah yang menerapkan prinsip urban farming, kehidupan bertani dengan skala yang lebih besar dan menerapkan smart farming, bahkan konten-konten sinematik yang meromantisasi kehidupan slow living sebagai petani pun terlihat eksis di dalamnya.

Di dalam konten mereka, tampak rasa bangga bisa hidup berdampingan dengan bertani, sesuatu yang perlahan mengubah citra pertanian yang selama ini dianggap kurang menarik bagi anak muda.

Krisis di Balik Layar

Berdasarkan data BPS, petani milenial hanya menyentuh angka 21,93% dari total petani nasional. Angka ini masih terbilang kecil untuk regenerasi petani dalam upaya mempertahankan ketahanan pangan.

Masih banyak yang beranggapan bahwa profesi petani itu dekat dengan pekerjaan laki-laki dan kurang bergengsi. Banyak anak muda yang berasal dari keluarga petani memilih untuk bekerja di kota dan tidak meneruskan kegiatan bertani dari orang tuanya.

Seperti yang disampaikan Oktafiani et al. (2021) pada jurnalnya, menurut mereka ada dua stereotipe tentang profesi petani, yang pertama petani dianggap ranah laki-laki. Stereotip kedua, bertani dianggap kurang menjanjikan. Anak muda yang ingin terjun pada dunia pertanian banyak mempertimbangkan tentang biaya produksi yang lebih tinggi dibanding dengan harga jual hasil produksi tanaman.

baca juga

Fomo yang Tumbuh dari Tanah

Anggapan-anggapan miring tentang petani mulai bergeser dengan hadirnya tren #petanimuda. Banyak Gen Z yang mulai ikut-ikutan bertani sekalipun itu hanya berkebun kecil-kecilan di rumah. Bertani sederhana dengan menerapkan urban farming memang cukup mudah diterapkan, karena dapat dilakukan di lahan yang terbatas, dengan peralatan yang sederhana pula.

Kali ini fomo terasa lebih berwibawa karena selain mengikuti tren, tanpa sadar mereka juga berkontribusi dalam upaya menjaga ketahanan pangan. Menurut Zulhafandi et al. (2024), pada jurnal pengabdian masyarakat mereka, menyampaikan bahwa peran petani milenial sangat dibutuhkan dalam menjaga ketahanan pangan di Indonesia. Petani di usia produktif sangat dibutuhkan untuk mengembangkan usahatani sayuran sebagai pendukung rumah pangan lestari.

Platform seperti TikTok memang cukup membantu untuk menyebarkan gerakan seperti demikian, sebab algoritma TikTok bergerak cukup cepat. TikTok juga sedang ramai pengguna, sehingga sebuah konten bisa lebih cepat sampai ke banyak pengguna lainnya.

Seperti yang disampaikan Sulaksana dan Arisena (2025) pada jurnalnya, konten TikTok yang personal cukup efektif untuk menampilkan video edukasi pertanian. Dengan video pendek, dapat memudahkan akses dan penyebaran informasi yang didukung dengan algoritma untuk meningkatkan keterlibatan pengguna.

Beberapa konten kreator yang mungkin pernah datang ke FYP Kawan, sebut saja @novipetanihappy_, @petani.muda404, bahkan yang sedang ramai belakangan ada Ibu Kimpul @black.sheep8208.

Mereka banyak membahas tentang pertanian sekaligus produk hasil tani yang dapat meningkatkan ketahanan pangan. Beberapa kreator ini menjadi bukti bahwa membuat konten edukatif tetap akan menarik jika dikemas dengan cara yang unik.

baca juga

Dari Nonton ke Terjun

Sisi bertani yang jarang terekam kamera: jongkok di tengah bedengan, berkawan lumpur dan panas. Foto: Dokumentasi Pribadi
info gambar

Sisi bertani yang jarang terekam kamera: jongkok di tengah bedengan, berkawan lumpur dan panas. Foto: Dokumentasi Pribadi


Namun, apakah fomo ini bakal bertahan kalau sudah berhadapan dengan kenyataan di lapangan? Sebagai orang yang pernah merasakan langsung panasnya menyiangi lahan, aku tahu itu jauh dari kata instan.

Bertani yang terlihat estetik itu, sebenarnya juga tetap dekat dengan tanah dan terik matahari. Sekalipun berkebun di sekitar pekarangan rumah, kita tetap akan bertemu dengan hal-hal yang dianggap kotor dan terik itu, Kawan.

Angle sosial media boleh cantik, tapi di lapangan kita tetap menjadi petani yang jongkok di tengah bedengan sawah, berkubang dengan tanah becek di bawah terik.

Lantas, apakah fomo ini benar-benar akan jadi titik regenerasi petani, atau berhenti di angka postingan doang? Atau jangan-jangan, Kawan sendiri juga mulai tertarik untuk ikut fomo bertani ini?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.