ghost in the cell review ketika keresahan soal deforestasi dan korupsi dibungkus komedi - News | Good News From Indonesia 2026

"Ghost in the Cell" Review: Ketika Keresahan Soal Deforestasi dan Korupsi Dibungkus Komedi

"Ghost in the Cell" Review: Ketika Keresahan Soal Deforestasi dan Korupsi Dibungkus Komedi
images info

Tangkapan layar "Ghost in the Cell"/ ComeandSee Pictures by YouTube


Sutradara ternama Joko Anwar kembali mewarnai layar perfilman Indonesia di tahun 2026 dengan comeback-nya di film "Ghost in the Cell". Seperti karya-karya sebelumnya, Joko Anwar selalu tahu bagaimana mengungkapkan keresahan dan kritik sosial lewat cara yang out of the box.

Di filmnya kali ini, ia mengangkat topik soal deforestasi dan korupsi yang sudah lama menjadi realita pahit yang kita saksikan secara nyata. Alih-alih menyampaikannya dengan gaya menggurui, ia memilih genre horor-komedi sebagai medium dalam menyampaikan pesannya. 

Film horor-komedi pertama yang Joko Anwar garap ini menceritakan tentang teror makhluk halus di dalam penjara yang membunuh orang-orang dengan "aura negatif". Dengan gaya satire, komedi, dan unik khas Joko Anwar, film ini sukses menggarap 3,3 juta penonton setelah 55 hari tayang di layar bioskop. Suatu kebetulan yang menarik, film ini rilis di Netflix pada tanggal 20 Agustus ketika isu karhutla yang diperparah oleh deforestasi sedang mencuat di muka.

Sebagai orang yang senang berdiskusi tentang makna detail suatu film, bagi penulis, film Ghost in the Cell adalah film yang menarik untuk dijadikan bahan diskusi dan tukar pandangan.

Banyak unsur menarik dan pesan tersurat atau tersirat yang penulis temukan ketika menonton. Seperti apa?

baca juga

Latar Belakang Ide Film Lahir dari Keresahan Isu Sosial

Dalam interview-nya di Metro TV, ia mengatakan ide ini muncul di tahun 2018, berawal dari keresahannya akan pembabatan hutan yang terjadi secara berulang dan dengan mudah dilupakan begitu saja.

Isu deferostasi yang ada di film bukan hanya hadir sebagai "tempelan". Joko Anwar mampu membawa idealismenya ke panggung industri dengan sukses. 

Dalam wawancaranya Joko Anwar menjelaskan alasannya memilih penjara sebagai latar cerita filmnya. Penjara diibaratkan sebagai miniatur negara yang mempunyai pemimpin, penjalan kebijakan, dan rakyat yang berupa para tahanan yang merasa "terpenjara" di negerinya sendiri.

Yang lebih menarik, para tahanan di sana pun memiliki hirarki tersendiri, mulai dari tahanan lemah tanpa backingan, para preman, pengusaha narkoba, hingga yang tertinggi adalah para koruptor dengan sel khusus nan mewah. Suatu ironi, koruptor yang kejahatannya paling merugikan banyak orang justru jadi "raja" di sel penjara.

Serius, tetapi Bikin Ketawa: Formula Komedi Joko Anwar

Dalam wawancaranya di Metro TV, Joko Anwar mengatakan ingin menyampaikan pesan dengan cara yang fun dan tidak terkesan menggurui. Satire terang-terangan soal korupsi dan ketimpangan hukum di Indonesia disampaikan dengan cara yang santai, jenaka, dan pas sesuai porsinya. 

Ada satu konsep yang paling mencuri perhatian penulis ketika menonton, yaitu konsep soal aura. Dalam plot cerita, mereka harus menjaga aura mereka tetap baik dan jauh dari rasa frustasi dan amarah jika ingin selamat dari teror kematian makhluk halus di penjara.

Untuk mengatasi teror aura negatif tersebut, mereka harus mencari kegiatan yang bisa membuat aura mereka positif. Seni dan ibadah adalah 2 hal yang dipilih dalam film. Hal ini tentu menjadi komedi tersendiri karena kontras antara karakter mereka dengan penawar aura negatif (seni dan ibadah) yang harus mereka lakukan. 

Hal ini jika dimaknai lebih dalam, sebenarnya tak jauh dari realita yang kita alami. Banyak dari kita yang harus memaksa untuk terus positif di lingkungan yang menyumbang paling banyak energi negatif demi bisa tetap bertahan hidup. Lalu, tentang ibadah yang bisa menjadi penawar aura negatif, bisa dimaknai lebih dalam dengan merenungi apakah ibadah yang didasari oleh hal yang transaksional masih dihitung sebagai ibadah?

baca juga

Bagi penulis, Ghost in the Cell adalah karya yang berhasil menyeimbangkan dua hal sekaligus: menghibur dan menjadi bahan renungan. Isu soal korupsi dan deforestasi bukan topik basi, melainkan persoalan yang masih sangat relevan dan perlu terus diperjuangkan.

Harapannya, tayangan ini hadir bukan sekadar sebagai hiburan bagi masyarakat yang sedang dihadapkan pada realita pahit, tetapi juga sebagai pengingat sekaligus pembawa harapan baru.

Kita tidak perlu menjadi sutradara atau memiliki panggung sebesar Joko Anwar untuk turut menyuarakan hal yang sama, cukup dengan cara dan kemampuan kita masing-masing; baik lewat tulisan, diskusi, karya, maupun bentuk lainnya. Sebab pada akhirnya, kita semua bisa menjadi "Joko Anwar" versi diri kita sendiri.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.