Belakangan, algoritma sedang senang muter-muter di kebun-kebun kecil sekitar rumah. Pemandangan itu langsung mengingatkan pada pengalaman magang di dunia hidroponik dan budidaya jamur tiram dulu. Ada satu pelajaran yang terus "menempel": hal yang kelihatan sepele di depan mata, ternyata bisa jauh lebih rumit di baliknya.
Kini, saat pot-pot mini terus bermunculan di teras rumah orang-orang, muncul satu pertanyaan, apakah mereka benar-benar tahu apa yang sedang mereka mulai?
Mungkin, mereka tidak sadar jika yang mereka lakukan itu termasuk upaya melakukan ketahanan pangan keluarga, ya. Hal sederhana yang dilakukan bisa karena hobi, atau penasaran dengan budidaya pertanian, menjadi langkah awal dalam pengadaan pangan mandiri di rumah.
Ketika Pekarangan Sempit jadi Ladang Baru
Di FYP, Kawan suka menyaksikan konten tentang mini garden di sekitar rumah,tidak ? Ada yang bertanam di pot-pot yang dibuat dari bekas galon air mineral, ada juga yang bertanam hidroponik yang memanfaatkan kotak-kotak bekas. Ada yang akuaponik di dalam ember besar, bahkan ada yang punya kebun sayur di halaman belakang.
Nampaknya, mereka cukup kreatif ya, Kawan? Akan tetapi, ini bentuk mereka sadar akan ketahanan pangan, atau hanya estetika semata?
Ada banyak laporan pengabdian masyarakat yang mulai menggerakkan kegiatan berkebun di rumah ini sebagai salah satu upaya untuk melestarikan ketahanan pangan rumahan. Penerapan urban farming atau yang lebih sederhananya disebut pertanian perkotaan memang sangat cocok untuk bertani di lahan yang sempit.
Beberapa pilihan yang bisa Kawan terapkan adalah hidroponik, vertikultur, akuaponik, tabulampot, bahkan irigasi tetes.
Menurut Aryani et al. (2026) dalam sebuah prosiding mereka, dijelaskan bahwa urban farming sebagai ketahanan pangan rumah tangga juga bisa diterapkan untuk memberdayakan masyarakat sekitar.
Penerapan urban farming juga menjadi salah satu aspek kesadaran dalam mengelola lingkungan, khususnya memanfaatkan barang-barang bekas agar lebih bermanfaat.
Jadi, berkebun di rumah bukan hanya untuk estetika, tapi juga untuk keberlanjutan pangan yang dipegang oleh masyarakat selain petani.
Belajar dari Baglog dan Netpot: Cerita dari Balik Riset

Inkubasi baglog jamur tiram. Foto: Dokumentasi Pribadi.
Sebenarnya, budidaya hidroponik itu menghasilkan atau malah buntung, sih? Terkadang, beberapa orang beranggapan untuk menerapkan budidaya hidroponik itu malah akan rugi karena modalnya besar.
Padahal, itu tergantung bagaimana kita memasarkan hasil panennya, apalagi kalau hanya untuk konsumsi pribadi, ini akan jauh lebih hemat, terlebih untuk budidaya kecil-kecilan Kawan bisa memanfaatkan barang-barang seadanya, seperti galon bekas, pipa paralon, atau kotak-kotak bekas yang disulap menjadi media hidroponik.
Budidaya jamur tiram, dan microgreens juga bisa menjadi pilihan untuk diterapkan sebagai variasi komoditas untuk kebun kecil di rumah. Satu buah baglog, jika Kawan membelinya di petani, hanya seharga Rp1.500,00—Rp3.000,00 untuk satuannya.
Satu buah baglog, bisa panen sampai 4 kali dalam satu siklus tanaman sebelum baglog berhenti produksi. Jadi, jika dibandingkan dengan membeli jamur tiram di pasaran yang 250 gramnya berkisar Rp13.000,00 dan mencapai Rp35.000,00 untuk 1 kg-nya, budidaya jamur tiram kecil-kecilan terasa jauh lebih hemat, bukan?
Begitu pula untuk microgreens. Berkebun sayuran mini ini bisa dilakukan hanya dengan media kotak yang dibuat lembab. Cukup sederhana, tapi menghasilkan sayuran sehat dan organik.
Microgreens adalah sayuran mini yang budidayanya hanya kurang lebih sampai 14 HST, atau sampai tanaman berkecambah saja. Kalau kalian menemukan sayuran (berbentuk sprout) yang ada di salad sayur, itulah sayuran microgreens yang kalau di supermarket bisa berharga puluhan ribu.
Jadi, kalau Kawan mempertanyakan, worth it tidak budidaya sayuran di rumah itu? Sangat worth it! Bahkan, Kawan bisa kok, menghitung secara sederhana kebutuhan budidayanya, dan dibandingkan keuntungannya jika itu dipasarkan. Peralatan yang sederhana, bukan alasan untuk tidak berkebun di pekarangan rumah.
Panen Kecil, Dampak Besar untuk Meja Makan Kawan
Berkebun kecil-kecilan di rumah sebenarnya memiliki dampak yang besar loh, Kawan. Dengan memanfaatkan peralatan yang ada, dan lahan yang tidak terlalu besar, Kawan tetap bisa menghasilkan sayuran organik yang sehat dan bergizi, dengan catatan kalau tidak menggunakan pestisida kimia dalam budidayanya. Kalaupun membutuhkan pestisida, Kawan bisa membuat pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan.
Budidaya sayuran di rumah, bisa menjadi upaya ketahanan pangan keluarga yang dimulai dari kebun mini di lahan terbatas sekitar rumah. Seperti yang dijelaskan oleh Yulita dan Ardiansyah (2023) pada jurnal mereka, budidaya pada lahan sempit di sekitar rumah dapat digunakan sebagai ketahanan pangan rumah tangga. Sebab, penerapannya tidak membutuhkan lahan yang luas, tetapi dapat menghasilkan sayuran dengan kualitas yang baik (bergizi).
Jadi, lain kali kalau Kawan lihat pot cabai atau netpot mini nongol lagi di media sosial, jangan buru-buru bilang itu cuma tren estetika sesaat. Bisa jadi, itu langkah kecil seseorang menuju kemandirian pangan. Bahkan, siapa tahu, jadi awal Kawan sendiri yang mulai berkebun di rumah.
Kebun mini di rumah memang identik dengan sayuran sehari-hari seperti cabai, tomat, sawi, bayam, atau microgreens. Akan tetapi, ketahanan pangan sebenarnya nggak berhenti di situ. Pangan lokal lain di sekitar Kawan juga sama pentingnya untuk dilirik lagi, bahkan yang kelihatannya sudah jarang dibahas. Salah satunya kimpul, umbi lokal yang belakangan justru naik daun lewat TikTok dan mulai dilirik ulang oleh Gen Z.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


