Pernah tidak Kawan GNFI terbangun di tengah malam, lalu tiba-tiba bertanya dalam hati: 'Gimana ya hidupku kalau dulu ambil keputusan lain?'
Atau sedang scrolling media sosial dan melihat pencapaian orang lain yang terasa begitu ideal, muncul pikiran, 'Kalau dulu aku memilih jalan yang berbeda, apakah hidupku akan seperti itu?'
Pertanyaan-pertanyaan itu sering membawa kita ke satu kesimpulan yang menyakitkan—bahwa hidup akan lebih baik seandainya dulu kita mengambil jalan yang berbeda. Jika dulu memilih jurusan lain, kerja di tempat lain, bahkan sesederhana memilih menu makan siang pun, ternyata masih sempat kita sesali.
Kalau Kawan GNFI pernah mengalami ini, tentu saja kamu tidak sendirian. Faktanya, ini adalah salah satu bentuk pikiran manusia yang paling universal, dan ternyata ada penjelasan psikologisnya.
Belakangan ini, penulis menemukan kembali kebiasaan yang sempat lama hilang: membaca fiksi. Melalui satu buku berjudul The Midnight Library, penulis justru menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini diam-diam memenuhi pikiran ini.
Mengapa Kita Sering Menyesali Kehidupan yang Tak Kita Jalani?
Dalam psikologi, perasaan ini dikenal dengan istilah regret, atau penyesalan. Neal Roese, psikolog asal Kanada-Amerika Serikat yang dikenal lewat risetnya soal regret, menjelaskan bahwa penyesalan berakar dari pemikiran kontrafaktual—proses ketika otak kita membayangkan skenario alternatif dari keputusan yang sudah diambil.
Saat skenario itu terasa lebih baik dari kenyataan, muncullah perasaan yang seringkali kita kenal sebagai pemikiran "what if".
Ketika penyesalan tersebut berkaitan dengan keputusan di masa lalu, kita dapat melihatnya sebagai retrospective regret. Penelitian mengemukakan bahwa anak muda mengalami retrospective regret yang lebih tinggi dibandingkan orang yang usianya lebih tua.
Bukan karena orang yang lebih tua tidak pernah membuat keputusan yang salah, melainkan mereka jauh lebih santai dan lebih cepat move on dibanding anak muda. Menarik, ya? Semakin bertambah usia, kita secara alami lebih fokus untuk mengoptimalkan kondisi emosional yang positif.
Yang lebih menarik lagi, saat kita membayangkan skenario alternatif yang tidak pernah terjadi di kehidupan kita, sebenarnya kita mendapatkan insight baru mengenai potensi dan peluang yang mungkin belum kita sadari.
Titik Balik: Saat Menemukan The Midnight Library
Sewaktu kecil, penulis adalah pembaca fiksi yang cukup rakus. Namun, entah sejak kapan, kebiasaan itu perlahan menghilang, tergeser oleh rutinitas dan hal-hal lain yang terasa lebih "mendesak". Sampai suatu ketika, penulis menemukan sebuah premis fiksi 'Bagaimana jika aku bisa memilih kehidupan yang tidak sempat aku jalani?'. The Midnight Library kemudian menjadi pemicu yang membangkitkan kembali semangat membaca.
Buku ini bercerita tentang seorang tokoh yang diberi kesempatan untuk menjelajahi versi-versi lain dari hidupnya—hidup yang mungkin terjadi seandainya ia mengambil keputusan yang berbeda di titik hidup tertentu.
Membaca ceritanya terasa seperti membaca isi pikiran sendiri, yang belakangan ini memang dipenuhi banyak pertanyaan dan penyesalan atas beberapa keputusan di masa lalu.
Insight: Kemungkinan Hidup yang Tak Terkira
Yang membuat buku tersebut berkesan bukan cuma premisnya, tetapi bagaimana ia mengubah pandang ini terhadap cara menjalani hidup dan penyesalan itu sendiri. Dari situ, penulis disadarkan bahwa penulis tidak pernah dituntut untuk paham seluruh arah hidup sebelum melangkah. Yang perlu kita lakukan selama hanyalah terus berjalan, dan membiarkan hidup menjelaskannya sendiri seiring waktu.
Menjalani hidup berarti membuka diri pada begitu banyak kemungkinan yang tidak pernah bisa kita prediksi sepenuhnya. Bahkan satu keputusan kecil yang terasa sepele, bisa saja mengubah jalan hidup kita sepenuhnya, ke arah yang jauh berbeda dari sekarang.
Justru, penyesalan sebenarnya juga dibutuhkan agar kita selalu sadar bahwa banyak sekali kemungkinan yang terjadi, dan apapun pilihan yang kita buat akan selalu menimbulkan konsekuensi, entah itu lebih baik atau lebih buruk—dan kita tidak akan pernah tahu sampai kita menjalaninya sendiri.
Kita hanya perlu benar-benar menjalaninya, dengan segala ketidakpastian yang menyertainya.
Jadi, Bagaimana Cara Berdamai dengan Penyesalan?
Riset psikologi bersepakat dengan apa yang dirasakan penulis setelah membaca buku ini: penyesalan bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Penyesalan yang ringan justru berguna untuk menjadi dorongan untuk bertindak lebih baik ke depannya. Yang perlu kita hindari bukan penyesalannya, melainkan kebiasaan untuk terus-menerus terjebak di dalamnya, tanpa pernah memberi kesempatan diri untuk benar-benar melangkah maju.
Berdamai dengan penyesalan bukan berarti berpura-pura tidak pernah merasa keliru mengambil keputusan. Ini lebih soal menerima bahwa setiap keputusan, sekecil apa pun, membawa kita pada satu dari sekian banyak kemungkinan hidup yang bisa kita jalani.
Tidak ada gunanya membandingkan hidup yang kita jalani sekarang dengan versi-versi hidup yang tidak pernah benar-benar ada. Atau bahkan dengan hidup orang lain hanya karena terlihat seperti kehidupan yang ideal di mata kita. Karena ini adalah hidupmu, bukan hidup orang lain.
Jadi, kalau hari ini Kawan GNFI kembali terjebak dalam pertanyaan "what if", mungkin pertanyaan yang lebih layak untuk ditanyakan bukan 'Apa yang seharusnya aku pilih dulu?', tapi 'Apa yang kupilih sekarang, dengan hidup yang kujalani saat ini?'
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


