bukan jalan kaki atau lari apa itu slow jogging kenali manfaatnya - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Jalan Kaki atau Lari: Apa Itu Slow Jogging? Kenali Manfaatnya

Bukan Jalan Kaki atau Lari: Apa Itu Slow Jogging? Kenali Manfaatnya
images info

Slow Jogging | Unsplash


Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan aktivitas olahraga dan munculnya tren pelari kalcer, mulai dari pace, pakaian, rute, dan foto dengan pose yang unik. Namun, Kawan GNFI perlu tahu bahwa ada juga fenomena slow jogging. Sekilas tampak seperti orang berjalan dan tapi tidak mengejar kecepatan.

Langkahnya kecil, ritmenya santai, dan pelaku bergerak lebih ringan. Sebenarnya mereka sedang berlari walaupun metode olahraganya dengan kecepatan rendah dan ritme yang nyaman. Bernapas lebih mudah dan tidak terengah-engah serta bisa dilakukan sembari tersenyum.

Tidak ada tuntutan untuk menjadi yang tercepat. Fokusnya justru pada bagaimana seseorang dapat terus bergerak tanpa membuat tubuh merasa terlalu terbebani. Konsep inilah yang membuat slow jogging kembali menarik perhatian, termasuk di Korea Selatan dan berbagai negara lainnya.

Berasal dari Jepang

Meski belakangan banyak diperbincangkan sebagai tren olahraga dari Korea, slow jogging sebenarnya berasal dari Jepang. Metode ini dikembangkan oleh Hiroaki Tanaka, seorang ahli fisiologi olahraga dari Fukuoka University.

Tanaka memperkenalkan konsep berlari dengan intensitas rendah yang dikenal sebagai niko-niko pace. Dalam bahasa Jepang, niko-niko berarti tersenyum.

Istilah tersebut menggambarkan kecepatan berlari yang memungkinkan seseorang tetap dapat tersenyum dan berbicara dengan nyaman tanpa mengalami kelelahan berlebihan.

Dengan prinsip tersebut, slow jogging tidak menempatkan kecepatan sebagai tujuan utama. Pelari justru dianjurkan menemukan ritme yang sesuai dengan kemampuan tubuh. Langkah dibuat lebih pendek dan ringan, sementara intensitas dijaga agar tetap nyaman.

baca juga

Kembali Populer di Korea Selatan

Konsep slow jogging kemudian berkembang ke berbagai negara, salah satunya Korea Selatan. Menurut laporan Korea JoongAng Daily, komunitas slow jogging di Korea mulai berkembang sejak pertengahan 2010-an. Korea Slow Jogging Association bahkan telah berdiri sejak 2016.

Dalam perkembangannya, slow jogging tidak hanya menjadi aktivitas olahraga, tetapi juga berkembang menjadi kegiatan komunitas. Orang-orang melakukannya bersama sambil menikmati suasana sekitar, sehingga olahraga terasa lebih santai dan tidak terlalu kompetitif.

Popularitasnya kembali meningkat ketika slow jogging mulai banyak muncul di media sosial. Langkah kecil dan ritme santai membuat metode ini terlihat sederhana serta mudah diikuti. Dari sinilah slow jogging kemudian menarik perhatian masyarakat yang mungkin selama ini menganggap olahraga lari terlalu berat.

Bukan Sekadar Berlari Lebih Pelan

Jika melihat sekilas, slow jogging memang terlihat seperti jogging biasa yang dilakukan dengan kecepatan lebih rendah. Namun, konsep ini memiliki penekanan tersendiri pada intensitas dan teknik.

Salah satu cirinya adalah langkah yang pendek dan ringan. Pelari tidak perlu memaksakan langkah panjang atau berusaha mengejar kecepatan tertentu. Tubuh diupayakan rileks agar bertahan dalam waktu yang lebih lama tanpa cepat merasa kelelahan.

Prinsip niko-niko pace menjadi salah satu cara sederhana untuk mengenali intensitas tersebut. Jika seseorang masih mampu berbicara dengan cukup nyaman ketika berlari, intensitasnya kemungkinan masih berada pada tingkat yang relatif ringan.

Apa Manfaat Slow Jogging?

Penelitian Tanaka dan Jackowska (2019) telah melihat manfaat latihan berintensitas rendah, termasuk slow jogging. Salah satunya penelitian selama 12 minggu yang melibatkan orang lanjut usia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa program slow jogging dapat meningkatkan kapasitas aerobik dan kemampuan melakukan gerakan duduk-berdiri.

Penelitian yang sama juga menemukan perubahan pada komposisi tubuh, termasuk penurunan lemak subkutan dan lemak yang berada di antara otot. Temuan tersebut menunjukkan bahwa latihan dengan intensitas rendah tetap dapat memberikan stimulus bagi kebugaran tubuh apabila dilakukan secara rutin.

Namun, kondisi tubuh, usia, kebiasaan olahraga, durasi latihan, serta intensitas aktivitas tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

baca juga

Cocok untuk Siapa?

Salah satu daya tarik slow jogging adalah sifatnya yang relatif mudah didekati. Bagi orang yang baru ingin mulai berolahraga, metode ini dapat menjadi salah satu pilihan untuk membangun kebiasaan bergerak secara bertahap. Jika tertarik, Kawan GNFI juga bisa bergabung dengan komunitas Slow Jogging Indonesia yang dapat diakses melalui Instagram atau Facebook.

Slow jogging juga dapat menjadi alternatif bagi mereka yang kurang nyaman dengan olahraga lari berintensitas tinggi. Alih-alih langsung mengejar jarak atau kecepatan, seseorang dapat lebih dulu membiasakan tubuh bergerak dengan ritme yang ringan dan konsisten.

Meski demikian, slow jogging bukan berarti bebas dari risiko cedera. Orang yang belum terbiasa berolahraga sebaiknya memulai secara bertahap. Pemanasan, pemilihan permukaan yang sesuai, penggunaan alas kaki yang nyaman, serta kemampuan mengenali batas tubuh tetap penting.

Bagaimana Cara Melakukannya?

Tidak ada keharusan untuk langsung berlari dalam jarak jauh ketika mencoba slow jogging. Mulailah dengan berjalan kaki sebagai pemanasan, kemudian tingkatkan menjadi lari ringan dengan langkah pendek.

Pertahankan ritme yang membuat napas tetap terkendali. Jangan terlalu fokus pada angka di smartwatch. Jika masih dapat berbicara dengan nyaman tanpa terengah-engah, intensitas tersebut dapat menjadi salah satu patokan sederhana.

Durasi latihan juga dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh. Pemula bisa memulai dengan kombinasi berjalan dan slow jogging, kemudian secara perlahan meningkatkan durasi lari ketika tubuh sudah mulai terbiasa.

Pelan Bukan Berarti Tidak Bermanfaat

Kemunculan kembali slow jogging memberikan perspektif menarik tentang bagaimana olahraga seharusnya dilakukan. Lari tidak selalu harus identik dengan kecepatan, jarak, atau kompetisi. Tidak harus lima kilometer, bergerak selama 20-30 menit juga sudah menjadi langkah besar yang baik.

Sebab, dalam olahraga, terkadang bukan soal seberapa cepat kita sampai, melainkan tentang bagaimana kita membuat tubuh tetap bergerak.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

EC
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.